Lembayung senja mulai menampakkan keindahannya. Jingga, kuning, putih...., parade warna yang memesona. Satu pemandangan yang langka aku dapatkan. Aku senang berada di sini. Berada di alam bebas, tidak seperti tempat tinggalku biasanya. Menikmati lazuardi yang indah di atas sana, hati terasa damai. Sebuah pesona luar biasa hasil karya Sang Maha Pencipta. Sebuah karya seni yang tak akan bisa ditandingi sekelas pelukis dunia sekali pun. Hmmm... pemandangan ini membuatku lupa akan nasibku. Ketika mulut sedang berdzikir syahdu, tak henti-hentinya mulut melafazkan hamdallah, tiba-tiba aku dikagetkan suara orang yang berlari, dan....
“Bruk....”
“Argh.... bumi terasa berputar, badan terasa remuk, tulang sendi terasa patah. Badan raksasa siapa ini, huacih.... ehm bau asem tidak enak, seperti bau asem apa ya? Aku baru ingat, bau asem keringat! Selain bau asem, rasa asin juga terasa oleh lidahku. Ya walaupun lidahku berbeda dengan bocah yang tubuhnya menimpaku. Tapi setidaknya tubuhku terbungkus rapi dan tidak pernah berkeringat seperti bocah itu. Ya sudahlah apa mau dikata, toh sepertinya bocah itu tidak sengaja menimpaku. Seandainya dia tahu aku ini sedang kebingungan, kira-kira apakah dia bisa bantu? Mimpi kali ya, bagaimana aku mengutarakan keinginanku padanya?
Mulutku bicara, tapi dia tidak mendengar. Apakah dia tidak mendengar ucapanku? Atau pura-pura tidak mendengar? Kukumpulkan kekuatanku agar suaraku terdengar olehnya. Ah sia-sia! Nampaknya dia sedang asyik bermain dengan temannya.
“Percuma saja engkau teriak-teriak minta tolong pada bocah itu. Dia tidak mendengarmu dan tidak mengerti bahasamu.” Angin menyapa dan berbisik di telingaku.
“Angin.... sungguh engkau juga tidak mengerti perasaanku! Apakah engkau bisa menolongku?”
“Menolong? Menolong bagaimana? Kamu itu pintar. Aku yakin kamu bisa. Janganlah kau merendah!”
“Setidaknya kau bisa menenangkanku. Aku mohon, bantulah aku agar bocah itu mau menolongku. Setidaknya membawaku ikut ke rumahnya untuk sementara waktu.”
“Sudahlah pasrah saja. Sabar sampai nanti ada orang yang mau menolongmu.”
“Sampai kapan aku harus bersabar?”
“Sampai kapan pun, sampai Sang Khalik menggerakkan seseorang yang mau menolongmu.”
“Bijak sekali kata-katamu. Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak berada di posisiku. Sabar itu ada batasnya. Semut saja kalau terus-menerus diinjak, dia akan menggigit.”
“Nah itulah pendapatmu yang salah tentang sabar. Coba kamu belajar lagi tentang ilmu sabar kepada temanmu. Kau sangat beruntung, di sekitarmu semuanya orang pintar. Sabar itu tanpa batas, teman! Sudahlah aku mau jalan-jalan sambil menyapa penduduk bumi di penghujung senja. Sabar ya!”
“Baiklah.... terima kasih kau sudah menjadi temanku.”
Tes... tes... tes... air mataku meleleh diikuti senja yang mulai tenggelam. Raja siang nampak lelah dan meminta tolong dewi malam untuk menggantikannya. Namun sayang dewi malam kali ini tidak bersahabat denganku. Ia nampak pelit dan itu terbukti dengan hanya menampakkan dirinya sebentuk sabit. Apakah mereka mengerti perasaanku yang kesepian? Di mana teman-temanku? Oh, betapa teganya mereka.
Aku menyesal tadi tidak memegang rak erat-erat. Coba aku kuat memegang rak, tidak akan seperti ini kejadiannya. Yah sudahlah, aku hanya berdoa semoga malam ini langit tidak menangis, sehingga tubuhku tidak basah. Bahaya, kalau langit menangis, berapa hari aku harus berjemur berhadapan dengan raja siang yang super tega. Belum lagi tubuhku akan tidak enak dipandang. Badanku keriput, orang-orang akan memandangku sebelah mata. Pastinya, mereka akan memilih teman-temanku akan menjadi incarannya. Aku rapi dan bersih saja belum tentu orang-orang mau berbicara denganku, apalagi aku kotor dan keriput. Ih, serem... jangan sampai itu terjadi padaku. Cukuplah rasa dingin yang baru pertama kali aku rasakan di alam terbuka ini menjadi uji nyali. Yah anggap saja aku sedang kemping. Jarang-jarang aku bisa kemping, seperti anak pramuka saja. He... he...
Angin masih mondar-mandir menghampiriku. Dia menyapaku, namun aku diam tak bergeming. Benar katanya, aku harus bersabar. Aku sadar ini memang salahku. Hari ini aku merasa sangat tidak berguna.
***
