Kamis, 09 Juli 2020

Petualangan Merah Muda

Lembayung senja mulai menampakkan keindahannya. Jingga, kuning, putih...., parade warna yang memesona. Satu pemandangan yang langka aku dapatkan. Aku senang berada di sini. Berada di alam bebas, tidak seperti tempat tinggalku biasanya. Menikmati lazuardi yang indah di atas sana, hati terasa damai. Sebuah pesona luar biasa hasil karya Sang Maha Pencipta. Sebuah karya seni yang tak akan bisa ditandingi sekelas pelukis dunia sekali pun. Hmmm... pemandangan ini membuatku lupa akan nasibku. Ketika mulut sedang berdzikir syahdu, tak henti-hentinya mulut melafazkan hamdallah, tiba-tiba aku dikagetkan suara orang yang berlari, dan....

“Bruk....”

“Argh.... bumi terasa berputar, badan terasa remuk, tulang sendi terasa patah. Badan raksasa siapa ini, huacih.... ehm bau asem tidak enak, seperti bau asem apa ya? Aku baru ingat, bau asem keringat! Selain bau asem, rasa asin juga terasa oleh lidahku. Ya walaupun lidahku berbeda dengan bocah yang tubuhnya menimpaku. Tapi setidaknya tubuhku terbungkus rapi dan tidak pernah berkeringat seperti bocah itu. Ya sudahlah apa mau dikata, toh sepertinya bocah itu tidak sengaja menimpaku. Seandainya dia tahu aku ini sedang kebingungan, kira-kira apakah dia bisa bantu? Mimpi kali ya, bagaimana aku mengutarakan keinginanku padanya? 

Mulutku bicara, tapi dia tidak mendengar. Apakah dia tidak mendengar ucapanku? Atau pura-pura tidak mendengar? Kukumpulkan kekuatanku agar suaraku terdengar olehnya. Ah sia-sia! Nampaknya dia sedang asyik bermain dengan temannya. 

“Percuma saja engkau teriak-teriak minta tolong pada bocah itu. Dia tidak mendengarmu dan tidak mengerti bahasamu.” Angin menyapa dan berbisik di telingaku.

“Angin.... sungguh engkau juga tidak mengerti perasaanku! Apakah engkau bisa menolongku?”

“Menolong? Menolong bagaimana? Kamu itu pintar. Aku yakin kamu bisa. Janganlah kau merendah!”

“Setidaknya kau bisa menenangkanku. Aku mohon, bantulah aku agar bocah itu mau menolongku. Setidaknya membawaku ikut ke rumahnya untuk sementara waktu.”

“Sudahlah pasrah saja. Sabar sampai nanti ada orang yang mau menolongmu.”

“Sampai kapan aku harus bersabar?”

“Sampai kapan pun, sampai Sang Khalik menggerakkan seseorang yang mau menolongmu.”

“Bijak sekali kata-katamu. Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak berada di posisiku. Sabar itu ada batasnya. Semut saja kalau terus-menerus diinjak, dia akan menggigit.”

“Nah itulah pendapatmu yang salah tentang sabar. Coba kamu belajar lagi tentang ilmu sabar kepada temanmu. Kau sangat beruntung, di sekitarmu semuanya orang pintar. Sabar itu tanpa batas, teman! Sudahlah aku mau jalan-jalan sambil menyapa penduduk bumi di penghujung senja. Sabar ya!”

“Baiklah.... terima kasih kau sudah menjadi temanku.”

Tes... tes... tes... air mataku meleleh diikuti senja yang mulai tenggelam. Raja siang nampak lelah dan meminta tolong dewi malam untuk menggantikannya. Namun sayang dewi malam kali ini tidak bersahabat denganku. Ia nampak pelit dan itu terbukti dengan hanya menampakkan dirinya sebentuk sabit. Apakah mereka mengerti perasaanku yang kesepian? Di mana teman-temanku? Oh, betapa teganya mereka. 

Aku menyesal tadi tidak memegang rak erat-erat. Coba aku kuat memegang rak, tidak akan seperti ini kejadiannya. Yah sudahlah, aku hanya berdoa semoga malam ini langit tidak menangis, sehingga tubuhku tidak basah. Bahaya, kalau langit menangis, berapa hari aku harus berjemur berhadapan dengan raja siang yang super tega. Belum lagi tubuhku akan tidak enak dipandang. Badanku keriput, orang-orang akan memandangku sebelah mata. Pastinya, mereka akan memilih teman-temanku akan menjadi incarannya. Aku rapi dan bersih saja belum tentu orang-orang mau berbicara denganku, apalagi aku kotor dan keriput. Ih, serem... jangan sampai itu terjadi padaku. Cukuplah rasa dingin yang baru pertama kali aku rasakan di alam terbuka ini menjadi uji nyali. Yah anggap saja aku sedang kemping. Jarang-jarang aku bisa kemping, seperti anak pramuka saja. He... he...

Angin masih mondar-mandir menghampiriku. Dia menyapaku, namun aku diam tak bergeming. Benar katanya, aku harus bersabar. Aku sadar ini memang salahku. Hari ini aku merasa sangat tidak berguna. 



***



Suara langkah sepatu, mengagetkanku sampai-sampai mata yang awalnya sudah lima watt menjadi terang kembali. Tok... tok... tok... suara langkah itu bergantian memainkan melodi indah, seindah harapku agar tuan yang memakai sepatu itu mengerti isi hatiku dan membawaku pulang ke rumahnya. Siapa tahu di rumahnya ada teman-temanku. Jantungku semakin berdegup kencang saat sepatu itu semakin mendekat. Kukumpulkan semua kekuatanku untuk teriak minta tolong. Aha! Sepatu itu menoleh padaku. Namun sebersit harapan yang mulai mucul kembali kandas. Betapa tidak, aku benci cara sepatu itu memandangku. Pandangan yang penuh keangkuhan. Inilah dunia, tidak semuanya bisa bersahabat dengan kita. Kalaupun ada, kadang mereka ada maunya. Mungkin pendapatku salah, karena hatiku sedang kacau.

Aku berharap tuan pemilik sepatu itu tertarik padaku. Seorang pria bertubuh gagah memakai dasi dan jas hitam. Di tangannya sebuah tas kerja meronta kedinginan. Nasibnya mirip denganku, bedanya dia tidak terlantar. Pria itu tertegun memperhatikanku, namun matanya berpaling ketika androidnya berdering. Pria itu sibuk berbincang, entah dengan siapa yang jelas dia nampak serius. Perhatian sesaat itu pun menghilang seiring dengan langkah kaki terburu-buru. 

“Argh... lagi-lagi aku kecewa. Sampai kapan ini. Bulan sabit tersenyum, angin prihatin menatapku. Seandainya waktu bisa kembali, aku memilih untuk mengulangi petualanganku hari ini. Petualang ini bermula, ketika aku dipindahkan dari sebuah ruangan besar, tempatku dipajang. Diantara tumpukan rak-rak yang berjejer rapi, aku dan ratusan temanku dipindahkan ke sebuah mobil bertuliskan “Perpustakaan Keliling.”

Betapa bahagianya aku dan teman-temanku, karena selain bisa merasakan atmosfer yang berbeda, kami akan bertemu dengan banyak orang. Perjalanan tadi pagi merupakan pengalaman yang langka bagiku. Aku rasa teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Aku rela walaupun harus berdesak-desakkan dengan mereka, yang penting aku bisa jalan-jalan, berputar-putar mengelilingi tempat di kota ini. Setidaknya impianku untuk mengelilingi dunia dimulai dari hari ini, memutari kota. Ya, walaupun kota kecil di Jawa Barat, Subang tepatnya. 




***

Perjalanan pertama dimulai. Kami mengunjungi Kecamatan Jalancagak. Aku dan teman-teman sangat senang bertemu dengan anak-anak berseragam merah putih. Temanku langsung bercerita dengan salah satu di antara mereka. Aku diam saja, memperhatikan sekitar. Kebun-kebun yang penuh dengan buah nanas melambai. Kuning, hijau tua, hijau muda berbaur di satu buah. Ehm... perpaduan warna yang kontras dan pas. Liurku hampir menetes, walaupun raja siang baru tersenyum, aku sangat ingin mencoba buah yang satu ini. Maklum di tempat asalku, di sebuah ruangan yang semuanya sebangsa denganku, tidak pernah menemukan buah sesegar ini. Namun sayang, aku tidak bisa menikmati buah khas ini. Aku tahu diri. 

Saat lamunanku mengangkasa, membayangkan betapa segarnya buah nanas, sebuah tangan mungil menyentuhku. Aku dibawanya ke sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu. Setelah sebelumnya anak perempuan berwajah ayu itu membawaku sebuah meja. Namaku dicatat. Betapa senangnya aku mendapat sebuah pengakuan. Buktinya tuanku mencatat namaku di daftar kertas anak itu. 

Ayu namanya. Sesuai dengan kecantikan wajahnya. Dengan wajah berseri, dia mulai mengajakku bicara. Tanpa sungkan aku bercerita. Ya, cerita yang ada dalan tubuhku. Kadang dia tertawa, kadang meringgis seperti menahan sakit, sesekali dia menangis. Seorang gadis yang ekspresif! Aku senang bercerita dengannya. Tidak terasa 10 cerita aku bagi dengannya. Namun, rasa senang itu harus berubah menjadi sedih saat tangan mungil berwajah ayu itu mengembalikanku ke tuanku. Tuanku menyimpanku lagi di rak semula. Teman-temanku menyambutku dengan sumringah. 

“Mengapa kau bersedih? Bukankah anak kecil yang mengajakmu bicara sangat menyenangkan?” ucap temanku yang berbaju hijau.

“Justru itu, bagaimana aku tidak sedih harus berpisah dengannya. Dan tidak ada jaminan kan kalau suatu saat akan bertemu lagi dengannya. Mungkin, kalau bertemu lagi juga, dia akan bosan dengan ceritaku.”

“Sudahlah, jangan terlalu diambil pusing. Ayo kita bersenang-senang. Perjalanan belum usai. Tenang, baru satu desa di kecamatan ini kita kunjungi. Masih banyak orang yang harus kita temui.” Ujar si Ungu menghiburku. 

Sopir langsung tancap gas. Dengan penuh semangat dan wajah berseri dia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Teman-temanku bernyanyi. Tuanku merapikan kartu-kartu yang sudah digunakan di desa yang baru saja kulalui. 




***




Tiba-tiba pak sopir memberhentikan mobil dan memarkirnya di sebuah SD dekat sebuah gedung. “Desa Cisalak” begitu tulisan yang terbaca olehku di sebuah papan putih yang terletak di depan gedung itu. Segerombolan anak-anak yang masih berseragam merah putih menyerbu mobil kami. Tuanku hampir gelagapan diserbu anak yang sangat bersemangat. 

“Hati-hati, ya... Berbaris dengan rapi. Nanti semua pasti kebagian. Pilih buku, terus daftar ke sini. Ucap Tuanku mengondisikan mereka.”

Aha! Tangan mungil berwajah cantik langsung meraihku. Aku sangat senang karena tidak perlu menunggu. Si Merah, Ungu, dan temanku yang lain sedang menunggu giliran untuk diajak bercerita. Aku sungguh beruntung, apakah karena warnaku merah muda? Ah aku tak peduli, yang penting sesaat aku bisa melupakan Ayu. 

***




Tid...tid... tid...

Suara klakson membuyarkan lamunanku. Tanpa kusadari, teman-temanku sudah berada di sisiku. Ungu, Hijau, dan temanku yang lain sedang duduk melepas lelah di rak mobil ini. Baru saja ingatanku berkumpul, tiba-tiba....

Meong... meong....

Seekor anak kucing menyeberang jalan tanpa lihat kanan-kiri. Pak sopir langsung mengerem mendadak. Dan bugh... aku terlempar dan terdampar di pinggir jalan. Ungu, Hijau berteriak memanggilku. Aku terkapar dan tidak sadarkan diri.




***

Wangi aroma nasi goreng membuat perutku menari-nari. Amboi... wangi sekali! Namun, sayang lagi-lagi aku tidak bisa menikmatinya. Aku tahu diri. Sebuah kuda besi berhenti. Sepasang suami istri dan anak perempuan turun. mereka langsung duduk. Kulihat mereka berbicara dengan bapak pedagang nasi goreng. Ketiga orang itu berbicara sambil sesekali melihat ke sekitar. Aku berharap anak perempuan itu melihatku. 

Hai, gadis kecil sini! Batinku. Percuma saja aku panggil dia. Dia tidak akan mendengarku. Semoga hatinya tergerak mendekatiku. Aku kedinginan. Untung saja tuanku membungkusku dengan plastik. Setidaknya aku jadi tahu, selain untuk melindungiku dari debu dan tidak cepat rusak, aku jadi tidak begitu kedinginan. Ayo nona manis, sini! Geramku. Aku sangat berharap. Apa yang yang bisa membuatnya menghampiriku. Laba-laba yang ada di atas pohon dekat denganku tiba-tiba menghampiriku. 

“Mengapa kau bersedih?”

“Aku tidak kuat lagi tinggal di sini. Bisakah kau menolongku?”

“Bagaimana caranya? Tubuhmu terlalu berat untuk kuangkat.”

“Ajaklah gadis kecil di bangku sana untuk menghampiriku. Aku yakin kalau dia mendekatiku, pasti dia mau membawaku dan bercerita denganku.”

“Kamu yakin?”

“Iya, aku sangat yakin. Dari pengalamanku siang tadi, itu sudah membuktikan dua orang gadis kecil tertarik padaku.” Ujarku penuh percaya diri. 

“Baiklah akan aku coba”

Laba-laba itu turun perlahan dari rumahnya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah,.... Ah, lambat sekali laba-laba itu berjalan. Aku tidak kuat kedinginan. Ah, biarlah aku harus bersabar. Biarlah semoga nasib baik berpihak padaku. Angin yang dari senja mondar-mandir menyapaku kembali.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Aku kira tanpa aku bercerita padamu, kau sudah bisa lihat kondisiku. Aku kedinginan sekarang.”

“Sayang aku tidak bisa bantu. Tubuhmu terlalu berat untuk kuangkat. Atau kucoba dulu ya?”

“Terima kasih sebelumnya. Aku hargai pertolonganmu. Antarkan aku ke tempat anak kecil itu duduk.”

“Baiklah.”

Dengan penuh lemah lembut, Angin meniupku. Kalau begini caranya, kapan aku bisa sampai ke anak kecil itu.

“Sabar, sedikit demi sedikit kau akan sampai.” Ucap Angin optimis.

“Bagimana akan sampai, tubuhku tidak bergeser sedikit pun. Malah rasa dingin yang semakin parah.”

“Tenang, aku akan cari bantuan teman-temanku untuk menyatukan kekuatan agar kau bisa mendekati gadis kecil itu.”

Angin pergi lagi meninggalkanku sendiri. Mataku tertuju pada laba-laba. Tak terasa laba-laba tinggal satu meter lagi mendekati gadis itu. Aku tersenyum. Rasa pesimisku berubah menjadi optimis. 

Siut...

Angin datang bersama teman-temannya. Mereka nampak lebih banyak. Melihat mereka aku jadi takut. Jangan-jangan aku akan terlempar seperti tadi siang sampai tak sadar. 

“Tenang, kau jangan khawatir, kami profesional... He...he,” Sahut Angin.

“Ok, ayo angkat aku!”

Siut....siut... siut

Brugh....

Argh.... Badanku serasa remuk kembali. Bagaimana ini? aku malah terlempar jauh dari gadis kecil. Harapanku semakin menipis. 

“Terima kasih Angin!” Batinku. 

Biarlah malam ini aku tidur di taman dekat trotoar ini. 




***

Udara dingin berganti hangat. MasyaAlloh.... ternyata mentari sedang bertugas. Senyumnya optimis menularkan rasa itu kepada semua orang yang ada di bumi ini, termasuk aku. Di mana aku? Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang memakai seragam PNS, guru, putih biru, putih abu, merah putih.... Aha! Siapa gerangan itu? Aku ingat ini dia orang yang aku cari. Ayu! Ya, Ayu orang yang kurindukan dari kemarin. Gadis mungil berwajah ayu itu sedang berjalan di trotoar dekat taman, tempatku tidur semalam. Ayu! Ayu! Kerongkonganku kering memanggil namanya. 

Entah kekuatan apa yang menggerakkan, tapi aku yakin ini pertolongan Illahi. Tiba-tiba Ayu menghampiriku.

“Merah muda? Mengapa kau ada di sini? Bukankah kau kemarin ikut bersama teman-temanmu?”

“Oh, Ayu....!” Aku serasa mimpi. Kucubit pipiku, Aw... sakit! berarti ini bukan mimpi. Ini kenyataan.

“Mengapa kau ada di sini?” Tanya mulut mungilnya.

“Ah, ceritanya panjang. Kau mau ke sekolah?”

“Iya, aku beragkat ke sekolah. Kau ikut saja denganku.”

“Aha! Itu yang aku mau. Terima kasih Ayu!”

“Kau tahu Merah muda? Aku selalu ingat ceritamu. Teruslah kau bercerita pada banyak orang. Aku juga ceritakan kisahmu pada ibuku. Ibuku senang aku membacamu.”

“Oh, benarkah?”

“Iya, karena dengan mendengarkan kisahmu, aku jadi semakin sayang pada orang tuaku. Selain itu, aku semakin sopan, katanya.”

“Aku senang mendengarnya. Dari sepuluh kisahku, ternyata sangat berarti bagimu. Aku semakin bersemangat untuk terus bercerita. Ya, cerita-cerita untuk anak yang penuh makna. Cerita yang mengajarkan arti kejujuran, sopan santun, budi pekerti, dan banyak lagi.”

“Aku berterima kasih padamu. Sebagai rasa terima kasihku....




Tid... tid... tid... 

Suara klakson mengagetkanku dan Ayu. Sebuah mobil bertulis “Perpustakaan Keliling” berada tepat di depanku dan Ayu. Wajahku berseri. Teman-temanku nampak kaget dan senang. Mereka tidak menyangka bisa bertemu lagi denganku.

“Sebagai rasa terima kasihku, aku kembalikan lagi kamu agar selalu dekat dengan teman-temanmu.” Ucap Ayu terbata-bata.

Air mata meleleh... Begitupun denganku. Aku akan selalu merindukanmu, Ayu! 
Angin, mentari tersenyum bahagia melihat kami. Ayu aku ingin selalu bercerita denganmu.




***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar