KAJIAN STILISTIKA PADA PUISI
“SYUKUR DAN ILMU” KARYA ANDAM DEWI
Oleh
Aan Kartini
SYUKUR
DAN ILMU
Oleh Andam Dewi
F.U.
Belajarlah …
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak
henti berputar
Dan dari semua
yang ada di semesta ini
Belajarlah!!!
Maka kau akan
tahu…
Akan segala ilmu…
Janganlah engkau
pandang bulu…
Karena belajar tak
kenal malu…
Sekalipun anak
kecil yang mengajarimu
Lihatlah mawar
Yang menyebarkan
wanginya
Pada siapa saja…
Pada orang yang
menyakitinya
Pada orang yang
merusaknya
Pada orang yang merawatnya
Rasakanlah udara …
Yang telah banyak
berjasa
Memberi kehidupan
pada manusia
Namun tak pernah
memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas memberi
kehidupan pada siapa saja
Dan aku juga
belajar
Dari mereka…
Anak-anak yang
sudah tak punya orang tua
Namun tetap
semangat menjalani hidupnya
Anak yang tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
Itulah mereka
Kala Ramadan tiba
Mereka
menyambutnya dengan suka cita
Walaupun tiada
ayah dan bunda sebagai teman sahur
Dan berbuka
mereka…
Aku ingin belajar…
Untuk tumbuh bagai
pelangi…
Yang warna-warni
bagai mentari
Yang menyinari
bumi
Bagai
teman-temanku
Yang kini sendiri
Namun tak pernah
sepi
Dan bersedih hati
Secara
kongkret, berusaha memahami puisi merupakan suatu upaya dalam bentuk apresiasi
puisi, antara lain menikmati, memahami, dan kegiatan ekspresi. Ketiga kegiatan
tersebut harus dikuasai oleh siswa sebagai bentuk nyata siswa telah
mengapresiasi puisi. Namun demikian hal itu tidaklah mudah.
Sebagai
karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia serta lingkungannya, puisi
sangat menarik untuk dikaji, dan kemudian dipahami agar dapat mengambil pesan
yang terdapat di dalamnya. Banyak hal yang dapat diamati, seperti gaya
bahasanya, unsur yang membangun puisi itu, sekaligus sebagai gaya pengungkapan
dalam puisi itu sendiri. Salah satu bentuk kajian yang dapat dilakukan adalah kajian Stilistika.
Puisi
dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan yang berupa sistem, semua
unsurnya sebagai satu kesatuan, baik dari segi struktur fisik meliputi:
diksi (diction),
pencitraan, kata konkrit (the
concreat word), majas (figurative
language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme adn rytem),
dan struktur bathin meliputi: perasaaan (feeling),
tema (sense),
nada (tone),
dan amanat (attention).
Seperti yang terdapat dalam teori Ganzheit, suatu karya sastra adalah
suatu yang utuh dan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, serta yang datang kepada
pembaca secara utuh pula.
SYUKUR
DAN ILMU
Oleh Andam Dewi
F.U.
Belajarlah …
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak
henti berputar
Dan dari semua
yang ada di semesta ini
Belajarlah!!!
Maka kau akan
tahu…
Akan segala ilmu…
Janganlah engkau
pandang bulu…
Karena belajar tak
kenal malu…
Sekalipun anak
kecil yang mengajarimu
Lihatlah mawar
Yang menyebarkan
wanginya
Pada siapa saja…
Pada orang yang
menyakitinya
Pada orang yang
merusaknya
Pada orang yang
merawatnya
Rasakanlah udara …
Yang telah banyak
berjasa
Memberi kehidupan
pada manusia
Namun tak pernah
memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas memberi
kehidupan pada siapa saja
Dan aku juga
belajar
Dari mereka…
Anak-anak yang
sudah tak punya orang tua
Namun tetap
semangat menjalani hidupnya
Anak yang tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
Itulah mereka
Kala Ramadan tiba
Mereka
menyambutnya dengan suka cita
Walaupun tiada
ayah dan bunda sebagai teman sahur
Dan berbuka
mereka…
Aku ingin belajar…
Untuk tumbuh bagai
pelangi…
Yang warna-warni
bagai mentari
Yang menyinari
bumi
Bagai
teman-temanku
Yang kini sendiri
Namun tak pernah
sepi
Dan
bersedih hati
Puisi
diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’ karena lewat puisi pada dasarnya seorang
telah menciptakan suatu dunia
tersendiri yang mungkin berisi
pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Hudson
dalam Aminuddin mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang
menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan
imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam
menggambarkan gagasan pelukisnya.
Dari
gaya penulisannya, penulis mencoba berpesan kepada pembaca untuk mengajak kepada hal yang
bersifat umum, yaitu belajar segala sesuatu yang ada di alam semesta pada bait
pertama, kemudian pada bait kedua yang memaparkan pentingnya menuntut ilmu dan
syaratnya
Ditinjau
dari bentuk dan isinya puisi di atas termasuk puisi didaktik, yaitu puisi yang
mengandung nilai-nilai kependidikan. Hal tersebut nyata, tercantum merata di
setiap baitnya, yang dibuka penulis lewat bait pertama dan kedua:
Belajarlah
…
Dari
sang Surya…
Dari
sang waktu …
Dari
roda yang tak henti berputar
Dan
dari semua yang ada di semesta ini
Belajarlah!!!
Maka
kau akan tahu…
Akan
segala ilmu…
Janganlah
engkau pandang bulu…
Karena
belajar tak kenal malu…
Sekalipun
anak kecil yang mengajarimu
Kedua
bait tersebut berisi pesan untuk belajar tentang segala hal. Dikonkretkan
penulis pada bait pertama yang menyuruh belajar
dari sang surya, dari sang waktu, dari sang roda dan semua yang ada di semesta
ini. Di bait kedua ini, penulis menegaskan dua hal . Pertama, agar tetap
belajar karena dengan belajar akan menjadi tahu semua tentang ilmu. Kedua
syarat seorang penimba ilmu, diantaranya jangan pandang bulu, tidak malu, dan
menerima ilmu dari siapapun, termasuk anak kecil.
Pada
bait ketiga, penulis mengajak pembaca untuk belajar pada sekuntum mawar, di
mana mawar selalu menebarkan wangi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Hal tersebut tampak pada bait berikut ini.
Lihatlah
mawar
Yang
menyebarkan wanginya
Pada
siapa saja…
Pada
orang yang menyakitinya
Pada
orang yang merusaknya
Pada
orang yang merawatnya
Pada bait keempat,
penulis baru mengajak pembaca untuk merasakan diri sebagai udara. Di mana kata
‘udara’ ini merupakan simbol yang mengandung pesan jadilah seperti udara yang
tanpa pamrih dalam melakukan sesuatu.
Rasakanlah
udara …
Yang
telah banyak berjasa
Memberi
kehidupan pada manusia
Namun
tak pernah memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas
memberi kehidupan pada siapa saja
Dari
bait kelima sampai bait ketujuh, baru penulis mengerucutkan pesan bahwa penulis
ingin belajar kepada anak yatim, tentang ketegaran, keikhlasan dan keceriaan walaupun
mereka sudah tidak berayah.
Bangun struktur Puisi
Hal
yang menonjol dari puisi di atas ditinjau dari struktur bangun puisi yaitu
adanya unsur bunyi dan majas atau gaya bahasa yang menonjol.
Dari
unsur bunyi, dapat kita lihat pada bait kedua, dapat dilihat adanya perulangan
bunyi vokal (u) seperti tampak pada larik
kedua “Maka kau akan tahu…” dan larik keempat “Janganlah engkau pandang bulu…”
Perulangan tersebut disebut asonansi.
Lebih
lanjut, rima akhir pada bait kedua puisi
“Syukur dan Ilmu” di atas, tampak adanya
perpaduan bunyi antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan
vokal /u/ seperti tampak pada bentuk …tahu/…ilmu/…bulu/…malu.
Rima
akhir juga terdapat pada bait ketiga dan keempat. Seperti tampak pada bentuk
…wanginya/…saja/…menyakitinya/…merusaknya/…merawatnya/ di bait ketiga. Bentuk
…udara/…berjasa/…manusia/…wujudnya/…saja/ pada bait keempat.
Rima
awal terdapat pada bait
Gaya
bahasa sebagai salah satu unsur dalam puisi merupakan efek keindahan dalam
sebuah puisi, untuk mencapai nilai estetik, seperti dikatakan oleh Nyoman Kutha
bahwa gaya bahasa berkaitan dengan aspek keindahan. Gaya bahasa yang digunakan
dalam puisi “Syukur dan Ilmu” yaitu majas anafora, epifora, dan asosiasi.
Majas
anafora, yaitu pengulangan kata atau frase pada awal dua larik secara berurutan
untuk penekanan dan keefektifan bahasa. Anafora terdapat pada:
1. Bait pertama , pengulangan
kata ‘dari’
Dari sang Surya…
Dari sang waktu
…
Dari roda yang
tak henti berputar
2. Bait ketiga, pengulangan kata
‘pada’
Pada siapa saja…
Pada orang yang
menyakitinya
Pada orang yang
merusaknya
Pada orang yang
merawatnya
3. Bait kelima, pengulangan kata
‘anak’
Anak-anak yang
sudah tak punya orang tua
Namun tetap
semangat menjalani hidupnya
Anak yang
tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
4. Bait ketujuh, pengulangan kata
‘yang’
Yang warna-warni
bagai mentari
Yang menyinari
bumi
Majas
asosiasi, yaitu perbandingan yang dua hal yang hakikatnya berbeda, tetapi
dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan,
laksana, seumpama, seperti. Pada puisi
ini majas asosiasi terdapat pada bait ketujuh.
Aku
ingin belajar…
Untuk
tumbuh bagai pelangi…
Yang
warna-warni bagai mentari
Yang
menyinari bumi
Bagai
teman-temanku
Yang
kini sendiri
Namun
tak pernah sepi
Dan
bersedih hati
Majas
asosiasi secara spesifik terdapat pada larik kedua, /Untuk tumbuh bagai pelangi…/
ketiga,
/Yang warna-warni bagai mentari / dan
kelima /Yang warna-warni bagai mentari/. Pada larik tersebut majas asosiasi ditandai
dengan penggunaan kata ‘bagai’.
Daftar
rujukan :
Aminuddin.
2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
.