HANYA
SATU
Annisa
Rahmani*
Sampan terus kudayuh
Sayap terus kukepak
Kakiku tak henti menari
Otakku terus berputar
Pelabuhan demi pelabuhan
Telah aku singgahi
Tapi hanya
satu
Yang
membuatku
Haru,
terperangah
Kagum,
takjub
Sampai tak
berdaya
Dibuatnya
Daratan hijau menghampar
Biru lautnya merayu
Suara merdu nan syahdu
Menggelitik nadiku
Sampai mabuk
kepayang
Aku
dibuatnya
Indonesia …
Aku bangga memijaknya
·
Juara 1
Lomba menulis puisi Kuntum Mekar Pikiran Rakyat
tingkat SMP tahun 2009
Inilah Ia
Lintang
Siltya Utami*
Pada
bulan Januari yang dingin
Ketika rintik hujan jauh merintih
Ketika malam tak lagi gaduh
Aku duduk tertunduk di pojok kota Dago
Rembulan bagai bros perak di gaun beludur hitam itu
Kutatap lamat-lamat
Berharap seseorang kan datang padaku
Dan bertanya, “Adakah kehidupan di sana?”
Bagai labirin yang terselesaikan
Kujawab, “Tidak.”
Tak ada kelinci bulan seperti dalam legenda
Yang dengan sekali lompatan mereka
Dapat melancong dari satu planet ke planet lain
Pada bulan Januari yang dingin
Seorang pelukis pasir datang padaku
Dia bertanya tentang seluk beluk kota kembangku
Lalu kujawab, “Aku tak pandai dalam seni.”
Namun, jika kau tatap kota kembangku dengan hati nuranimu
Masihkah tak tampak olehmu pesonanya yang sebenarnya?
Aku ingat, rumah tempat tinggalku
Dengan jendela kecilnya yang berderit
Berdiri kokoh di atas bukit
Dan di antara gedung-gedung pencakar langit
Tidakkah dia begitu menawan?
Dengan sejarah 23 Maret 1946-nya yang mengagumkan
Dengan keeksotisan Paris Van Javanya
Dengan gedung satenya yang menjulang
Dengan konferensi Asia Afrikanya yang tersohor
Dan barisan bukit lembahnya yang menghijau
Pada bulan Januari yangdingin
Aku kembali pada malam itu
Menatapi cahaya lanmpu malam yang meremang
Mengikuti alunan burung hantu yang bertengger
Di salah satu dahan pinus kota Dago
Pada bulan Januari yang dingin
Aku masih meniti hari dan berjalan sebulat bumi
Berharap kan ada sebuah pertunjukan spektakuler
Dengan satu makna; inilah dia
Kota modeku
Kota kembangku dengan kuliner berjuta cita rasanya
Kota tempat tinggalku yang apa adanya
Dengan sundanya yang kental
Dan inilah perasaanku
Bandung, aku bangga memilikimu
Ketika rintik hujan jauh merintih
Ketika malam tak lagi gaduh
Aku duduk tertunduk di pojok kota Dago
Rembulan bagai bros perak di gaun beludur hitam itu
Kutatap lamat-lamat
Berharap seseorang kan datang padaku
Dan bertanya, “Adakah kehidupan di sana?”
Bagai labirin yang terselesaikan
Kujawab, “Tidak.”
Tak ada kelinci bulan seperti dalam legenda
Yang dengan sekali lompatan mereka
Dapat melancong dari satu planet ke planet lain
Pada bulan Januari yang dingin
Seorang pelukis pasir datang padaku
Dia bertanya tentang seluk beluk kota kembangku
Lalu kujawab, “Aku tak pandai dalam seni.”
Namun, jika kau tatap kota kembangku dengan hati nuranimu
Masihkah tak tampak olehmu pesonanya yang sebenarnya?
Aku ingat, rumah tempat tinggalku
Dengan jendela kecilnya yang berderit
Berdiri kokoh di atas bukit
Dan di antara gedung-gedung pencakar langit
Tidakkah dia begitu menawan?
Dengan sejarah 23 Maret 1946-nya yang mengagumkan
Dengan keeksotisan Paris Van Javanya
Dengan gedung satenya yang menjulang
Dengan konferensi Asia Afrikanya yang tersohor
Dan barisan bukit lembahnya yang menghijau
Pada bulan Januari yangdingin
Aku kembali pada malam itu
Menatapi cahaya lanmpu malam yang meremang
Mengikuti alunan burung hantu yang bertengger
Di salah satu dahan pinus kota Dago
Pada bulan Januari yang dingin
Aku masih meniti hari dan berjalan sebulat bumi
Berharap kan ada sebuah pertunjukan spektakuler
Dengan satu makna; inilah dia
Kota modeku
Kota kembangku dengan kuliner berjuta cita rasanya
Kota tempat tinggalku yang apa adanya
Dengan sundanya yang kental
Dan inilah perasaanku
Bandung, aku bangga memilikimu
*Juara
2 tingkat SMP Lomba Menulis Puisi Kuntum Mekar Pikiran Rakyat tahun 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar