Jumat, 19 Oktober 2012

Apresiasi Puisi Andam


KAJIAN STILISTIKA PADA PUISI “SYUKUR DAN  ILMU” KARYA ANDAM DEWI
Oleh Aan Kartini



SYUKUR DAN ILMU
Oleh Andam Dewi F.U.

Belajarlah …
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak henti berputar
Dan dari semua yang ada di semesta ini

Belajarlah!!!
Maka kau akan tahu…
Akan segala ilmu…
Janganlah engkau pandang bulu…
Karena belajar tak kenal malu…
Sekalipun anak kecil yang mengajarimu

Lihatlah mawar
Yang menyebarkan wanginya
Pada siapa saja…
Pada orang yang menyakitinya
Pada orang yang merusaknya
Pada orang yang merawatnya

Rasakanlah udara …
Yang telah banyak berjasa
Memberi kehidupan pada manusia
Namun tak pernah memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas memberi kehidupan pada siapa saja

Dan aku juga belajar
Dari mereka…
Anak-anak yang sudah tak punya orang tua
Namun tetap semangat menjalani hidupnya
Anak yang tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
Itulah mereka

Kala Ramadan tiba
Mereka menyambutnya dengan suka cita
Walaupun tiada ayah dan bunda sebagai teman sahur
Dan berbuka mereka…

Aku ingin belajar…
Untuk tumbuh bagai pelangi…
Yang warna-warni bagai mentari
Yang menyinari bumi
Bagai teman-temanku
Yang kini sendiri
Namun tak pernah sepi
Dan bersedih hati

Secara kongkret, berusaha memahami puisi merupakan suatu upaya dalam bentuk apresiasi puisi, antara lain menikmati, memahami, dan kegiatan ekspresi. Ketiga kegiatan tersebut harus dikuasai oleh siswa sebagai bentuk nyata siswa telah mengapresiasi puisi. Namun demikian hal itu tidaklah mudah.
Sebagai karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia serta lingkungannya, puisi sangat menarik untuk dikaji, dan kemudian dipahami agar dapat mengambil pesan yang terdapat di dalamnya. Banyak hal yang dapat diamati, seperti gaya bahasanya, unsur yang membangun puisi itu, sekaligus sebagai gaya pengungkapan dalam puisi itu sendiri. Salah satu bentuk kajian yang dapat dilakukan adalah kajian Stilistika.
Puisi dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan yang berupa sistem, semua unsurnya  sebagai satu kesatuan, baik dari segi struktur fisik meliputi: diksi (diction), pencitraan, kata konkrit (the concreat word), majas (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme adn rytem), dan struktur bathin meliputi: perasaaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (attention). Seperti yang terdapat dalam teori  Ganzheit, suatu karya sastra adalah suatu yang utuh dan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, serta yang datang kepada pembaca secara utuh pula.

SYUKUR DAN ILMU
Oleh Andam Dewi F.U.

Belajarlah …
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak henti berputar
Dan dari semua yang ada di semesta ini

Belajarlah!!!
Maka kau akan tahu…
Akan segala ilmu…
Janganlah engkau pandang bulu…
Karena belajar tak kenal malu…
Sekalipun anak kecil yang mengajarimu

Lihatlah mawar
Yang menyebarkan wanginya
Pada siapa saja…
Pada orang yang menyakitinya
Pada orang yang merusaknya
Pada orang yang merawatnya

Rasakanlah udara …
Yang telah banyak berjasa
Memberi kehidupan pada manusia
Namun tak pernah memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas memberi kehidupan pada siapa saja

Dan aku juga belajar
Dari mereka…
Anak-anak yang sudah tak punya orang tua
Namun tetap semangat menjalani hidupnya
Anak yang tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
Itulah mereka

Kala Ramadan tiba
Mereka menyambutnya dengan suka cita
Walaupun tiada ayah dan bunda sebagai teman sahur
Dan berbuka mereka…

Aku ingin belajar…
Untuk tumbuh bagai pelangi…
Yang warna-warni bagai mentari
Yang menyinari bumi
Bagai teman-temanku
Yang kini sendiri
Namun tak pernah sepi
Dan bersedih hati

Puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’ karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia  tersendiri  yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Hudson dalam Aminuddin mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Dari gaya penulisannya, penulis mencoba berpesan kepada  pembaca untuk mengajak kepada hal yang bersifat umum, yaitu belajar segala sesuatu yang ada di alam semesta pada bait pertama, kemudian pada bait kedua yang memaparkan pentingnya menuntut ilmu dan syaratnya
Ditinjau dari bentuk dan isinya puisi di atas termasuk puisi didaktik, yaitu puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan. Hal tersebut nyata, tercantum merata di setiap baitnya, yang dibuka penulis lewat bait pertama dan kedua:
Belajarlah …
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak henti berputar
Dan dari semua yang ada di semesta ini

Belajarlah!!!
Maka kau akan tahu…
Akan segala ilmu…
Janganlah engkau pandang bulu…
Karena belajar tak kenal malu…
Sekalipun anak kecil yang mengajarimu

Kedua bait tersebut berisi pesan untuk belajar tentang segala hal. Dikonkretkan penulis pada bait pertama yang menyuruh belajar dari sang surya, dari sang waktu, dari sang roda dan semua yang ada di semesta ini. Di bait kedua ini, penulis menegaskan dua hal . Pertama, agar tetap belajar karena dengan belajar akan menjadi tahu semua tentang ilmu. Kedua syarat seorang penimba ilmu, diantaranya jangan pandang bulu, tidak malu, dan menerima ilmu dari siapapun, termasuk anak kecil.
Pada bait ketiga, penulis mengajak pembaca untuk belajar pada sekuntum mawar, di mana mawar selalu menebarkan wangi kepada siapa saja tanpa pandang bulu.  Hal tersebut tampak pada bait berikut ini.
Lihatlah mawar
Yang menyebarkan wanginya
Pada siapa saja…
Pada orang yang menyakitinya
Pada orang yang merusaknya
Pada orang yang merawatnya

Pada bait keempat, penulis baru mengajak pembaca untuk merasakan diri sebagai udara. Di mana kata ‘udara’ ini merupakan simbol yang mengandung pesan jadilah seperti udara yang tanpa pamrih dalam melakukan sesuatu.
Rasakanlah udara …
Yang telah banyak berjasa
Memberi kehidupan pada manusia
Namun tak pernah memperlihatkan wujudnya ….
Ikhlas memberi kehidupan pada siapa saja
Dari bait kelima sampai bait ketujuh, baru penulis mengerucutkan pesan bahwa penulis ingin belajar kepada anak yatim, tentang ketegaran, keikhlasan dan keceriaan walaupun mereka  sudah tidak berayah. 
Bangun  struktur Puisi
Hal yang menonjol dari puisi di atas ditinjau dari struktur bangun puisi yaitu adanya unsur bunyi dan majas atau gaya bahasa yang menonjol.
Dari unsur bunyi, dapat kita lihat pada bait kedua, dapat dilihat adanya perulangan bunyi vokal (u) seperti tampak pada larik  kedua “Maka kau akan tahu…” dan larik keempat  “Janganlah engkau pandang bulu…” Perulangan tersebut disebut asonansi. 

Lebih lanjut,  rima akhir pada bait kedua puisi “Syukur dan Ilmu”  di atas, tampak adanya perpaduan bunyi antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan vokal /u/ seperti tampak pada bentuk …tahu/…ilmu/…bulu/…malu. 
Rima akhir juga terdapat pada bait ketiga dan keempat. Seperti tampak pada bentuk …wanginya/…saja/…menyakitinya/…merusaknya/…merawatnya/ di bait ketiga. Bentuk …udara/…berjasa/…manusia/…wujudnya/…saja/ pada bait keempat.
Rima awal terdapat pada bait
Gaya bahasa sebagai salah satu unsur dalam puisi merupakan efek keindahan dalam sebuah puisi, untuk mencapai nilai estetik, seperti dikatakan oleh Nyoman Kutha bahwa gaya bahasa berkaitan dengan aspek keindahan. Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi “Syukur dan Ilmu” yaitu majas anafora, epifora, dan asosiasi.
Majas anafora, yaitu pengulangan kata atau frase pada awal dua larik secara berurutan untuk penekanan dan keefektifan bahasa. Anafora terdapat pada:
1.     Bait pertama , pengulangan kata ‘dari’
Dari sang Surya…
Dari sang waktu …
Dari roda yang tak henti berputar

2.     Bait ketiga, pengulangan kata ‘pada’
Pada siapa saja…
Pada orang yang menyakitinya
Pada orang yang merusaknya
Pada orang yang merawatnya
3.     Bait kelima, pengulangan kata ‘anak’
Anak-anak yang sudah tak punya orang tua
Namun tetap semangat menjalani hidupnya
Anak yang tangguh
Anak yang tegar
Anak yang kuat …
4.     Bait ketujuh, pengulangan kata ‘yang’
Yang warna-warni bagai mentari
Yang menyinari bumi

Majas asosiasi, yaitu perbandingan yang dua hal yang hakikatnya berbeda, tetapi dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, laksana, seumpama, seperti.  Pada puisi ini majas asosiasi terdapat pada bait ketujuh.
Aku ingin belajar…
Untuk tumbuh bagai pelangi…
Yang warna-warni bagai mentari
Yang menyinari bumi
Bagai teman-temanku
Yang kini sendiri
Namun tak pernah sepi
Dan bersedih hati

Majas asosiasi secara spesifik terdapat pada larik kedua, /Untuk tumbuh bagai pelangi…/
ketiga, /Yang warna-warni bagai mentari / dan kelima /Yang warna-warni bagai mentari/.  Pada larik tersebut majas asosiasi ditandai dengan penggunaan kata ‘bagai’.



Daftar rujukan :
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

.










Kamis, 18 Oktober 2012

Artikel


URGENSI MEMBACA CEPAT DAN CARA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT
Oleh Aan Kartini, S.Pd.

Pendahuluan
Pada abad  informasi dan komunikasi yang serba cepat  ini manusia dituntut memiliki kemahiran membaca yang layak yakni pembaca yang efektif dan efesien. Hal tersebut perlu dimiliki agar pembaca dapat mengikuti laju perkembangan zaman.  Yang menjadi salah satu alasannya karena arus penyebaran informasi dewasa ini, baik di media cetak maupun di media elektronik, seperti lewat  jaringan internet, begitu pesat dan berjalan hampir tiada henti. Akibatnya, apabila seorang yang profesional tidak memiliki kemahiran membaca yang layak, ia akan ketinggalan zaman.
Mengenai dampak cepatnya arus informasi ini, Alvin Toffler, salah seorang  futuris  (ahli masa depan) kondang abad ini dalam Harras (1999: 3.1), mengatakan bahwa pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini batas antara hari ini dengan hari kemarin itu begitu tipis sekali. Secata tamsil, Toffler mengatakan kebenaran pada hari kemarin, tiba-tiba saja boleh jadi akan berubah fiksi pada hari ini. Semua itu terjadi diakibatkan banjirnya informasi yang sangat membludak.
Manfaat Membaca cepat
Melihat fenomena di atas, tidak salah apabila setiap insan berusaha untuk mempunyai kemampuan efektif membaca yang tinggi.  Sehingga orang tersebut bisa merasakan manfaat dari kemampuan membaca cepat yang dimilikinya.  Manfaat membaca cepat seperti yang dikutip Santoso dalam Aniatul Hidayah sangatlah beragam. Beberapa manfaat membaca cepat diantaranya:
1.         Dengan membaca kita dapat menangkap, menyerap dan menguasai informasi dengan cepat.
2.         Membaca cepat dapat meningkatkan kemampuan pemahaman kita terhadap bacaan.
3.         Menelusuri halaman buku atau bahan bacaan dalam waktu singkat.
4.         Tidak banyak waktu yang terbuang karena kita tidak perlu memperhatikan atau membaca bagian-bagian yang tidak penting dalam suatu bacaan.
Tokoh Inspiratif yang Mempunyai Kemampuan MEmbaca Cepat
Banyak tokoh inspiratif yang sukses karena membaca. Aniatul Hidayah mengatakan, Tokoh tersebut diantaranya:
1.         Theodore Roosevelt. Ia sangat suka membaca dan terus gemar membaca sepanjang hidupnya. Ia hanya tidur 4 atau 5 jam semalam. Ia akan duduk membaca atu bekerja saat keluarganya tidur. Karena membaca, Theodore bisa menjadi orang sukses. Ia juga termasuk salah satu orang terkenal di dunia yang bisa membaca cepat.
2.         John F. Kennedy memiliki kemampuan membaca yang mengagumkan. Ia dapat membaca dengan kecepatan sekitar 2.500 kpm (kata  per menit). Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa. Karena pada umumnya orang biasa mempunyai KEM 350-500 wpm.  Ia biasa membaca 6 buah koran saat ia sarapan.
3.         Jimmy Carter termasuk orang terkenal di dunia yang memiliki kemampuan membaca luar biasa. Ia memiliki kecepatan membaca sekitar 2.000 kpm.  Ia bersama istrinya dikenal sebagai penggemar besar dari membaca buku dan mengikuti kursus membaca cepat selama menjadi presiden di gedung putih. Selain menikmati membaca buku, ia menjadi penulis terkenal sejak hari-harinya menjabat sebagai presiden.
Dengan memperhatikan ketiga tokoh di atas, sudah sewajarnya bagi kita untuk meneladaninya agar kita bisa mengikuti jejaknya menjadi orang yang sukses.
 Yang menjadi permasalahan sekarang, masih banyak orang yang melakukan kebiasaan-kebiasaan yang menghambat kemampuan membaca. Soedarso dalam menjelaskan ada enam hal yang dapat menghambat kecepatan membacca seseorang. Berikut dijelaskan hal-hal yang menjadi penghambat dalam membaca cepat serta cara mengatasinya.
1)    Vokalisasi
Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena dengan kata lain sama dengan mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.  Cara menghilangkan kebiasaan itu dengan melakukan tiupan bibir seperti bersiul ketika membaca dan meletakkan tangan di leher utnuk mengecek apakah ada getaran suara atau tidak.
2)    Gerakan bibir
Orang dewasa yang meneruskan kebiasaan ketika kecil, yaitu mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir. Menggerakkan bibir atau komat-kamit ketika membaca walaupun tidak mengeluarkan suara  sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca dengan bersuara atau menggerakkan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam. Usaha untuk mengatasinya adalah dengan merapatkan bibir kuat-kuat, tekan lidah ke langit-langit mulut.
3)    Gerakan kepala
Semasa kanak-kanak, penglihatan masih sulit untuk menguasai penampang bacaan. Akibat yang timbul yaitu adanya gerakan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Usaha yang harus dilakukan untuk menghindarinya, yaitu dengan meletakkan tangan memegang dagu seperti memagang jenggot dan bila kepala bergerak, kita akan tersadar lalu hentikanlah gerakan itu.
4)    Menunjuk dengan jari
Ketika belajar membaca, biasanya agar kata yang diucapkan tidak terlewat maka dilakukan dengan bantuan jari atau pensil untuk menunjuk. Namun sayangnya hal itu menjadi kebiasaan. Untuk mengatasinya yaitu dengan kedua tangan memegang buku yang dibaca.
5)    Regresi
Dalam membaca, mata seharusnya bergerak ke kanan utnuk menangkap kata-kata berikutnya. Akan tetapi, sering mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Hal itu dilakukan karena si pembaca kurang percaya diri, karena kurang tepat menangkap makna.  Cara untuk mengatasinya ketika kurang percaya diri sendiri, yaitu dengan terus saja membaca, nanti pasti akan ditemukan lagi hal yang diragukan itu, dalam uraian berikutnya ataupun dalam pengulangan yang dilakukan dalam rincian penulisan.
6)    Subvokalisasi
Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang dibaca juga dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi.  Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang kita baca itu. Menghilangkan kebiasaan membaca dengan melafalkan dalam batin memang tidak mungkin, tetapi masih dapat diusahakan dengan melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi mata dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada melafalkannya.
Dengan menghilangkan kebiasaan tersebut, semoga kemampuan membaca cepat bisa dimiliki. Karena pada dasarnya Khoo dalam Aniatul Hidayah mengungkapkan bahwa mata dan otak mempunyai kemampuan untuk menyerap lebih dari 20.000 kata per menit, tetapi kebanyakan orang membaca hanya dengan kecepatan 200 kata per menit, kurang dari 1% kemampuan manusia sebenarnya.  Jadi, teruslah berlatih membaca, membaca, dan membaca untuk memiliki kemampuan membaca cepat!
Pustaka Rujukan
Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru.
Hidayah, Aniatul. 2012. Membaca Super Cepat. Jakarta: Laskar Aksara.
Harras, Kholid A. dan Lilis S.S.. 1999. Membaca I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Soedarso. 2001. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia.


Rabu, 17 Oktober 2012

Artikel


Tips Sukses Mengerjakan Soal UN Bahasa Indonesia 
Oleh: Aan Kartini, S.Pd.

Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata.  Berbagai persiapan sudah banyak yang dilakukan baik itu oleh peserta didik sebagai tokoh sentral dari UN, maupun oleh pendidik. Pemantapan, try out, bimbingan belajar, klinik belajar, dan serangkaian acara untuk memotivasi siswa baik secara mental dan spiritual dilaksanakan oleh pihak sekolah agar peserta didik benar-benar siap berjuang untuk menghadapi UN. Lantas, mengapa masih ada saja siswa yang tidak lulus? Apalagi ketidaklulusan terjadi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Dari data yang disodorkan Kemendiknas, bahasa Indonesia menempati urutan kedua setelah matematika yang menjadi mata pelajaran tersulit. Ada sekira 1.786 siswa atau (38,43%) SMA/MA yang tidak lulus UN bahasa Indonesia. Bulan Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, untuk kali keduanya, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran tersulit bagi siswa dalam pelaksanaan UN. Dari data tersebut, patut dijadikan evaluasi kira-kira apa yang salah. Padahal, tingkat kesulitan mata pelajaran ini sudah berkurang dibandingkan tahun lalu. Meskipun demikian masih saja ada yang tidak lulus di pelajaran Bahasa Indonesia.
Disinyalir faktor yang membuat siswa kesulitan dalam menjawab soal. Salah satunya karena soal Bahasa Indonesia yang diujikan dibuat menjadi soal cerita. Siswa di Indonesia tak dibiasakan untuk sering membaca dan memahami teks. Selain itu ada dua penyakit yang diderita para siswa yaitu penyakit kudis dan kutil.
‘Kudis’ yang merupakan akronim dari kurang disiplin sering dijumpai pada siswa yang menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia.  Penderita penyakit ini, siswa kurang disiplin juga terlalu terburu-buru dalam membaca soal cerita tersebut sehingga hasilnya salah. Siswa merasa sudah yakin dengan membaca sepintas dan langsung menjawab soal.
Penyakit berikutnya adalah ‘kutil’ yaitu kurang teliti. Penyakit ini biasanya dialami oleh siswa yang memiliki penyakit kudis. Dari penyakit kudis inilah muncul kutil. Misalnya, terkadang dalam soal suka ada kata ‘tidak’, atau ‘kecuali’ yang tidak terbaca oleh siswa sebagai akibat kurang teliti dan kurang disiplin ketika membaca soal. Hasilnya, jawaban siswa sudah bisa ditebak pasti salah. Karena siswa tersebut belum utuh dalam membaca soal.
Setelah dua penyakit tersebut, masih ada penyakit yang bisa mencelakakan siswa, yaitu’ kurap.’ Penyakit ini biasanya diderita siswa yang ceroboh dalam menghitamkan jawaban di lembar jawaban komputer (LJK) ataupun tidak rapih menghapus, ketika mengganti jawaban. Hasilnya, LJK kotor, lecek, bahkan ada yang sampai sobek.  Secara otomatis, kemungkinan besar, LJK tersebut tidak bisa dibaca oleh scanner. Alhasil, bisa terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, yaitu tidak lulus.
Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap siswa hendaknya menjauhi ketiga ‘penyakit’ yang terkadang tidak diundang. Semoga dengan lenyapnya ketiga hal tersebut, bisa mendapat hasil UN yang memuaskan. Aamiin…