Tips Sukses Mengerjakan Soal UN Bahasa Indonesia
Oleh: Aan Kartini, S.Pd.
Oleh: Aan Kartini, S.Pd.
Ujian Nasional (UN)
sudah di depan mata. Berbagai persiapan
sudah banyak yang dilakukan baik itu oleh peserta didik sebagai tokoh sentral
dari UN, maupun oleh pendidik. Pemantapan, try out, bimbingan belajar, klinik
belajar, dan serangkaian acara untuk memotivasi siswa baik secara mental dan
spiritual dilaksanakan oleh pihak sekolah agar peserta didik benar-benar siap
berjuang untuk menghadapi UN. Lantas, mengapa masih ada saja siswa yang tidak
lulus? Apalagi ketidaklulusan terjadi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Dari data yang disodorkan Kemendiknas, bahasa
Indonesia menempati urutan kedua setelah matematika yang menjadi mata pelajaran
tersulit. Ada sekira 1.786 siswa atau (38,43%) SMA/MA yang tidak lulus UN
bahasa Indonesia. Bulan Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)
Mohammad Nuh mengatakan, untuk kali keduanya, Bahasa Indonesia menjadi
pelajaran tersulit bagi siswa dalam pelaksanaan UN. Dari data tersebut, patut
dijadikan evaluasi kira-kira apa yang salah. Padahal, tingkat kesulitan mata
pelajaran ini sudah berkurang dibandingkan tahun lalu. Meskipun demikian masih
saja ada yang tidak lulus di pelajaran Bahasa Indonesia.
Disinyalir faktor yang membuat siswa kesulitan dalam
menjawab soal. Salah satunya karena soal Bahasa Indonesia yang diujikan dibuat
menjadi soal cerita. Siswa di Indonesia tak dibiasakan untuk sering membaca dan
memahami teks. Selain itu ada dua penyakit yang diderita para siswa yaitu
penyakit kudis dan kutil.
‘Kudis’ yang merupakan akronim dari kurang disiplin sering
dijumpai pada siswa yang menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia. Penderita penyakit ini, siswa kurang disiplin
juga terlalu terburu-buru dalam membaca soal cerita tersebut sehingga hasilnya
salah. Siswa merasa sudah yakin dengan membaca sepintas dan langsung menjawab
soal.
Penyakit berikutnya adalah ‘kutil’ yaitu kurang teliti.
Penyakit ini biasanya dialami oleh siswa yang memiliki penyakit kudis. Dari
penyakit kudis inilah muncul kutil. Misalnya, terkadang dalam soal suka ada
kata ‘tidak’, atau ‘kecuali’ yang tidak terbaca oleh siswa sebagai akibat
kurang teliti dan kurang disiplin ketika membaca soal. Hasilnya, jawaban siswa
sudah bisa ditebak pasti salah. Karena siswa tersebut belum utuh dalam membaca
soal.
Setelah dua penyakit
tersebut, masih ada penyakit yang bisa mencelakakan siswa, yaitu’ kurap.’
Penyakit ini biasanya diderita siswa yang ceroboh dalam menghitamkan jawaban di
lembar jawaban komputer (LJK) ataupun tidak rapih menghapus, ketika mengganti
jawaban. Hasilnya, LJK kotor, lecek, bahkan ada yang sampai sobek. Secara otomatis, kemungkinan besar, LJK
tersebut tidak bisa dibaca oleh scanner.
Alhasil, bisa terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, yaitu tidak lulus.
Dengan memperhatikan
beberapa hal di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap siswa hendaknya menjauhi
ketiga ‘penyakit’ yang terkadang tidak diundang. Semoga dengan lenyapnya ketiga
hal tersebut, bisa mendapat hasil UN yang memuaskan. Aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar