Rabu, 17 Oktober 2012

Artikel


Tips Sukses Mengerjakan Soal UN Bahasa Indonesia 
Oleh: Aan Kartini, S.Pd.

Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata.  Berbagai persiapan sudah banyak yang dilakukan baik itu oleh peserta didik sebagai tokoh sentral dari UN, maupun oleh pendidik. Pemantapan, try out, bimbingan belajar, klinik belajar, dan serangkaian acara untuk memotivasi siswa baik secara mental dan spiritual dilaksanakan oleh pihak sekolah agar peserta didik benar-benar siap berjuang untuk menghadapi UN. Lantas, mengapa masih ada saja siswa yang tidak lulus? Apalagi ketidaklulusan terjadi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Dari data yang disodorkan Kemendiknas, bahasa Indonesia menempati urutan kedua setelah matematika yang menjadi mata pelajaran tersulit. Ada sekira 1.786 siswa atau (38,43%) SMA/MA yang tidak lulus UN bahasa Indonesia. Bulan Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, untuk kali keduanya, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran tersulit bagi siswa dalam pelaksanaan UN. Dari data tersebut, patut dijadikan evaluasi kira-kira apa yang salah. Padahal, tingkat kesulitan mata pelajaran ini sudah berkurang dibandingkan tahun lalu. Meskipun demikian masih saja ada yang tidak lulus di pelajaran Bahasa Indonesia.
Disinyalir faktor yang membuat siswa kesulitan dalam menjawab soal. Salah satunya karena soal Bahasa Indonesia yang diujikan dibuat menjadi soal cerita. Siswa di Indonesia tak dibiasakan untuk sering membaca dan memahami teks. Selain itu ada dua penyakit yang diderita para siswa yaitu penyakit kudis dan kutil.
‘Kudis’ yang merupakan akronim dari kurang disiplin sering dijumpai pada siswa yang menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia.  Penderita penyakit ini, siswa kurang disiplin juga terlalu terburu-buru dalam membaca soal cerita tersebut sehingga hasilnya salah. Siswa merasa sudah yakin dengan membaca sepintas dan langsung menjawab soal.
Penyakit berikutnya adalah ‘kutil’ yaitu kurang teliti. Penyakit ini biasanya dialami oleh siswa yang memiliki penyakit kudis. Dari penyakit kudis inilah muncul kutil. Misalnya, terkadang dalam soal suka ada kata ‘tidak’, atau ‘kecuali’ yang tidak terbaca oleh siswa sebagai akibat kurang teliti dan kurang disiplin ketika membaca soal. Hasilnya, jawaban siswa sudah bisa ditebak pasti salah. Karena siswa tersebut belum utuh dalam membaca soal.
Setelah dua penyakit tersebut, masih ada penyakit yang bisa mencelakakan siswa, yaitu’ kurap.’ Penyakit ini biasanya diderita siswa yang ceroboh dalam menghitamkan jawaban di lembar jawaban komputer (LJK) ataupun tidak rapih menghapus, ketika mengganti jawaban. Hasilnya, LJK kotor, lecek, bahkan ada yang sampai sobek.  Secara otomatis, kemungkinan besar, LJK tersebut tidak bisa dibaca oleh scanner. Alhasil, bisa terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, yaitu tidak lulus.
Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap siswa hendaknya menjauhi ketiga ‘penyakit’ yang terkadang tidak diundang. Semoga dengan lenyapnya ketiga hal tersebut, bisa mendapat hasil UN yang memuaskan. Aamiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar