Harapan untuk Mas Galang
Arini Izzataddini
“Zita, ayo tidur sayaang. Sudah jam setengah sepuluh niih. Memangnya
besok kamu tidak sekolah ? Ayo cepat tidur Zita” Mama menyuruhku tidur sambil
berlalu ke kamarnya. “ Iya maa.” Ujarku yang sedang menonton sinetron
kesukaanku. Aku matikan tivi dan naik tangga menuju kamarku.
Aku langsung naik ke kasurku untuk tidur. Karena aku sudah mulai mengantuk.
Tapii. Kok aku nggak bisa tidur ya ? Seperti ada yang kurang. Oh iya !
Aku lupa menulis diary. Kebiasaanku setiap sebelum tidur adalah menulis diary.
Tapi kenapa sekarang aku lupa ya ?
Aku langsung mengambil diaryku di lemari dan mulai menulisnya.
Dear
Diary,
Hari
ini, aku punya satu cerita yang mengaharukan tentang sepupuku sendiri.. Mas
Galang namanya.
Pada
tahun 1995, lahir 5 orang anak dari lima pasang suami istri. Ibu-ibu yang
melahirkan berasal dari satu keluarga besar yang sama. Kakek dan Nenek sangat
bahagia. Mereka langsung memiliki 5 cucu sekaligus di tahun itu. Galang, Dimaz,
Agung, Rania dan aku. Mereka lahir normal dan sehat. Itu terjadi lima belas
tahun yang lalu..
Di tahun ajaran ini, kami berlima seharusnya akan menjalani UAS-BN. Empat
anak diantara kami telah bersiap-siap untuk melakukannya. Tapi satu anak
lagi? Ia hanya bisa di rumah melakukan kegiatan yang tak menentu…
Ya,
mas Galang namanya. Putra ketiga dari kakak ayahku yang tertua. Dia menderita
autis. Mamaku masih suka bercerita bahwa pada tahun pertama, mas Galang
terlihat sebagai anak yang paling sehat diantara kami. Tinggi besar, tampan,
dan sangat aktif. Tapi makin lama, makin terlihat bahwa dia tidak memiliki
kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik.
Saat ini, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena masih belum dapat berkomunikasi
dengan baik. Bahkan belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menunjukkan
kemandiriannya. Jadi selama ini bude dan Pakdeku sangat memproteksi dirinya.
Memang kasihan mas Galang, orang tuanya bukan orang yang berpunya.
Bahkan….rumahnya di pinggir sekaligus di atas sungai. Rumah yang sungguh
membahayakan untuk kondisi mas Galang yang seperti ini. Aku ingin menangis jika
aku berkunjung ke rumahnya. Wilayahnya tidak layak dan rumahnya bukan seperti
rumah melainkan gudang kecil.
Usaha-usaha orangtuanya sedikit membuahkan hasil. Ayahnya belum punya pekerjaan
tetap. Hanya seorang perangkai dan penjual bunga yang tak selalu mendapat order
untuk dikerjakan. Kakaknya masih kelas 11 sekarang. Mas Galang punya satu kakak
lagi, yang sedang bekerja di Filipina. Dan ia satu-satunya tulang
punggung di keluarga itu. Selain keadaan mas Galang yang mengkhawatirkan,
ibunya lebih mengkhawatirkan. Bude Lina, jika kupanggil dirinya, terkena
Thalasemia hingga saat ini. Uang mereka tak cukup untuk menyembuhkan Bude Lina
dan melaksanakan terapi autis mas Galang sekaligus.
Anaknya tampan dan selalu ingin tahu. Kini, ia sudah mulai dapat sedikit
berbicara walaupun belum mampu berfikir jelas. Mas Galang sudah tumbuh lebih
tinggi dari aku, Dimaz, Agung,dan Rania. Tapi walaupun begitu, keadaan non
fisiknya jauh tertinggal dari kami. Tidak pernah ada yang menduga, karena Mas
Galang terlahir normal dan sama seperti kami semua.
Papaku bilang, dulu keluarga nenek tidak mampu. Sebagai kakak pertama, Bude
Lina menjadi tulang punggung keluarga. Ia tak sekolah hingga S1. Langsung saja
bekerja. Jadi, beliau sekolahkan adik-adiknya. Memang, seluruh keluarga besar
kami saat ini telah turut membantu ekonomi keluarga bude, namun karena
masing-masing memiliki tanggungan keluarga yang juga tidak sedikit, maka
bantuan bagi mas Galang masihlah jauh dari kebutuhan. Menghidupi keluarga
sehari-hari, membantu pengobatan mas Galang, dan bude Lina sekaligus.
Harapanku, mas Galang dapat sembuh dan dapat bermain dan belajar bersama kami,
atau paling tidak, dia mampu membantu dirinya sendiri, sehinga dapat menjadi
manusia yang mandiri, dan kelak tidak bergantung pada orang lain. Aku ingin
sekali mas Galang dapat menjalani terapi yang Intensif, agar kondisi itu dapat
terwujud. Dan aku ingin bude Lina berkurang beban hidupnya, sebagaimana yang
selalu beliau rasakan selama ini….. Ini adalah Harapanku.
****
“Hoaam.
Sudah pukul 22.30” ujarku sambil melongok ke jam weker yang diletakkan di
samping tempat tidurku. “ Lama sekali ya aku menulis diary.” Kataku sambil
menaruh kembali buku diaryku lalu naik ke kasur dan menarik selimut. “Hhh,
semoga harapanku untuk mas Galang dapat terkabul Ya Allah” Aku pun memejamkan
mataku setelah berdoa untuk mas Galang. Amiin.
Jodoh Sang Guru
(By:
Fida Amatullah)
“Ciye… bapak” sorak anak-anak menyambut
kedatangan Pak Arlin, guru matematika yang memasuki kelas.
“Memangnya
kenapa?” Tanya Pak Arlin setelah meletakan tasnya di atas meja guru.
“Tadi
Bu Nida lewat pak” lapor Erna.
“Eh,
iya gitu” Pak Arlin langsung menoleh ke jendela di sebelah meja guru, membuat
anak-anak semakin heboh.
“Eaa…”
sahut anak-anak berbarengan. Pak Arlin hanya tersenyum, dan terlihat semburat
merah di wajahnya.
“Ya,
sekarang kalian duduk” pinta Pak Arlin.
“Kita
udah duduk!!” jawab anak-anak serempak.
“Baik,
saya ucapkan terima kasih karena kalian telah duduk rapih. Sekarang kita akan
melanjutkan materi kita kemarin” Pak Arlin pun mengambil spidol dan mulai
menjelaskan.
Yah,
menurutku beginilah resiko jika Pak Arlin (Dan para bapak guru terhormat
lainnya) mengajar di sekolah berasrama putri yang tentunya satu sekolah
semuanya berstatus siswi-siswi (Ya iyalah.. kalau siswa mah beda lagi). Pasti
bakal jadi ‘sasaran’ siswi-siswinya.
Apalagi,
angkatan aku lagi masa-masanya ‘mengekspresikan diri’ dan di antara semua kelas
8, kelas ku lah yang paling ‘jago dan ngocol’ dalam hal ini. Bahkan protes
dengan pak guru, kelas ku jagonya.
Sekarang balik lagi ke kelas. Ketika Pak Arlin
memberI kami tugas. Tiba-tiba anak kelasku, Hera menyeletuk.
“Pak,
kok bapak nggak melamar Bu Nida sih?” Tanyanya polos. Sekejap kelas menjadi
heboh dengan pertanyaan.
“Sst..”
Yulia, ketua kelas sekaligus anak BEM menaruh telunjuk di depan mulut. Kami pun
terdiam, oh iya ini adalah rahasia kelas kami.
Ceritanya,
dua hari yang lalu anak kelas kami sedang pusing gara-gara habis ujian fisika
yang soalnya 30% sadis. Terus ketika pelajaran Matematika, kami mendesak Pak
Arlin untuk ‘curhat’ ke kami anak kelas 8-6. Lumayanlah, cerita guru-guru bisa
menghibur kami. Habis bayangkan sehabis fisika pelajaran matematika, gimana
nggak stress tuh anak kelas?
Akhirnya
Pak Arlin bercerita tentang latar belakangngya, keluarganya. Dan ternyata
beliau ikut silat! Pantas saja badan beliau rada liat dan lincah begitu. Lho,
gini-gini aku juga anak silat lho, ya.. walaupun baru tingkat paling dasar sih.
Maklum baru tahun ini aku gabung. Sebenarnya mau dari SD, tapi nggak pernah jadi.
Dan Pak Arlin pun menceritakan tentang
seorang akhwat (jiah..) yang beliau suka. Sebenarnya Pak Arlin Cuma sedikit
cerita dan nggak mau menyebutkan nama akhwat yang merebut hati Pak Arlin.
Hingga akhirnya kami main ‘tebak-tebakan’ dengan Pak Arlin dan dengan berat
hati Pak Arlin menyebutkan huruf depannya. Dan kami berhasil menebak!
Aku
dan anak kamarku yang satu kelas Rena dan Fira terkejut ketika mengetahui
ternyata orangnya murobbi kami!
“Beliau
murabbi kami Pak!” seru ku.
“Eh
iya gitu?” Tanya Pak Arlin. Kami mengangguk.
“Wah,
kalau begitu kalian jangan bilang ke orangnya ya” pinta Pak Arlin kepada kami.
Aku, Rena, dan Fira meangguk.
“Kalian,
tolong jangan bocorkan ini kepada siapa-siapa ya. Soalnya tahun depan bapak
masih di sini yaa. Walaupun mungkin saja bapak mengajar di putra. Tapi bapak
malu juga kalau true story bapak ketahuan” pinta Pak Arlin.
“Jiah,
true story. Eh love story pak” Febi langsung membetulkan ucapannya.
“Terus
kenapa bapak nggak melamar Bu Nida aja?” Tanya Nusaibah alias ibah.
“Bapak
sudah mengutarakan ke murabbi bapak. Sekarang tinggal menunggu berita dari
murabbi” jelas Pak Arlin. Kami mengangguk.
“Semangat
pak!” kata kami. Pak Arlin mengangguk dan tersenyum.
-_-
“Semuanya
rentangkan tangan” perintah Teh Aulia. Kami pun merentangkan tangan. Aula
terasa luas karena hanya ada kami berdelapan plus Teh Aulia jadi bersembilan.
“Mulai
pemanasan..” kami pun mulai pemanasan. Setelah itu kami latihan tendangan
berpasangan, dan teh Aulia mengajarkan kami mensirkel yaitu memutar kaki
membentuk lingkaran untuk m enjegal
lawan. Saat lawan menendang lah paling tepat untuk menyarangkan tendangan
sirkel. Kita pun berjongkok dan memutarkan kaki kita ke arah depan atau
belakang terserah kita.
“Coba,
kalian ambil matras di sebelah sana dan kalian latihan sendiri-sendiri”
perintah teh Aulia menunjuk tumpukkan matras kecil di sudut. Kami mengambil
satu-satu dan berlatih sendiri-sendiri.
Mau
promosi nih. Teh Aulia itu pelatih kami, aku ingat pertama kali ekskul saat
pramuka. Mendadak aku di panggil, sebenarnya ada delapan (awalnya) namun karena
hanya aku satu-satunya anak kelas delapan sedangkan kelas tujuh belajar pramuka
di tempat terpisah. Akhirnya aku kelimpungan mencari mereka, yaa… berusaha
menjadi senior yang baiklah. Minggu sebelumnya aku mengumpulkan mereka, namun
karena pelatihnya belum datang kami pun ngumpul-ngumpul saja.
Dari
segi fisik udah nyangka sih kalau Teh Aulia orangnya lincah. Teh Aulia orangnya tingginya sedang tapi
langsing. Dan ternyata… Teh Aulia pernah memenangkan medali emas di kejurnas
dua kali! Aku lupa kapan dan tempatnya. Yang jelas teh Aulia keren deh.
Setelah
berlatih sendiri-sendiri kami dites tendangan dan sirkel oleh Teh Aulia. Dan
setelah itu kami istirahat sebentar.
“Teteh,
kok bisa sih langsing?” Tanya ku. Maklum berat badanku kelihatan kelebihan nih.
“Ah,
kamu udah keliatan ideal kok. Ngapain di kurusin lagi?” Teh Aulia balik
bertanya.
“Yah,
dikiit lagi” jawab ku.
“Teh,
kapan nikah?” Tanya Ulya adik kelasku iseng.
“Yahh…may”
jawab Teh Aulia.
“Iya
teh??” mata kami membulat.
“Maybe..”
jawabnya sambil nyengir. Dan kami pun manyun.
“Yahhh
teteh..” jawab kami kecewa karena tidak
mendapatkan jawaban yang pasti.
“Jodoh
sih ada tapi..”
“Tapi
di lauh mahfudz kann??” jawab kami serempak.
“He-eh,
lagian kalau ada yang mau ngelamar teteh nggak boleh orang sembarangan” kata
teh Aulia.
“Huuh,
teteh pede euy!” sahut Tera tetangga kamarku. Oh iya, Tera dan Silvi ikut
bergabung dengan kami sebulan yang lalu. Jadi kami ada bersepuluh.
“Iya
dong, ntar yang jadi suami teteh harus siap menerima apa adanya. Dan tidak
boleh melarang teteh untuk melanjutkan silat. Salah satu cita-cita teteh yaitu
membentuk kader peremuan.Lagian di sini kan pelatih perempuan jarang. Di
angkatan teteh yang awalnya ada 200 orang menyusut jadi bertiga” Teh Aulia pun
bercerita tentang teman-temannya. Ada yang silatnya sudah bagus tapi tidak di
perbolehkan oleh suami, ada yang diijinkan tapi sedang hamil jadi tidak bisa
terlalu banyak bergerak. Dan lain-lain.
“Makanya,
abah juga setuju sama teteh, karena jangan sampai nggak ada kader perempuan
yang meneruskan silat ini atau menyebarkannya. Ya… kalau bapak teteh mah
menyerahkan saja ke Teteh” jelas Teh Aulia.
“Abah
siapa teh?” Tanya Silvi.
“Itu,
pelatihnya Teh Aulia” jawab Jihan
“Teh,
kalau dapat jodohnya di sini gimana?” Jihan angkat bicara. Dan teh Aulia hanya
meangkat bahu.
“Pak
Bima?”
“Pak
Ahmad?”
“Pak
Arlin?” dan semua nama-nama pak guru pun di sebut.
“Udah-udah,
Pak Ahmad kan udah punya Bu Hana” sela Silvi.
“Eh,
maksudnya gimana?” Tanya Teh Aulia.
“Tuh
kan teteh, banyak lho guru-guru sini yang cinlok lalu nikah” ujar Farras.
“Sudah,
jangan ngomongin hal itu terus, nggak bagus” tegur Teh Aulia.
“Kita
lanjutkan latihan” TehAulia lalu bangkit kami pun mengikutinya. Dan kami
melanjutkan latihan hingga ashar.
-_-
Aku
berpikir tampaknya topic ‘cinlok guru’ menjadi pembicaraan tersendiri. Aku juga
baru nemuin ini pertama kali di SMP. Siang ini, semilir angin membawa rambutku
yang tidak tertutupi jilbab sedikt mengibar. Enak juga sih dapat kasur dekat
jendela. Yaah, walaupun resikonya bisa
di lihat bapak-bapak apalagi sama anak seberang (Ngertikan maksudnya??) di
depanku terdapat selembar diary yang siap untuk ku isi.
Dear diary
Aku baru nemuin ‘cinlok’ guru di sini
lho… di SD aku nggak nemuin nggak tahu deh kalau sekarang. Tapi kok ngeliatnya
seru ya? Aku jadi heran sendiri. Tapi biar deh, anggap aja tontonan menarik
(Aduh, kok parah beudh).
Aku
pun menutup diary itu dan menyimpannya di eksel sebelah kasurku. Aku merasa
ngantuk, aku terbaring dan perlahan aku tertidur.
-_-
“Bapak
udah ngirim lamaran belum ke Bu Nida?” Tanya kami ketika pelajaran Pak Arlin.
Tadi baru saja terjadi ulangan beruntun yaitu ulangan Biologi dan Bahasa
Inggris( Sebel ma Pak Amir soalnya susah beudh). Dan anak-anak tersandar kelelahan.
Namun Pak Arlin hanya menggeleng lemah.
“Sayangnya
bapak terlambat. Dari Murabbi bapak di beri tahu kalau bunda tersebut sudah di
lamar” tampang Pak Arlin terlihat sedih.
“Waah
bapak sabar ya!!” seru kami kompak. Pak Arlin meangguk.
“Terima
kasih, bapak sangat menghargai perhatian kalian. Doakan saja bapak semoga bisa
mendapat yang lebih baik” jelas Pak Arlin di sambut koor ‘Amiin’ dari kami.
-_-
“Oi Trevi” aku dan Kayla yang habis belanja di
mini market menoleh. Teh Aulia berajalan santai
menghampiri kami.
“Ngapain
teh?” Tanya ku. Kan latihan hari Jum’at.
“Kan
mau sleksi buat POPDA Kabupaten” jawab Teh Aulia, sebuah Ipod menyembul dari
balik jilbabnya.
“Hah,
sekarang teh??” Tanya ku kaget.
“Iya,
mau kapan lagi? POPDA tuh sebentar lagi tahu” jawab Teh Aulia berjalan. Kami
mengikuti jalan Teh Aulia yang cepat.
Ketika
kami berada di samping gedung sekolah. Terdapat beberapa guru yang berjalan
sambil menenteng rantang. Yang aku tahu beberapa ada yang satu rumah.
Kami
pun melewati gerombolan tersebut. Ketika sudah terlewati, Teh Aulia mendadak
berhenti dan menoleh ke arah belakang. Aku dan Kayla ikut-ikutan berhenti.
“Kenapa
teh?” tanyaku
“Ehm,
nggak kok” Teh Aulia kembali berjalan. Aku dan Kayla pun mengikuti. Tak lama
kami sampai di komplek asrama.
“Teh,
aku ke kamar dulu. Mau siap-siap” pintaku.
“Ya
sudah, ngumpul di lapangan” aku dan Kayla pun berlalu dan menaiki tangga menuju
kamar. Di kamar ternyata sepi, mungkin yang lain sedang menyuci.
“Eh,
Teh Aulia cantik ya?” komentar Kayla.
“Memangnya
kenapa gitu?” Tanya ku. Aku memasukkan belanjaan ke tempat masing-masing.
“Soalnya
pasti banyak yang suka” sahut Kayla iseng.
“Ah,
ngaco kamu!” aku melepas jaketku dan tersisa baju lengan pendek. Aku pun
memakai baju seragam silat.
“He..he…
nggak tahu ding. Tapi kayaknya ada yang something tuh”
“Hah”
aku menoleh kepada Kayla yang duduk di pinggir ranjangnya.
“Iya,
cinlok pada pandangan pertama. first sight”
“Sebutin, siapa guru yang kamu maksud” aku
duduk di samping Kayla.
“Eit
rahasia, nggak boleh tahu” Kayla menggelengkan kepala main-main.
“Kayla
please, Teh Aulia guruku juga. Jadi aku harus tahu siapa yang kamu maksudkan”
seruku memaksa.
“Iya
deh anak kesayangan” Kayla memalingkan muka.
“Apaan
sih?” gerutuku.
“Terus,
kalau kamu tahu gimana?” tanyanya. Aku berpikir sejenak.
“Aku
nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Lagi pula bisa aja itu kebetulan” aku
berdiri.
“Cepetan,
aku harus ngumpul nih. Mumpung kamar masih kosong” Kayla pun menoleh.
“Ya
sudah, tapi jangan di sebarin. Ini Cuma dugaan ku aja” aku menghampiri Kayla.
Kayla membisiki ku sesuatu.
“Ooh”
aku berdiri dan langsung keluar. Tak ku pedulikan gerutuan Kayla.
-_-
Hari
ini POPDA kabupaten dimulai. Aku sedang mengamati sebagian kecil anak silat
yang lolos sleksi berlatih di luar. Namaku tidak masuk dalam list lolos sleksi.
Walaupun pertandingan bukan hari libur, tapi aku diperbolehkan ikut, yaa.
Hitung-hitung sebagai supporter.
Tapi
aku merasa bosan, hingga aku memutuskan untuk jajan di lapangan futsal belakang
GOR. Tidak masalah jauh, aku memang ingin jalan-jalan.
Aku
berjalan sembari memandangi kesibukan pagi itu. Terlihat beberapa anak sekolah
memakai seragam olahraga sedang berlari mengikuti gurunya. Aku juga melihat tim
silat yang lain pemanasan di pinggir gor.
“Satu..dua..”
aku menoleh, tampak segerombolan berlari melewatiku. Ada yang memakai baju
biasa, ada juga yang memakai baju silat berwarna hitam tanpa sabuk. Aku menepi
untuk memberi mereka jalan.
“Eh,
kamu Trevi kan? Anak As-Salam kelas 8-4 ” aku menoleh. Ternyata Pak Arlin,
beliau memakai baju silat berwarna hitam dengan sabuk berwarna hijau. Eh, tapi
bukannya hari ini ada pelajaran matematika?
“Sendirian?”
Tanya Pak Arlin yang awalnya berlari-lari kecil sekarang berjalan menjajari ku.
“Iya
pak, kok bapak ada di sini sih? Bukannya hari ini 8-4 ada matematika?” Tanya
ku.
“Sudah
bapak kasih tugas lewat meja piket. Kamu sendiri kenapa ada di sini? Kamu kan
harusnya sekolah?” Pak Arlin membalikkan pertanyaan. Aku menjawab dengan
gelengan.
“Saya
sama beberapa ikut jadi supporter, kebetulan ada teman-teman yang hari ini
tanding. Bapak sendiri?” jawabku.
“Saya
di suruh damping anak-anak silat A tanding. Wah, hebat dong anak as-salam ada
yang ikut tanding. Pantas tadi saya melihat beberapa muka yang familiar, dan
ada wali asrama Bu Farida yang mendampingi. Siapa Pelatihnya?” Tanya Pak Arlin.
“Banyak sih, tapi yang saya tahu cuma Teh
Aulia”jawab ku.
“Arlin
cepetan! Lama banget!” suara cempreng berbahasa Sunda mengagetkanku. Ternyata
seorang perempuan dewasa memakai kaos berteriak memanggilnya.
“Bapak
duluan ya” Pak Arlin langsung berlari menuju kerumunan tersebut. Sedangkan aku
menuju jajanan pinggir jalan.
“Kak,
itu bukannya Pak Arlin ya? ” Tanya Jihan sekembali membeli jajan.
“Iya,
itu orangnya” Silvi menunjuk seseorang yang berdiri di belakang kerumunan.
“Widi
ngapain?” tanyaku. Terlihat Widi sedang berlari kecil di pandu oleh Kak Erin.
“Suruh
nurunin berat badan kak” jawab Jihan. Aku menghembuskan nafas.
“Vi,
punya makanan nggak?” Tanya Tera
menghampiri ku. Aku meangguk.
“Aku
mau beli dong” pinta Tera.
“Kenapa?”
tanyaku.
“Berat
badan ku kurang nih. Di suruh makan” jawabnya. Aku mengeluarkan roti dari
bungkusan plastic di tas dan mengangsurkannya pada Tera.
“Simpan
saja buat nanti. Giliranmu masih lama kan?” Tanya ku.
“Makasih
Tre! Uangnya ntar ya” Tera pun berlari ke tempatnya semula.
Pertandingan
pun dimulai. Lawan saling disesuaikan berat badan, makanya berat badan dikelompokan
secara abjad berdasarkan berat badan. Yang mendapat giliran pertama dari tim
kami adalah Farras. Lawannya adalah seorang anak perempuan yang rambutnya di
kepang. Dan berasal dari silat A.
Setelah
menimbang berat badan. Farras menempati lingkar merah sedangkan anak itu
lingkar biru. Masing-masing mendapat pengarahan. Pak Arlin ikut mengarahkan
dengan perempuan bersuara cempreng tadi. Sedangkan Bu Farida dan A Imat berada
di lingkar merah bersama dengan Farras.
“Wah
pertandingan antar guru As-Salam pasti seru” desis Tera yang berada di
sebelahku. Aku meangguk.
Di
situ terdapat beberapa wasit, tiga orang wasit duduk di kursi yang tersebar.
Dan seorang wasit lapangan berjalan ke tengah dan memanggil kedua peserta untuk
pengarahan. Pertandingan di mulai di tandai dengan di bunyikan gong. Keduanya
mulai beraksi dengan memainkan seninya. Setelah berhadapan dengan membentuk
kuda-kuda. Mereka mulai beraksi.
Aku
tidak menceritakan pertandingan tersebut secara detail. Yang jelas terdengar
suara heboh supporter yang di seberang berbanding terbalik dengan tim kami yang
terkesan adem ayem. Walau kami (anak as-salam) gondok juga dengan tim silat A
habis berisik banget terkesan menganggu. Namun anak Al-Hikmah terlihat biasa
saja.
Pertandingan berdurasi tiga menit itu
berakhir. Farras terkapar kelelahan di samping A Imat dan Bu Farida. Setelah
mengatur nafas sejenak. Wasit lapangan yang nota bene perempuan (Tapi Bukan Teh
Aulia, sepertinya dari perguruan lain atau IPSI?). memanggil mereka berdua.
Ketiga wasit yang duduk di kursi memegang kedua bendera. Oh iya, saat Farras
mengatur nafas. Para wasit berkumpul di sebuah meja tempat beberapa wasit (Termasuk
ketuanya) sembari mengumpulkan hasil penilaian masing-masing.
Farras
dan anak itu berdiri di kanan dan kiri wasit perempuan. Dan kedua tangan wasit
memasang pergelangan masing-masing.
“Dan
yang lolos dalam babak ini adalah…” dan sang wasit mengangkat tangan.. anak
itu. Keputusan itu di perkuat dengan para juri mengangkat bendera warna biru.
Akhirnya Farras kalah.
Dari
tim kami, 4 orang berhasil lolos menuju POPDA Provinsi. Dan dari sekolahku
hanya Jihan yang berhasil lolos. Tim kami beristirahat di masjid dekat GOR.
“Wuah,
capek!” Tera meregangkan tangannya, dia pun tiduran.
“Lihat
aja, Farras sampai tidur beneran” Jihan menunjuk Farras yang tertidur. Aku
bangkit.
“Mau
kemana kak?” Tanya Jihan.
“Mau
ambil udara segar” jawabku. Aku pun duduk-duduk di selasar masjid.
“Hei,
boleh aku duduk di sebelah mu?” aku menoleh. Seorang anak perempuan yang kukenali
dia tim silat A. aku meangguk, dia pun duduk.
“Tampaknya
dari wajahmu kamu bukan asli sini ya?” tanyanya. Aku mengguk.
“Jadi
rata-rata tim mu bukan orang sini?”tanyanya lagi.
“Ya
Rata-rata, aku orang Bekasi, yang lain ada yang dari Jakarta,Pangkal pinang,
Bandung, dan lain-lain. Kalau anak Al-Hikmah aku tidak tahu. Yaaa..kami beragam
soalnya memang tim ini terdiri dari sekolah berasrama. Tapi ada juga kok anak
sini” jelasku.
“Kalian
anak Pesantren?” Tanyanya lgi.
“Sebenarnya
anak sekolahku nggak bakal mau dibilang pesantren maunya di bilang boarding
atau asrama. Tapi mau gimana lagi?” aku meangkat bahu.
“Oh
iya kenalkan, aku Ratna. Kamu?” tanyanya.
“Trevi”
jawabku.
“Wah,
namamu keren juga. Oh iya, kamu nak mana?” Tanya Ratna.
“Aku
anak As-salam” jawabku.
“Ya!
Kamu kenal sama Pak Arlin nggak? Beliau katanya ngajar di situ, dan Pak Arlin
itu pelatih di silat A” Tanya Ratna. Aku
meangguk.
“Ya,
aku kenal. Beliau ngajar Matematika, kenapa?” aku balik bertanya.
“Bisa
dibilang sih, beliau paling alim dan paling baik di antara pelatih-pelatih yang
lain. Juga paling cakep” kata Ratna sambil nyengir. Aku meangguk, memang sih.
Kata orang-orang, Pak Arlin paling alim di rumahnya (Rumah bujang, soalnya
belum nikah di situ biasanya ditinggali oleh beberapa orang. Klo Ibu guru
selain wali asrama ada juga yaitu rumdis alias rumah gadis). Tapi kalau paling
ganteng? Nggak tahu deh jangan nanya ke saya.
“Eh,
di sekolahmu Pak Arlin diledekkin nggak? Maksudnya di jodoh-jodohin” dia
berkata cepat sebelum aku menyelanya. Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng.
“Rasanya
tidak, lagi pula kalau memang ada kau pasti tidak kenal kan?”
“Iya-ya”
dia pun meangguk.
“Gini,
soalnya Pak Arlin itu satu-satunya pelatih yang belum nikah. Yang lain udah
nikah bahkan udah punya anak. Teh Fera aja mau nikah bulan depan. Oh iya, kata
Teh Ami Pak Arlin pernah suka sama atlit sini pas kejurnas” Ratna mulai
bercerita. Aku mulai tertarik.
“Teh
Ami adiknya Pak Arlin bukan?” tanyaku.
“Kok
kamu tahu?” Ratna balik bertanya.
“Pak
Arlin pernah cerita. Katanya ibunya Pak Arlin menikah lagi gara-gara bapak Pak
Arlin meninggal gara-gara kecelakaan waktu masih kecil. Akhirnya lahir Teh Ami
” ceritaku.
“Yup
betul! Terus Pak Arlin suka sama atlit itu tapi Pak Arlin kuliah di Surabaya.
Terus dua tahun lalu Pak Arlin pulang terus ngelatih di sini tapi….”
“Eh,
katamu Pak Arlin baru ngelatih setahun terakhir, ops maaf” aku menutup mulut
menyadari aku telah menyela pembicaraan orang.
“Makanya
dengerin dulu. Terus Pak Arlin ngelamar orang itu tapi ditolak sama bapak
angkatnya. Alasannya sih masih kuliah, terus perempuannya belum siap dan masih
focus sama pertandingannya juga anak-anak binaannya. Pak Arlin patah hati dan
pergi ke Bandung, katanya sih ngajar. Dan tahun kemarin Pak Arlin balik lagi”
Ratna mengakhiri ceritanya.
“Jadi
begitu ceritanya” Aku meangguk.
“Ratna!
Kemana aja kamu?” kami menoleh. Sesosok remaja berjilbab berjalan menghampiri
kami.
“Maaf
teh, lagian dari tadi aku duduk di sini. Teh, ini muridnya Pak Arlin di
As-salam. Trevi, ini Teh Ami adiknya Pak Arlin” Ratna memperkenalkanku kepada
temannya yang ternyata Teh Ami adik Pak Arlin.
“Hei,kamu
muridnya Aa Arlin di As-salam ya? Kelas berapa?” tanyanya ramah.
“Aku
kelas 8 , kakak kelas berapa?” Tanya ku.
“Ooh,
aku kelas 10. Ratna juga kelas 8” jawab Teh Ami.
“Kak,
aku cerita tentang orang yang disukai Pak Arlin. Yang Pak Arlin patah hati
sampai lari ke Bandung” kata Ratna.
“Huss
jangan fitnah deh! Lagian A Arlin nggak patah hati. Kebetulan A Arlin memang
keterima ngajar di SMA sana. Terus pindah deh ke As-Salam” Teh Ami menutup
ceritanya.
“Trevi!!”
aku menoleh.
“Eh,
aku duluan yah” aku pamit lalu bangkit.
“Trevi,
punya nope nggak?” Tanya Ratna. Nope artinya nomor HP.
“AKu
nggak punya” jawabku sambil menggeleng.
“Kalau
FB?” tanyanya lagi.
“Punya
kertas?” tanyaku.
“Nih,
pakai HP aja” Ratna mengangsurkan HP. Aku mengetikkan sesuatu.
“Nih
alamat e-mailnya udah ya” aku melambaikan tangan dan berlari menghampiri
teman-teman.
-_-
Esoknya…..
“Anak-anak,
kumpulkan tugas yang bapak berikan lewat meja piket kemarin” perintah Pak
Arlin. Teman-teman mengumpulkan buku masing-masing, aku pun termasuk. Semalam
aku bertanya pada Rena dan Fira.
“Kemarin
aku ketemu Pak Arlin” kataku.
“Di
mana?”Tanya Fira.
“Pas
tanding POPDA kemarin” jawabku.
“Memangnya
Pak Arlin ngapain?” sahut Yeni anak kamarku yang lain.
“Katanya
Beliau damping tim silat” jawabku.
“Tim
silat TS?” Tanya Fira. Maksudnya ekskul ku.
“Bukan,
tim silat A. lawannya TS” jawabku.
“Wah,
parah banget tuh. Bukannya ngedukung murid sendiri” kata Rena sambil
menggelengkan kepala.
“Sudahlah,
lagian Pak Arlin udah lama di situ. Terus aku juga ketemu sama adiknya Pak
Arlin”
“Ooh,
yang Teh Ami itu ya? Cantik nggak?” Tanya Fira.
“Cantik
sih..” kataku.
-_-
“Pak,
kata Trevi dia ketemu bapak di GOR waktu POPDA” sahut Fira sebelum Pak Arlin
mulai mengajar.
“Ya,
bapak ketemu Trevi juga anak-anak As-salam lain. Bagaimana pertandinggannya
Trevi?” Tanya Pak Arlin.
“Jangan Tanya ke saya pak. Tanyakan saja pada
teman-teman yang ikut tanding. Tapi memang pada gregetan” jawabku. Pak Arlin
pun tertawa.
“Yah
memang begitulah. Bapak salut kepada anak As-Salam yang bisa mewakili silat”
tiba-tiba Pak Arlin terdiam.
“Kenapa
pak?” Tanya anak kelas heran. Pak Arlin menghela nafas.
“Sebenarnya
saya tidak ingin menceritakan kepada kalian. Namun karena sudah terlanjur ya…”
perkataan Pak Arlin menggantung.
“Cerita
aja pak, kita bisa jaga rahasia kok” kata Tiwi di sertai anggukan yang lain.
“Begini,
kemarin saya menemukan perempuan yang sempat menghilang dalam hidup saya. Bisa
di bilang saya menyukai perempuan tersebut”
“Wah
pak, Bu Nida mau di kemanain pak?” Tanya Dela.
“Iya
pak, kasihan Bu Nida tuh” sahut yang lain ikut-ikutan.
“Eh,
Bu Nida itu akan menjadi milik orang lain. Lagi pula bapak menyukai perempuan
ini sebelum bapak menyukai Bu Nida..”
“Jiah..”
sahut anak-anak kompak.
“Pertama
kali bapak bertemu dengan perempuan itu saat pertandingan kejurda. Lalu bertemu
kembali saat sama-sama mewakili provinsi dalam Kejurnas. Setelah Kejurnas,
bapak ingin melamarnya namun di tentang oleh orang tua angkat juga kandungnya
karena masih terlalu muda dan masih kuliah. Setelah itu bapak di terima di
sebuah SMA di Bandung dan mengajar di sana selama setahun. Setahun kemudian
bapak memutuskan untuk pulang, dan bapak mengirimkan lamaran ke sini. Setelah
di terima bapak pun pulang ke sini. Setiap dua hari sekali bapak menjenguk
keluarga bapak di daerah sini” Pak Arlin istirahat sebentar. Sedangkan kami
mendengar dengan minat.
“Dan
ternyata bapak bertemu dengan perempuan itu di tempat dan waktu yang tidak
terduga. Terakhir bapak melihat, perempuan itu terlihat gagah namun tetap
cantik dalam pakaiannya juga kerudungnya sangat cocok dengan perempuan itu” Pak
Arlin tampaknya mengakhiri ceritanya.
“Terus
bapak mau melamar lagi?” Tanya Tiwi.
“Entahlah,
tampaknya sampai sekarang bapak masih menyukai perempuan itu. Namun ya… bapak
masih belum berani nak” tampang Pak Arlin seperti pasrah. Tiba-tiba kepalaku berputar-putar
mencari sebuah fakta atau ingatan yang tertinggal, tapi apa ya? Dan Bingo! Aku
menemukannya, tapi baru dugaan sih. Ah udahlah, males mikirinnya.
-_-
Kenapa
hari ini aku melihat wajah Pak Arlin setegang itu ya? Tumben, kayaknya bakal
ada sesuatu yang terjadi nih.
“Wi,
keliatannya muka Pak Arlin tegang begitu?” Tanya ku pada Tiwi. Kelas sedang
mendengarkan penjelasan Pak Arlin.
“Jiah
dah, yang merhatiin” goda Tiwi pelan. Aku merenggut.
“Apaan
sih, tanpa merhatiin udah keliatan kali” balas ku.
“Ya,
yang di belakang ada apa?” Pak Arlin langsung menoleh.
“Eh,
nggak pak!” sahut ku cepat. Pak Arlin lalu berbalik dan kembali menjelaskan.
-_-
Dan
aku menemukan lagi tampang itu. Bukan Pak Arlin sih, tapi Teh Aulia. Kenapa
sih? Kenapa aku harus menemukan tampang ini dalam dua kali sehari.
“Kenapa
teh?” Tanya Ulya. Teh Aulia cepat menggeleng.
“Teh,
cerita aja daripada di pendem nggak baik” kata Widi. Kami sedang beristirahat
sambil meluruskan kaki.
“Teteh
lagi tegang nungguin sesuatu” akhirnya Teh Aulia bicara.
“Nungguin
apa? Pertandingan?” kali ini Widi yang bicara.
“Bukan”
“Terus
apa dong?” Tanya Melati (Dia jarang latihan makanya baru nongol sekarang).
“Ada
deh”
“Yee
teteh jangan gitu dong. Aku tahu! Jangan-jangan teteh bakal di lamar!” seru
Dena (Ini juga).
“Aah,
sok tahu kamu!” seru Teh Aulia.
“Waah,
kalau gitu teteh kapan nikahnya?” sahutku.
“Nggak
pa-pa kali nikah muda. Teteh tahfidz aja banyak yang nikah muda” sahut Tera.
“Yee..teteh
kan masih punya banyak impian. Memangnya kamu mau nikah muda?” Teh Aulia balik
bertanya.
“Mau
teh, katanya mau nikah habis lulus SMP!” sahutku. Tera pun menjitak kepalaku.
“Apaan sih! Kamu tuh yang mau nikah habis
lulus SMP!” balas Tera.
“Udah-udah.
Ayo lanjutin lagi!” Teh Aulia pun melerai kami.
-_-
Seminggu
kemudian, aku melihat perubahan raut wajah pada Pak Arlin. Beliau terlihat
lebih cerah!
“Aduh
kenapa sih, kok Pak Arlin mukanya girang gitu sih?” batin ku.
“Pak
kok bapak mukanya seneng gitu sih?” Tanya Hani di kelas. Pak Arlin hanya
tersenyum, wajahnya berbinar.
“Baiklah,
ini mengakhiri rahasia antara bapak dan kalian. Setelah melalui prjalanan yang
panjang dan melelahkan… Akhirnya bapak berhasil mempersunting wanita itu” beber
Pak Arlin.
“Eh
iya pak??” jawab kami. Namun serentak terdengar ‘sstt’ pertanda untuk tidak
rebut agar tidak bocor.
“Weeii…”
seru kami.
“Ciye..bapak…”
sahut yang lain.
“Rencananya
bapak akan menikah saat liburan. Tanggal tepatnya bapak belum tahu pasti”
lanjut Pak Arlin.
“Yahh
bapak, kita nggak bisa datang dong” sahut anak-anak kecewa. Dan liburan tinggal
seminggu lagi.
“Ah,
lagian bapak nggak mau nyelenggarain pesta mewah, sederhana saja yang penting
berkah” jawab Pak Arlin.
“Amiin”
koor anak-anak.
“Pak
sebutin namanya” pinta kami. Namun Pak Arlin menggeleng. Kami tetap meminta
namun Pak Arlin tetap bersikukuh menolak.
“Teman
serumah bapak juga tahu?” Tanya kami. Pak Arlin meangguk.
“Wah,
kalau gitu kita Tanya ke orang rumahnya aja” usul Fera.
“Eit,
bapak larang kalian untuk mengintograsi guru-guru juga orang-orang terdekat
bapak, mengerti? Nanti kalian akan tahu lewat undangan yang bapak sebarkan”
“Yahh
bapak…”
-_-
Hari
ini seminggu menjelang kepulangan. Bearti seminggu lagi aku akan naik kelas 9,
yeah ganbatte! Pasti berat tapi nikmati saja. Dan hari ini latihan terakhir
sebelum liburan. Dan Teh Aulia mengumpulkan kami.
“Pertama,
teteh minta maaf kalau selama ini teteh berbuat salah kepada kalian baik secara
lisan atau perbuatan dan ada bagian dari teteh yang membuat kalian tidak nyaman
dan berkenan. Kalian mau maafin teteh nggak?” Tanya Teh Aulia.
“Mau
teh, teteh maafin kita juga ya” balas Silvi mewakili kami.
“Iya
kok, teteh maafin kalian. Terus satu lagi, teteh akan menikah”
“Iya??
Kapan?? Kok ojol-ojol sih, memang kapan teteh di lamar??” Tanya kami
kaget.
“Aduh,
kalau ngasih pertanyaan satu-satu dong. Teteh dilamar dua minggu lalu. Kasihan
calon suami teteh. Dia dites sama abah berat. Karena abah lulusan pesantren Di
Tanya pemahaman agama panjang lebar, tentang pernikahan, komitmen, latar
belakang, dan lain-lain. Bahkan sampai di suruh duel sama A Asep” cerita Teh
Aulia.
“A
Asep yang kakak seperguruan teteh?” Tanya Jihan. Teteh pun mengguk.
“Yaa
sedangkan bapak menyerahkan keputusan sama teteh. Akhirnya setelah istikhoroh 3
hari, teteh menerima lamaran orang tersebut” Teh Aulia mengakhiri ceritanya.
“Wah,
sama siapa teh? Teteh sudah kenal lama atau udah lama suka sama orang itu?”
tanya Melati. Teh Aulia mengangguk dan mukanya memerah!
“Waaa..
tanggal pastinya kapan nih teh?” Tanya Silvi tidak sabar.
“Lho,
mestinya kalian sudah tahu. Undangan sudah disebar bukan?”
“Jadi
teteh??” tiba-tiba aku terlonjak. Teman memandangiku kaget.
“Kakak
kenapa??” Tanya Dena. Aku bergegas menghampiri Teh Aulia dan membisikkan
sesuatu. Teh Aulia mengangguk.
“Tuh
tahu..” kata Teh Aulia.
“Yes!
Bingo!” aku mengepalkan tangan.
“Kakak
kenapa sih?” Tanya Widi heran. Namun Silvi buru-buru menghampiri ku.
“Kamu
tahu siapa orangnya Tre?” tanyanya. Aku mengangguk dan membisikkan sesuatu.
Silvi tampak tidak percaya.
“Eh
iya teh??” seru Silvi. Teh Aulia mengangguk. Dalam waktu singkat kami
dikerubuti oleh teman-teman.
“Kakak,
kasih tahu dong” pinta mereka. Silvi segera berbisik. Sejurus kemudian. Mereka
terlihat terkejut juga kaget.
“Wah
jadi teteh….?” Dan tak lama kami pun rebut sedangkan wajah Teh Aulia semakin
memerah!
Selesai
Bekasi, 6 September 2011
RASA
SYUKUR ITU INDAH
Oleh Farras Hafidza
Tik…tik..Hujan
masih ada bumi basah oleh cucuran air rahmatnya. Ya Allah basahi jiwa kami
dengan selalu menyebut nama Mu. Lindungilah kami dari godaan syetan yang
terkutuk. Ya Rabbi…Ampunilah dosa kami tunjukilah kami ke jalan yang benar
yaitu jalan yang Engkau sayangi….
-amin-
“Fitri kamu lagi ngapain sayang”, terdengar ibu memanggilku dari bawah,”Fitri
habis solat Bu, ada apa?”
tanyaku seraya melipat mukena ku.. “ini ada telefon untuk mu”,”oh iya bu..”jawabku
singkat sambil meniti satu persatu anak tangga.
“Halo, maaf ini siapa ya?”, ”ini Dara” terdengar
suara menjawab dari ujung telfon di sana. Oh Dara anak sekelas dia adalah sainganku
memperebutkan juara 1 di kelas, ada apa ya dia telfon sore-sore begini batinku
dalam hati. ”Begini Fit kamu udah tau belum kalau besok kelas 9-4 mau bikin acara bukber di panti asuhan setiap anak di haruskan menyumbang minimal
50.000 buat ongkos sama sumbangan buat beli makanannya. Terus kamu sama aku dapet tugas nyari catering untuk porsi 80 orang gitu. Kamu ada usul nggak mau pesen catering dimana kalau aku ada dekat rumahku
catering tapi 1 porsinya 10.000 sedangkan dana kita cuma 500.000 gimana kamu ada chanel nggak?” Tanya Dara panjang lebar, ”oh catering aku punya kenalan
Cuma setahu aku 1 porsinya 6000 cuma mungkin kalau kita pesan banyak bisa di
diskon,nanti deh aku tanya ibuku dulu ya siapa tahu dia punya kenalan catering”
jawabku.
“Oh ya sudah nanti kalau kamu sudah tanya telfon
aku ya nanti aku cari info lagi makasih ya Fitri Assalamualaikum” Dara
mengakhiri pembicaraan sore ini, setelah aku membalas salam dan menutup telefon
aku langsung pergi ke kamar ibu untuk mananyakan masalah catering.
Alhamdulillah
lega rasanya ternyata ibu punya kenalan catering yang cukup untuk dana yang
telah di sediakan kata ibu menunya lengkap 4 sehat 5 sempurna itu usahanya
ibu-ibu pensiunan yang hanya mencari kerjaan dan tidak memikirkan untung yang
penting bisa di pakai untuk catering berikutnya. Segeralah aku memberi kabar
pada Dara kata Dara besok ia mau main ke rumah untuk membicarakan pada aku dan
ibu.
Di
sekolah kami di beri tahu ulang oleh wali kelas kami beserta pembagian
kelompoknya. Aku dan Dara bersyukur telah mendapat jalan keluar dari masalah
kemarin sore.
Selesai
sekolah Dara langsung main ke rumahku ia sudah pamit pada ibunya tadi pagi mau
main ke rumah teman.Senangnya iu di rumah tidak pergi jadi kami bisa lebih
jelas menanyakan cateringnya pada ibu.
Kata ibu kita bisa pesan melalui telefon saat itu
juga kami langsung menelfon perusahaan catering tersebut memesan 80 porsi di
antar ke panti asuhan milik ustad Rahman di jalan raya merdeka nomor 32. Dan
Alhamdulillah kami bersyukur tidak ada halangan dan amanah sudah ditunaikan.
Di
sekolah hari berikutnya teman-teman belum melaksanakan amanahnya masing-masing
padahal besok sudah harus siap semua. Aku kasihan melihat teman-teman yang
kerepotan mencari chanel dan dengan biaya yang telah di tentukan untuk
masing-masing bidangnya. Aku dan Dara tidak bisa tinggal diam akhirnya kami
membantu mereka satu persatu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku dan
Dara kalau ibu tidak punya chanel bisa-bisa aku dan Dara saat ini juga kebingungan
seperti teman-teman yang lain. Terima kasih ya Allah.
“Dara
acaranya nanti sorekan?” Tanyaku
memastikan,”iya nanti setelah sekolah selesai kita pulang dulu untuk berganti pakaian lalu kita kumpul lagi di sekolah pukul
4” jawab Dara menjelaskan,”eh gimana untuk transpotnya Fathan sama Faiq sudah dapatkan?”,”iya
Alhamdulillah sudah dapat tadi Fathan sudah lapor ke ketua kelas kebetulan aku
sedang lewat jadi aku tahu”,”oh kirain
kamu nguping pembicaraan mereka”,”ah dasar Fitri, Fitri menuduh yang nggak-nggakkan.”,”nggak lah Cuma
bercanda kok,hehehe”,”iya-iya aku percaya deh sama kamu, yuk baris
sepertinya sudah bel tadi” ajak Dara, ”yuk”aku menyetujui.
Beruntung sekali aku punya teman sebaik Dara
walaupun kami adalah saingan sejak SD namun Dara tetap peduli padaku.Dan ia
tidak pernah menganggapku sebagai musuhnya melainkan kami saling melengkapi
kekurangan kami.
Sore harinya di panti asuhan…..
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 namun catering yang
kami pesan belum juga datang. ”Fit bagaimana dong sampai jam segini kok belum
juga datang ya? Tadi si Rahmat udah nanyain tuh, aku takut kita nggak
di percaya lagi sama temen-temen ”,”iya nih Dara dari tadi aku juga nunggu kok
belum datang juga ya? aku sudah sms ibu tapi ibu belum ngabarin juga sampai
sekarang”,”eh iya Fit kamu waktu itu nyimpen nomer cateringnya nggak?” Tanya Dara khawatir sama
khawatirnya denganku.”enggak aku sama
sekali nggak kepikiran kalau sampai begini, duh gimana nih Dar? mungkin nggak ya Dar kalau cateringnya nyasar? waktu
itu kamu ngasih alamat lengkap kan?” tanyaku pada Dara ”masa sih nyasar?aku udah ngasih alamat selengkap-lengkapnya.
“salatullah..salamullah..”,”eh
Fit HP kamu bunyi tuh mudah-mudahan aja dari ibu kamu”,”eh iya amin deh kalo dari ibu aku,ntar ya aku jawab telefon
dulu”Alhamdulillah ibu yang telfon batin ku senang.
“halo Ibu….” aku menanyakan panjang lebar dengan
panik pada ibu mungkin ibu pusing juga mendengar pertanyaan tanpa spasiku, tapi
ibu tetap bisa mencerna semua pertanyaan ku dan menjawabnya dengan lengkap dan
jelas walaupun agak terburu-buru.
“Dara, bagaimana dong ternyata cateringnya yang
mengantar sedang izin mudik jadi tidak ada yang mengantarkan cateringnya,
otomatis kita harus mengambilnya sendiri. Tapi pakai apa untuk membawa 80 porsi
sekali angkut? karena waktunya tidak cukup sekarang sudah mau azan sedangkan
ibuku sedang pergi dan supir dipakai ibu”, aku menjelaskan masalah kami pada
Dara, ”ya sudah aku coba telefon ayahku dulu kalau ayah ku bisa kita bisa di
antar ayah ku”Jawab Dara memberi solusi yang cukup baik.
Aku menunggu dengan perasaan takut aku bedo’a
semoga ayahnya Dara bisa menolong kami,ya Allah bantulah kami menuju jalan
keluar yang baik.Amin
“Fitri Alhamdulillah ayahku sedang dalam perjalanan
menuju ke sini” Dara memberi tahuku dengan wajah bersinar. terimakasih Ya Robbi
Engkau memang maha Berkehendak.
Alhamdulillah
setelah catering datang acara berjalan seperti semula.
Saat melihat anak-anak makan dengan lahap aku
merasa bersyukur atas apa yang telah Allah beri padaku. Alhamdulillah aku masih
di beri keluarga, rizki yang cukup. dan masih banyak lagi yang bisa ku syukuri
dengan melihan kondisi panti.
Acara
selesai pada pukul 7 anak-anak di haruskan pulang kerumah masing-masing banyak
anak yang sudah di jemput banyak juga yang pulang naik angkutan umum. Contohnya
aku, aku harus pulang sendiri karena kedua orang tua ku sibuk di kantor dan
kakak tidak mungkin menjemput karena harus jaga rumah dan adik. Saat aku hendak
menyetop angkot jurusan pondok kopi terdengar klakson mobil yang membuatku
bahagia ternya yang mengklakson tersebut adalah mobil ayah dan didalamnya ada
Ibu ,wow.. ternyata ada kakak dan adik juga. Senangnya hatiku jarang sekali
suasana seperti ini hinggap di keluargaku.
Terimakasih
ya Allah,memang benar kata ibu tempat seperti asuhan adalah tempat yang cocok
untuk kita dapat mensyukuri semua yang telah di berikan Allah. Dan cobalah
melihat kebawah agar kita dapat bersyukur pada Allah banyak orang-orang yang
tidak seberuntung kita, janganlah kita melihat ke atas karena kita tidak akan
pernah bersyukur kalau kita selalu melihat ke atas, kecuali itu dapat mendorong
kita agar lebih baik.
SENYUM
BAHAGIA AYAH BUNDA
Oleh
Tania Fajarwati
Aku adalah anak
pertama dari empat bersaudara. Nama ku adalah Dina Shofia. Usia ku sebelas tahun. Aku duduk di bangku
kelas lima sekolah dasar. Aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kegiatan
keseharian ku adalah sekolah dan membantu ibu berjualan sayur-sayuran di pasr. Sebenarnya dulu ibu
bekerja sebagai karyawan di toko buku, tetapi karena toko buku itu bangkrut ibu
terpaksa berhenti bekerja, dan akhinya ibu memutuskan untuk berjualan sayur di
pasar. Alhamdullah penghasilan ibu sehari-hari cukup untuk memenuhi kebutuhan
keluarga sehari-hari.
Suatu hari bapak
terbaring lemah di tempat tidur. Badan bapak panas sekali, bapak mual-mual dan
tidak nafsu makan. Ibu binggung, kemarin sepertinya bapak tidak apa-apa. Sudah
tiga hari bapak berada di rumah dan belum di bawa ke puskesmas. Karena
puskesmas nya jauh dari rumah kami, dan kami pun tidak empunyai kendaraan untuk
membawa bapak berobat. Pada akhirnya ada tetangga kami yang mau membantu kami.
Di bawalah bapak ke puskesmas, pada saat di jalan bapak erlihat sangat lemas
sekali, mukanya pucat. Pada saat di perjalanan
bapak berpesan kepada kami “ jagalah diri kalian, lindungilah ibumu nak,
banggakan semua orng yang mengenalmu. Suatu
saat nanti bapak ingin semua anak bapak berhasil! Berguna bagi semua
orang. Bapak sayang kalian.”
Tanpa terasa air mata telah
membasahi pipiku, bapak telah pergi meninggalkan kami. “ ya allah ampunilah
dosa bapak, terimalah semua amal ibadahnya, semoga bapak mendapatkan tempat
terbaik di sisi-Mu.” Amin ya
rabbal’alamin
Tidak terasa satu
tahun sudah bapak pergi meninggalkan kami. Kini aku sudah berusia dua belas
tahun dan sudah berada di tingkat paling atas di sekolah yaitu kelas enam. Di sini aku harus belajar lebih giat
dan lebih serius! Karena nanti aku akan menghadapi berbagai macam ujian. Salah
satunya adalah Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Aku harus bias mendapatkan nilai
yang terbaik, aku ingin membanggakan ibu dan alm. Bapak.
Waktu berjalan
begitu cepat, tidak kerasa UASBN sudah aku lewati, dan hari ini sekolah ku
menggadakan acara perpisahan. Hasil UASBN
akan di umumkan, aku khawatir, aku takut kalau ternyata nilai ku tidak
memuaskan. Tiba-tiba teman di sebelahku menepuk dan menmanggil nama ku. Aku pun
terkejut dan ternyata dari tadi nama ku di panggil oleh kepala sekolah ku.
Beliau memberi ku sebuah amplop sambil
mengucapkan “selamat nak”. Aku pun tak sabar untuk melihat isi dari amplop itu,
setelah aku membuka isi amplopnya ernyata NEM aku sangat memuaskan. Aku
mendapat nilai yang paling tinggi di antara teman-teman ku yang lain. Pihak
sekolah memberi ku beasiswa sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku pun
ingin cepat-cepat memberi tahu ibu.
Sesampainya di rumah…
“Ibu, ibu, ibu..” aku memanggil ibu
sambil mencarinya.” Huft, mungkin ibu sedang tidak ada di rumah. Mungkin
sebentar lagi ibu datang.”
Tiba-tiba ada yang mengetuk
pintu rumah ku. “assalamualaikum” dengan
cepat aku segera membukakan pintu “ pasti itu ibu! Aku yakin.” Ternyata aku
tidak mengenali siapa yang mengetuk rumah ku. Itu bukan ibu.
“waalaikumsalam. Silahkan masuk bi,” ternyata
dugaan ku salah. Itu bukan ibu tetapi adiknya ibu. Tetapi ko bi ita udah pulang, ibu belum yah? “ibu kemana bi?” Tanya ku
“Dina, ibumu kecelakaan. Ibumu
tertabrak mobil pada saat perjalanan mau pulang ke rumah sekarang ayo kamu ikut bibi.”
“Aku tidak percaya! Pasti ini salah.
Pasti yang kecelakaan bukan ibu.”
“ayo din, ikut bibi”
“ itu Din, itu ibumu.” Dengan cepat aku menghampiri ibu.
“Ibu, ibu kenapa? Bangun ibu,
bangun!” ibu pun segera di bawa ke rumah sakit terdekat dengan ambulance. Aku
selalu mengikuti Ibu kemanapun ibu di bawa.
“Tunggu sebentar ya dik. Kamu
dialarang masuk” kata seorang suster.
Akhirnya aku
menunggu ibu di luar ruangan bersama bibi. Aku sangat panik. “ya allah semoga
tidak terjadi apa-apa dengan ibu.” Ammin
Sudah tiga puluh menit ibu di dalam,
lama sekali dokter memeriksa ibu.
Tidak lama kemudian. Ada seorang
dokter menghampiri ku. “ apakah kamu anda keluaganya ibu Mira?” Tanyanya bi
Ita. “iya dok, betul saya keluarga ibu Mira. Bagaimana keadaan kaka saya dok?” jawab bibi Ita.” Ibu saya baik-baik
saja kan dok?” “maaf kami sudah
berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan
ibumu. Tapi mungkin allah
berkehendak lain.”jawab dokter itu
Aku pun tak kuasa menahan tangi. Aku
segera pergi meninggalkan dokter itu dan bibi. “ini gak mungkin! Kenpa secepat
ini ibu pergi meninggalkan kami ya allah.. mengapa engkau secepat itu
menggambil nyawa ibu ku ya allah, setelah kemarin bapak pergi meninggalkan
kami. Apa salah dan dosa kami ya allah, sampai engkau tega mengambil nyawa
bapak dan ibu kami secepat itu.” “Dina
sudah nak, tidk baik bicara seperti itu kepada allah. Mungkin allah memberikan
yang terbaik untuk kita”. “Tapi bi, ku ingin menunjukkan sesuatu sama ibu, aku
mempunyai kabar gembira buat ibu. Aku ingin ibu tau, dan aku yakin ibu pasti
senang mendengar kabar ini. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah
bi.” “Bibi yakin din, pasti ibumu akan tau apa yang ingin kamu tunjukkan”
Enam tahun kemudian…
Hari ini aku sudah menamati Sekolah Menengah Atas (SMA). Alhamdulillah
lagi-lagi aku mendapatkan basiswa untuk melanjutkan kuliah di kota Paris.
Seandainya Bapak dan Ibu masih ada. Pasti mereka akan bangga mendengar kabar
ini.
Bapak , Ibu aku telah berhasil membuat orang yang
mengenalku bahagia. Seandainya engkau masih ada,.. aku ingin melihat engkau
tersenyum bahagia.. Terima kasih ya allah atas semua nikmatmu yang telah engkau
berikan kepada hamba-Mu ini.. aku berharap Bapak dan ibu ku tersenyum bahagia
melihatku, walaupun aku tidak bisa
melihat mereka tersenyum.. J
My
Dream
Ratu
Salsabila
Sudah larut malam, aku belum juga
tidur. “Fan, kok belum tidur sih?” tanya mama ketika membuka pintukamar Fania.
“Hmm iya ma,Fania belum ngantuk.” Jawab Fania bohong. “Kenapa lagi sih Fan? apa
yang kamu pikirkan? mama tau kok kalau kamu bohong.” jawab mama menyelidiki.
“Udahlah ma, Fania mau tidur dulu, besok aja ya ma.” “ya sudah kalau kamu belum mau cerita sekarang.”
jawab mama.
“Huuuaaaahhhh….. Ngantuk banget. Jam
berapa sih sekarang?”
“Trreenngggg!!!!!!” jam beker Fania menunjukkan
angka 7.
“Ya Allah, jam 7, telat deh aku.”
Fania kaget dan langsung bergegas ke kamar mandi.
“Faniaaaaaaa!” teriak mama dari bawah.
“Iya maaa Fania lagi mandi.”
“Ya Allah, Fania udah jam 7. Cepetan
Fan, Pak Ujang udah nunggu kamu dari tadi tuh.” ujar mama sambil menunjuk Pak
Ujang yang dari tadi menunggu Fania di garasi mobil.
10 menit kemudian,,,
“Ma, Fania berangkat dulu ya. Assalamualaikum.
”Fania menuruni tangga dengan terburu-buru. Tidak lupa ia sempat mengambil roti
dan meminum susu yang telah mama sediakan di meja makan.
“Iya Fan,hati-hati ya.”
***********
Fania Marwa siswi kelas
2 SMA itu akrab dipanggil Fania. Ia bersekolah di SMA Triguna, Banten. Fania adalah
anak bungsu dari 2 bersaudara, ia mempunyai kakak laki-laki yang bernama Kevin.
Kegiatan yang dilakukan Kevin sekarang adalah photographer. Fania selalu mendapat
juara di kelasnya, memang dari kecil Fania sudah berprestasi. Lain halnya dengan
kakaknya, Kevin tidak ingin melanjutkan kuliahnya, ia hanya ingin menjadi
photographer profesional. Tapi Fania tetap semangat dalam menjalankan pendidikannya.
“Huh,,Alhamdulillah aku tidak telat.”
Fania dengan segera memasuki kelasnya.
“Eh Fan, tumben baru datang?” tanya Vriska,
teman dekat Fania.
“Iya, aku telat bangunt adi. Hehe.”
Jawab Fania polos.
“…….” Mereka diam sejenak. Suasana kelas
menjadi hening.
Tiba-tiba……
“Selamat pagi anak-anak!” Bu Siska,guru IPA yang lucu itu datang.
“Selamat pagi Bu…” jawab anak-anak serentak.
90 menit telah berakhir.
Dan waktunya istirahat.
“Ttteeetttt…..” bel sekolah berbunyi.
Sorak-sorai terdengar
dari luar kelas. Murid-murid berhamburan keluar menuju kantin, tempat handalan pastinya.
“Fan, ke kantin yuk!” ajak Vriska.
“Ayuk…”Fania dan Vriska langsung menuju
kantin dan memesan dua mangkok bakso dan dua es jeruk, pesanan favorite mereka.
“Mas, kaya biasa ya.” Ucap Vriska
“Oya Fan,nanti kamu rencana kuliah di
mana?”
“Hmm aku maunya si di luar Vris, hehe”
jawab Fania malu-malu
“Wah bagus tuh. Boleh juga. Di mana?”
“Belum tau juga sih Vris, aku belum bicarakan sama mama
aku. Tapi aku ingin sekali di Perancis.”
“Perancis? Bagusbagus.. Semoga kecapai
deh” Vriska mendoakan.
“Amiin. Memangnya kamu mau di mana Vris?”
“Aku masih bingung, belum tau ni. Hehe.”
Beberapa jam
kemudian,,,,
Pulang sekolah……..
“Vris, duluanya.”
“Iya Fan, salam buat Tante Mona ya.”
Tante Mona itu mamanya Fania.
“siiiippp!” Fania member tanda oke.
Sesampainya di
rumah…..
“Mamaa Fania pulang.”
“Ma,ada yang mau Fania bicarakan.”
“Tentang semalam?” tanya mama
curiga.
“Ma, Fania mau melanjutkan kuliah di
luar ma. Bolehkan ma? Fania ingiin sekali. Fania janji deh, Fania akan membuat
mama sama papa bangga sama Fania. Ya ma?” Fania membujuk mama.
“Maksud kamu di Perancis?” Mama
memang sudah tau sekali dari dulu kalau Fania memang memimpikan bersekolah di
Perancis.
“Iya ma.Bolehkan?”
“Hmm,,,” mama berfikir
“Ya tentu bolehlah sayang.”
“Yang benar ma?”Fania tidak percaya.
“Iya. Tapi mama bicarakan dengan
papa kamu dulu ya sayang.”
“Oke deh ma.”Fania sangat senang dan
tidak percaya kalau mamanya setuju dengan keinginannya.
********************
“Eh Fan,kata mama
sama papa, kamu mau kuliah di Perancis? Gaya kau. Buat apa sekolah jauh-jauh? Buang-buang
duit tau. ”Kevin memang tidak suka adiknya berprestasi.
“Iya. Memangnya kenapa?
Sirik aja sih. Suka-suka aku dong. Memangnya mas tidak mau sekolah. Wuuu dasar masa
depan cerah dong mas.” Ucap Fania yang asal.
“Yeee enak aja. Memang
kira kalau mas tidak sekolah masa depan mas suram? Tidak juga kali. Mas bisa jadi
photographer terkenal. ”Kevin tidak mau kalah.
“Iya deh terserah
mas Kevin aja. ”Fania pasrah, karena dia tidak mau berdebat dengan kakaknya Cuma
karena masalah sepele.
Fania memasuki
kamarnya. Tiba-tiba mama masuk ke kamar Fania yang letaknya tidak jauh dari kamar
mama.
“Eh mama,ada apa ma?”
“Mama sudah bicarakan semuanya dengan
papa, dan papa juga menyetujuinya. Papa senang sekali loh kalau kamu punya mimpi
melanjutkan kuliah ke luar negri.” Cerita mama, mendekati Fania yang ada di
tempat tidurnya.
“Alhamdulillah. ”Fania sangat senang
mendengar berita bahagia itu.
******************
2 tahun kemudian………
“Fan,udah siap? Jangan lupa barang-barangnya
say.” ujar mama mengingatkan.
“Iya ma, udah kok. Semuanya udah aku
simpan di bagasi mobil.”
“Ya sudah kalau semuanya sudah siap,
ayo kita berangkat sekarang. Nanti kamu ketinggalan pesawat deh Fan.”
“Oya aku sampai lupa. Ma,sebentar dulu
ya, aku belum mengabarkan Vriska.” Hampir saja Fania lupa.
“Vriskaa ayo dong angkat!” Fania berusaha
menelepon Vriska, tapi tidak juga diangkat.
“Fania ayo sayang sebentar lagi jam
11. ”ujar papa.
“Iya pa.”
Akhirnya, karena telepon
Fania tidak diangkat oleh vriska, Fania meng-sms Vriska.
To:085691605545
Vriska,,maaf aku baru
mengabarkan ini padamu.
Hari ini aku akan berangkat
ke Perancis,
Aku menuju airport
sekarang.
Maafkan aku karena telat
memberitahumu,
Dan maafkan aku jika
aku ada salah denganmu.
InsyaAllah aku balik
ke Indonesia 4 tahun mendatang.
Sampai jumpa…. Miss u
Fania
******************
Akhirnya Fania bahagia
melanjutkan kuliahnya di Perancis. Fania berhasil meraih impiannya selama ini. Dan
ternyata tidak hanyaFania saja yang bahagia dan berhasil meraih impiannya, tapi
sang kakak, Kevin juga berhasil menjadi photographer terkenal di Perancis. Mereka
berdua membuka lembaran baru bersama di Perancis ..Betapa bahagianya mereka.
Tak lupa kedua
orang tua mereka selalu mendoakan anak-anaknya agar menjadi orang yang
sukses..amiin!
UJIAN
LISAN
Mahmudah (IX
Asiah)
“Uaaa..”,
suara jeritan anak permata beradu di sepanjang perjalanan pulang. Pukul 16.00
kami mulai perjalanan kembali ke asrama. Di sepanjang jalan aku, Arin, Nadifa,
Nepe saling bertukar cerita. Hingga giliran Nepe bercerita aku tercengang kagum
mendengarnya. “Temanku sedang diuji ucapannya”, lalu nepe terdiam. “siapa?”,
tanyaku. Nepe hanya tersenyum. Tidak lama, ia melanjutkan perkataannya. “Dia
bilang, lebih baik diriku yang terluka daripada kerabatku sendiri”. Sambil
menebak-nebak siapa ‘dia’ yang dimaksud Nepe, aku teringat suatu kejadian.
Kurang dari sejam yang lalu, sebelum kami meninggalkan Cimuja.
Selesai upacara penutupan, kami
bergegas membersihkan sekitar tenda dan barang-barang. Beberapa anak yang sudah
selesai ada yang mengobrol dan menaiki permainan outbond. Ketika itu, aku
sedang bercanda dengan beberapa temanku. Keributan yang datang memecahkan
obrolan kami. “Ingrid semangat!”, “Ingrid pasti bisa!” Suara teriak-teriak dari
dekat danau kecil terdengar ribut. Aku berjalan ke arah sumber suara itu.
Ternyata Ingrid sedang menyebrangi danau itu dengan berjalan di atas bambu. Apa
yang membuat mereka heboh teriak-teriak? Bukankah permainan itu sudah dilewati
tadi, saat outbond?? Aku bertanya dalam hati. Mataku terarah ke tepian danau.
Oh! Rupanya ini sebabnya. Keisengan para guru kami muncul. Pak Amin dan Pak
Syaiful Anwar menggoyang-goyangkan ujung-ujung bambu yang melintang.
Ingrid memegang tali yang tergantung
di atas bambu dengan erat. Namun tangannya melemah. Digoyangkan lagi bambu itu semakin kencang, hingga Ingrid hanya bisa
memegang tali itu dengan satu tangan. Ingrid bertahan dan sedikit-demi sedikit
kakinya berhasil dilangkahkan. Sepertinya dua bapak-bapak itu semakin
‘geregetan’ ingin membuat Ingrid tercebur ke danau berair hijau itu.
Digoyangkan lagi bambu itu lebih kuat, hingga Ingrid terjatuh dengan posisi
duduk diatas bambu. Digoyangkan lagi bambu itu, hingga akhirnya bambu itu
diangkat oleh Pak Amin dan diikuti Pak Syaiful. Ingrid memeluk bambu itu dengan
erat. Kini posisi tubuhnyaseperti orang yang sedang memeluk guling. Ia mencoba
menarik badannya ke depan, namun ia melemah. Hanya bisa bertahan di atas bambu
itu. Sekeliling danau dipenuhi anak-anak permata dan beberapa guru. Kami semua
menganggap itu hanya candaan.
Setelah mencoba bertahan, Ingrid
mencoba menarik tubuhnya kembali. Kali ini ia sedikit berhasil. Tubuhnya
semakin mendekati ujung bambu. Ketika itu Ingrid berteriak, “woy!! Gak ada yang
mau nolongin niih??!”. Tidak lama, salah seorang dari kami mendekati tepian
danau. Ia menggendong ranselnya yang berat. Rupanya itu Fia. Ia mengulurkan
tangannya. Ketika Ingrid hampir menyambut tangan Fia, keisengan Pak Amin belum
selesai. Beliau mendorong tubuh Fia, yang membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan
dan byuuurr!! Fia tercebur. Awalnya Fia terlihat baik-baik saja. Namun
lama-kelamaan ia terlihat kesusahan bernafas. Ingrid dan beberapa anak
menjatuhkan dirinya ke danau itu dan mengangkat Fia ke rerumputan. Tubuh Fia
lemas. Wajahnya pucat. Ia mencoba memuntahkan air danau yang terminum. Namun
sayang, air itu tidak bisa keluar. Setelah bunda memberinya susu, Fia mulai
membaik. Kini ucapannya itu telah Fia rasakan dan Fia berhasil mengamalkan
ucapan itu.
TAMAT
Hadiah Untuk Bapak
Hana Kamila K. (IX Fatimah)
Dengan bekerja menjadi
tukang ojek payung dan penjual koran Bagas ingin memberi hadiah untuk
bapaknya. Sebulan lagi
bapak berulang tahun yang ke 41
tahun. Bagas ingin memberi hadiah pada bapak dengan uang hasil jerih payahnya.
Bapak Bagas
berprofesi sebagai tukang becak, yang penghasilannya tak menentu. Bapak
Bagas orang yang baik, bijaksana, rajin bekerja dan sangat penyayang. Bagas
juga sangat menyayangi bapaknya. Sedangkan ibu Bagas berjualan kue di pasar
tiap hari. Bagas adalah anak sulung, Bagas duduk di bangku SMP kelas 2. Bagas
mempunyai dua adik perempuan yang masih SD.
Setiap hari, keluarga Bagas selalu sholat berjama'ah. Bagas melihat bapaknya mengenakan peci dan sarung yang sudah jelek. Sarungnya pun sudah penuh tambalan. Bagas ingin sekali memberi kado peci dan sarung pada hari ulang tahun bapak. Tak terasa, hari ini tepat hari ulang tahun bapak. Uang Bagas sudah cukup untuk membeli kado itu.Setelah selesai mengojek payung, Bagas pergi ke Toko Muslim. Tapi sayang sekali, ada dua orang preman merebut uang Bagas dan membawanya kabur. Bagas mengejar kedua preman itu. Tetapi kedua preman itu malah memukuli Bagas. Bagas tak bisa melawan dan hanya bisa menangis. Bagas pun pulang tanpa membawa apa-apa
Setelah sampai di rumahnya, dengan keadaan yang parah Bagas bersujud di kaki bapaknya. Bapak heran sekali, apalagi melihat keadaan Bagas yang seperti itu. 'Maafkan Bagas pak, Bagas nggak bisa kasih kado di hari ultah bapak ini. Bagas memang nggak bisa jadi anak yang baik.' ucap Bagas sambil menangis.Lalu Bagas menceritakan semua kejadian yang dialami dari awal hingga akhir.
Setiap hari, keluarga Bagas selalu sholat berjama'ah. Bagas melihat bapaknya mengenakan peci dan sarung yang sudah jelek. Sarungnya pun sudah penuh tambalan. Bagas ingin sekali memberi kado peci dan sarung pada hari ulang tahun bapak. Tak terasa, hari ini tepat hari ulang tahun bapak. Uang Bagas sudah cukup untuk membeli kado itu.Setelah selesai mengojek payung, Bagas pergi ke Toko Muslim. Tapi sayang sekali, ada dua orang preman merebut uang Bagas dan membawanya kabur. Bagas mengejar kedua preman itu. Tetapi kedua preman itu malah memukuli Bagas. Bagas tak bisa melawan dan hanya bisa menangis. Bagas pun pulang tanpa membawa apa-apa
Setelah sampai di rumahnya, dengan keadaan yang parah Bagas bersujud di kaki bapaknya. Bapak heran sekali, apalagi melihat keadaan Bagas yang seperti itu. 'Maafkan Bagas pak, Bagas nggak bisa kasih kado di hari ultah bapak ini. Bagas memang nggak bisa jadi anak yang baik.' ucap Bagas sambil menangis.Lalu Bagas menceritakan semua kejadian yang dialami dari awal hingga akhir.
'Bagas
anakku, bapak sangat menghargai,senang dan bangga atas usahamu. Dengan kamu
nurut sama Bapak,rajin belajar, sholat dan membantu orang tua, itu sudah jadi
kado yang indah buat Bapak. Bapak sangat bersyukur dan bahagia memiliki anak
seperti kamu.'' Ucap Bapak. Mendengar itu Bagas tersenyum. Lalu Bapak dan
Bagas berpelukan. 'Terimah kasih pak' Kata Bagas.
Jilbab
itu Sunnah?
Rahma.
Nama yang cantik. Secantik pemiliknya. Rahma Az-zahra. Sempurna cantik. Wajahnya
putih mulus. Rambutnya hitam lebat. Menjuntai indah. Dan terbiasa dikuncir
kuda. Tubuhnya termasuk kategori ideal. Otak yang cerdas melengkapkan
pesonanya. Siapa pula lelaki zaman sekarang yang tak mau bersandang dengan
gadis yang hampir disebut perfect itu. Ya, ia belum seutuhnya perfect.
Ada sesuatu yang belum membuatnya lebih cantik. Apalagi kalau bukan jilbab.
“Jilbab
itu wajib,” ucap Deva, sahabat Rahma. “Masa sih? Bukannya jilbab itu sunnah?” tanya
Rahma ragu. “Rahma, jilbab itu wajib! Di Al-qur’an aja dijelaskan kok,” jelas
Deva. “Menurut ku jilbab itu sunnah..,” bantah Rahma keras kepala. Mereka terus
berdebat. “Itu kan menurut mu, kalau menurut Al-Qur’an, jilbab itu wajib. Coba
deh kamu baca terjemah Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 59,” Deva masih berusaha
meyakinkan. Yang diyakinkan masih tetap pada pendiriannya. “Ah, nggak tahu
deh.. Aku pengen sih pake jilbab, tapi, kalau pake jilbab, muka ku tuh keliatan
tua. Ntar nggak dapet cowok lagi.. Udah gitu panas,” Rahma merapihkan buku-buku
yang bertebaran di meja kelasnya itu sedangkan Deva masih berdiri tepat di
samping meja rahma. Ia mendesah pelan. Ia sangat berharap sahabatnya itu bisa
menjadi sesosok muslimah yang anggun.
Mata Rahma menyusuri rak demi rak jati tua, menatap satu persatu buku-buku yang masih berselimut plastik. Lantunan musik dari seorang penyanyi yang sekarang sedang tenar-tenarnya, diputar menemani para pelanggan toko buku. Bibir Rahma bergerak-gerak, mengucapkan lirik lagu yang sedang diputar itu. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, mengikuti irama. Ia sedang mencari beberapa novel. Pastinya sebuah novel yang dikemas untuk para remaja. Satu jam telah terlewati. Tiga buah buku sudah berada dalam genggamannya. Kini, tiba saatnya ia melakukan transaksi kepada penjaga kasir. Ia berjalan menuju kasir itu tiba-tiba, “Maaf, kamu Rahma bukan?” seorang pemuda tampan mendekati Rahma dari arah kanan. Rahma yang terkesiap akan kedatangan pemuda tampan itu menoleh. Seketika ia terpesona oleh wajah pemuda yang teduh itu. Ia bagaikan disapa oleh seorang pangeran. “Eh..a..i..iya..kok tahu?” tanyanya salah tingkah. Pemuda itu tersenyum lembut. Membuat Rahma makin terpesona. “Kamu lupa? Aku Adi, temen SD mu dulu,” ucapnya. Rahma terhenyak. Baru menyadari, “oh..i..iya..a..abis kamu beda banget,” Rahma meringis. Tersenyum kecil. Tingkahnya makin kaku. Pemuda bernama Adi itu tertawa kecil. “Tapi kamu nggak berubah banyak ya,” ujarnya. Rahma tersipu. Pipinya merah merona. Beberapa saat mereka berbincang-bincang. Mengingat kembali zaman SD nya. Ah, nostalgia. Perlahan rasa canggung Rahma luntur. Ia asyik berbincang dengan Adi. Terkadang mereka tertawa atau Rahma cemberut manja saat Adi mengingat kelakuan konyol yang pernah dilakukan Rahma. Ada rasa sreg di hati Rahma terhadap Adi. Perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul.
“Oh ya, kamu ke sini beli buku apa?” tanya Adi. Rahma menoleh ke buku-buku dalam genggamannya. Menunjukkan di depan dada. Adi mengangguk sambil ber-‘oh’. “Kamu sendiri?” Rahma melirik buku yang ada di dalam genggaman Adi. Tertulis dengan huruf sambung, Mengapa wanita harus berjilbab. Rahma tersentak membaca judul buku dalam genggaman Adi. ‘kenapa dia beli buku itu??dia kan cowok..’ gumamnya. “Hmm..ini, aku ada tugas dari guru agama, disuruh buat artikel tentang wajibnya wanita berjilbab. Lagian aku juga pengen tahu kenapa wanita diwajibkan berjilbab,” jelasnya sambil tersenyum amat teduh. “Oh,” ucap Rahma singkat. “Ngomong-ngomong kapan nih kamu berjilbabnya?” Adi mengeluarkan pertanyaan yang membuat Rahma bagai disambar petir. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu. “Ee..mm..a..anu..udah ada niat sih..mm..tapi nanti aja deh,” Rahma menunduk. Ia merasa amat malu sekali. Kemarin sahabatnya juga berkata demikian. “Loh, kenapa nanti? Bukannya jilbab itu wajib untuk kaum hawa? Tunggu apa lagi?” lama kelamaan pertanyaan Adi persis seperti yang diucapkan Deva kemarin. “Hmm.. iya sih, tapi aku aja baru tahu kemarin jilbab itu wajib,” saking kencangnya jantung Rahma berdegup, semakin aneh jawaban dari mulutnya. “Tuh kan kamu saja sudah tahu, kenapa tak melakukannya?”Adi seperti sedang mempengaruhi Rahma. Sedangkan Rahma merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu. “Nggak tahu deh. Mungkin nanti kalau udah dapet jodoh,” ujarnya. Adi menggeleng. “Kenapa? takut nggak laku ya? ah, itu pikiran kamu saja. Aku sebagai salah satu kaum lelaki, justru lebih suka kepada wanita yang menutup auratnya ketimbang yang mempertontonkan aurat atau yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai perhiasan wanita,” Adi sudah seperti ustadz yang sedang menceramahi santri-santri ketika melakukan kesalahan. ‘Ah,apa urusan dia menyuruhku berjilbab? Itu kan sesuai orangnya, huh! Dia tak ada bedanya dengan Deva’. “Tak tahulah Di, nunggu hidayah dari Allah. Udah ya aku pamit dulu. Bye,” Rahma berjalan menjauhi Adi. Ia merasa gerah dengan pertanyaan dan ceramahannya. Baru kemarin Deva memintanya berjilbab, sekarang datang lagi pangeran berkepribadian ustadz “Eh, tunggu Ma..,” Adi mencegah Rahma yang sudah berjalan menjauh darinya. Tidak seperti yang ada pada sinetron-sinetron zaman sekarang. Mencegah sambil menarik lengan wanita. Adi cukup memanggil saja, Rahma sudah menoleh. “Maaf, aku nggak bermaksud ceramahin kamu. Aku cuma pengen kamu terlihat sempurna aja. Karena sayang sekali kecantikan yang kamu miliki ini, bisa terlihat oleh orang-orang kapanpun dan dimanapun. Dan sebenarnya aku cuma mau bilang, ‘kamu cantik sekali kalau berjilbab.’ Ya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum,” kini Adi yang menjauh dari Rahma yang berdiri kaku. Kakinya sukar sekali digerakkan. Ia bagaikan seorang putri yang baru saja dilamar seorang pangeran. Bahkan bibirnya pun sulit tuk menjawab salam Adi. Ia benar benar tersanjung. Wajahnya sempurna memerah. Hatinya berdegup cepat. Ingin rasanya ia melayang ke angkasa. Bersama dayang-dayang langit. Oh Tuhan, mimpi apa ia semalam?
Rahma tersenyum-senyum. Wajahnya terlihat sumringah. Ia terlihat amat bahagia. Kepalanya bertengger di tangan kanannya. Pandangannya lurus ke langit-langit kelas. “Ma.. Rahma.. Hello, RAHMA!” Deva membuyarkan lamunan Rahma. Rahma tersadar. “Kenapa sih kamu Ma?” tanya Deva yang bingung dengan sikap sahabatnya ini. Yang ditanya malah tersenyum lebar, memainkan ujung rambutnya. “Eh Va, kenapa sih cewek harus berjilbab?” pertanyaan Rahma sontak membuat Deva mengernyitkan kening. Kemudian tersenyum. “Agar mudah dikenali,” ujarnya singkat, memancing pertanyaan dari bibir Rahma. “Mudah dikenali maksudnya?” Rahma terpancing bertanya. “Agar mudah dikenali sebagai orang muslim. Dan juga, firman Allah, agar tidak diganggu. Karena biasanya orang berjilbab itu lebih disegani ketimbang yang memamerkan auratnya,” Rahma ber-‘oh’. “Dan juga kalau kita berjilbab kita akan canggung dan malu jika melakukan maksiat,” jelas Deva lagi. “Maksudnya?” Rahma menatap serius wajah Deva. Yang ditatap tersenyum lebar, lebih tepatnya nyengir. Merasa senang sahabatnya bertanya demikian. “Contohnya, kalau kamu nggak berjilbab kayak gini, kamu tentunya bisa bebas keluar masuk ke diskotik atau bisa bebas minum alcohol. Dan itu wajar- wajar aja kan. Tetapi kalau kamu berjilbab, pastinya kamu akan malu ketika keluar masuk diskotik. Malu sama Allah, malu juga sama jilbab,” Deva menjelaskan panjang lebar. Gaya bicaranya menyerupai Bccu Nur guru Agama. Ia membenarkan letak jilbabnya. Rahma ber-‘oh’ LAGI. “Hmm emang aku cantik ya, Va kalo pake jilbab?” pertanyaan Rahma tentu membuat dahi Deva mengkerut dan mengundang senyuman manisnya. “Tentu. Cewek itu rata-rata lebih cantik kalau berjilbab,” Mata Rahma berbinar. “Nanti temenin aku beli jilbab ya? Mau kan?” Deva terdiam sejenak. Sahabatnya ini benar-benar terlihat aneh. “Kamu kenapa sih, kok jadi tiba- tiba pengen berjilbab? Baru kemarin lusa kamu bilang belum mau,” Deva menatap aneh Rahma. Ada perasaan curiga di hatinya. Rahma pun menceritakan kejadian kemarin. “Beuh.. berarti kamu berjilbab karena manusia, bukan karena Allah,” cibir Deva. Rahma meringis. “Nggak kok, aku kan emang dari dulu udah niat mau pake jilbab. Tapi aku belum siap aja. Nah sekarang aku udah siap. Kan katanya jilbab itu wajib,” ujarnya. “Ehem, waktu itu aja keras kepala bilang jilbab itu sunnah lah, sekarang..,” cibir Deva lagi. “Ah gimana sih kamu tuh, sahabatnya mau berjilbab bukannya didukung,” Rahma menepuk bahu Deva. Cemberut manja. “Aku sih ngedukung. Tapi, kamu berjilbabnya karena Allah dong, Rahma cantiiik,” Deva mencubit gemas kedua pipi Rahma. “Iya, aku berjilbab plus-plus kok. Karena Allah dan..,” Rahma tersenyum manis. Wajah tampan pangeran Adi melintas dalam benaknya. Ah, dasar Rahma.
Mata Rahma menyusuri rak demi rak jati tua, menatap satu persatu buku-buku yang masih berselimut plastik. Lantunan musik dari seorang penyanyi yang sekarang sedang tenar-tenarnya, diputar menemani para pelanggan toko buku. Bibir Rahma bergerak-gerak, mengucapkan lirik lagu yang sedang diputar itu. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, mengikuti irama. Ia sedang mencari beberapa novel. Pastinya sebuah novel yang dikemas untuk para remaja. Satu jam telah terlewati. Tiga buah buku sudah berada dalam genggamannya. Kini, tiba saatnya ia melakukan transaksi kepada penjaga kasir. Ia berjalan menuju kasir itu tiba-tiba, “Maaf, kamu Rahma bukan?” seorang pemuda tampan mendekati Rahma dari arah kanan. Rahma yang terkesiap akan kedatangan pemuda tampan itu menoleh. Seketika ia terpesona oleh wajah pemuda yang teduh itu. Ia bagaikan disapa oleh seorang pangeran. “Eh..a..i..iya..kok tahu?” tanyanya salah tingkah. Pemuda itu tersenyum lembut. Membuat Rahma makin terpesona. “Kamu lupa? Aku Adi, temen SD mu dulu,” ucapnya. Rahma terhenyak. Baru menyadari, “oh..i..iya..a..abis kamu beda banget,” Rahma meringis. Tersenyum kecil. Tingkahnya makin kaku. Pemuda bernama Adi itu tertawa kecil. “Tapi kamu nggak berubah banyak ya,” ujarnya. Rahma tersipu. Pipinya merah merona. Beberapa saat mereka berbincang-bincang. Mengingat kembali zaman SD nya. Ah, nostalgia. Perlahan rasa canggung Rahma luntur. Ia asyik berbincang dengan Adi. Terkadang mereka tertawa atau Rahma cemberut manja saat Adi mengingat kelakuan konyol yang pernah dilakukan Rahma. Ada rasa sreg di hati Rahma terhadap Adi. Perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul.
“Oh ya, kamu ke sini beli buku apa?” tanya Adi. Rahma menoleh ke buku-buku dalam genggamannya. Menunjukkan di depan dada. Adi mengangguk sambil ber-‘oh’. “Kamu sendiri?” Rahma melirik buku yang ada di dalam genggaman Adi. Tertulis dengan huruf sambung, Mengapa wanita harus berjilbab. Rahma tersentak membaca judul buku dalam genggaman Adi. ‘kenapa dia beli buku itu??dia kan cowok..’ gumamnya. “Hmm..ini, aku ada tugas dari guru agama, disuruh buat artikel tentang wajibnya wanita berjilbab. Lagian aku juga pengen tahu kenapa wanita diwajibkan berjilbab,” jelasnya sambil tersenyum amat teduh. “Oh,” ucap Rahma singkat. “Ngomong-ngomong kapan nih kamu berjilbabnya?” Adi mengeluarkan pertanyaan yang membuat Rahma bagai disambar petir. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu. “Ee..mm..a..anu..udah ada niat sih..mm..tapi nanti aja deh,” Rahma menunduk. Ia merasa amat malu sekali. Kemarin sahabatnya juga berkata demikian. “Loh, kenapa nanti? Bukannya jilbab itu wajib untuk kaum hawa? Tunggu apa lagi?” lama kelamaan pertanyaan Adi persis seperti yang diucapkan Deva kemarin. “Hmm.. iya sih, tapi aku aja baru tahu kemarin jilbab itu wajib,” saking kencangnya jantung Rahma berdegup, semakin aneh jawaban dari mulutnya. “Tuh kan kamu saja sudah tahu, kenapa tak melakukannya?”Adi seperti sedang mempengaruhi Rahma. Sedangkan Rahma merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu. “Nggak tahu deh. Mungkin nanti kalau udah dapet jodoh,” ujarnya. Adi menggeleng. “Kenapa? takut nggak laku ya? ah, itu pikiran kamu saja. Aku sebagai salah satu kaum lelaki, justru lebih suka kepada wanita yang menutup auratnya ketimbang yang mempertontonkan aurat atau yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai perhiasan wanita,” Adi sudah seperti ustadz yang sedang menceramahi santri-santri ketika melakukan kesalahan. ‘Ah,apa urusan dia menyuruhku berjilbab? Itu kan sesuai orangnya, huh! Dia tak ada bedanya dengan Deva’. “Tak tahulah Di, nunggu hidayah dari Allah. Udah ya aku pamit dulu. Bye,” Rahma berjalan menjauhi Adi. Ia merasa gerah dengan pertanyaan dan ceramahannya. Baru kemarin Deva memintanya berjilbab, sekarang datang lagi pangeran berkepribadian ustadz “Eh, tunggu Ma..,” Adi mencegah Rahma yang sudah berjalan menjauh darinya. Tidak seperti yang ada pada sinetron-sinetron zaman sekarang. Mencegah sambil menarik lengan wanita. Adi cukup memanggil saja, Rahma sudah menoleh. “Maaf, aku nggak bermaksud ceramahin kamu. Aku cuma pengen kamu terlihat sempurna aja. Karena sayang sekali kecantikan yang kamu miliki ini, bisa terlihat oleh orang-orang kapanpun dan dimanapun. Dan sebenarnya aku cuma mau bilang, ‘kamu cantik sekali kalau berjilbab.’ Ya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum,” kini Adi yang menjauh dari Rahma yang berdiri kaku. Kakinya sukar sekali digerakkan. Ia bagaikan seorang putri yang baru saja dilamar seorang pangeran. Bahkan bibirnya pun sulit tuk menjawab salam Adi. Ia benar benar tersanjung. Wajahnya sempurna memerah. Hatinya berdegup cepat. Ingin rasanya ia melayang ke angkasa. Bersama dayang-dayang langit. Oh Tuhan, mimpi apa ia semalam?
Rahma tersenyum-senyum. Wajahnya terlihat sumringah. Ia terlihat amat bahagia. Kepalanya bertengger di tangan kanannya. Pandangannya lurus ke langit-langit kelas. “Ma.. Rahma.. Hello, RAHMA!” Deva membuyarkan lamunan Rahma. Rahma tersadar. “Kenapa sih kamu Ma?” tanya Deva yang bingung dengan sikap sahabatnya ini. Yang ditanya malah tersenyum lebar, memainkan ujung rambutnya. “Eh Va, kenapa sih cewek harus berjilbab?” pertanyaan Rahma sontak membuat Deva mengernyitkan kening. Kemudian tersenyum. “Agar mudah dikenali,” ujarnya singkat, memancing pertanyaan dari bibir Rahma. “Mudah dikenali maksudnya?” Rahma terpancing bertanya. “Agar mudah dikenali sebagai orang muslim. Dan juga, firman Allah, agar tidak diganggu. Karena biasanya orang berjilbab itu lebih disegani ketimbang yang memamerkan auratnya,” Rahma ber-‘oh’. “Dan juga kalau kita berjilbab kita akan canggung dan malu jika melakukan maksiat,” jelas Deva lagi. “Maksudnya?” Rahma menatap serius wajah Deva. Yang ditatap tersenyum lebar, lebih tepatnya nyengir. Merasa senang sahabatnya bertanya demikian. “Contohnya, kalau kamu nggak berjilbab kayak gini, kamu tentunya bisa bebas keluar masuk ke diskotik atau bisa bebas minum alcohol. Dan itu wajar- wajar aja kan. Tetapi kalau kamu berjilbab, pastinya kamu akan malu ketika keluar masuk diskotik. Malu sama Allah, malu juga sama jilbab,” Deva menjelaskan panjang lebar. Gaya bicaranya menyerupai Bccu Nur guru Agama. Ia membenarkan letak jilbabnya. Rahma ber-‘oh’ LAGI. “Hmm emang aku cantik ya, Va kalo pake jilbab?” pertanyaan Rahma tentu membuat dahi Deva mengkerut dan mengundang senyuman manisnya. “Tentu. Cewek itu rata-rata lebih cantik kalau berjilbab,” Mata Rahma berbinar. “Nanti temenin aku beli jilbab ya? Mau kan?” Deva terdiam sejenak. Sahabatnya ini benar-benar terlihat aneh. “Kamu kenapa sih, kok jadi tiba- tiba pengen berjilbab? Baru kemarin lusa kamu bilang belum mau,” Deva menatap aneh Rahma. Ada perasaan curiga di hatinya. Rahma pun menceritakan kejadian kemarin. “Beuh.. berarti kamu berjilbab karena manusia, bukan karena Allah,” cibir Deva. Rahma meringis. “Nggak kok, aku kan emang dari dulu udah niat mau pake jilbab. Tapi aku belum siap aja. Nah sekarang aku udah siap. Kan katanya jilbab itu wajib,” ujarnya. “Ehem, waktu itu aja keras kepala bilang jilbab itu sunnah lah, sekarang..,” cibir Deva lagi. “Ah gimana sih kamu tuh, sahabatnya mau berjilbab bukannya didukung,” Rahma menepuk bahu Deva. Cemberut manja. “Aku sih ngedukung. Tapi, kamu berjilbabnya karena Allah dong, Rahma cantiiik,” Deva mencubit gemas kedua pipi Rahma. “Iya, aku berjilbab plus-plus kok. Karena Allah dan..,” Rahma tersenyum manis. Wajah tampan pangeran Adi melintas dalam benaknya. Ah, dasar Rahma.
‘Wahai
Nabi, katakanlah pada istri-istri mu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri
perempuan mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka,” Yang demikian itu, agar mreka lebih mudah dikenali, sehingga mereka
tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.’( Q.S. Al-Ahzab : 59)
By: Arifatun Niswah – 9 Khodijah.
Tegar
Nada khansa Ramadhany
Haii!
Nama ku filana. Aku seorang murid sebuah sekolah menengah pertama di Jakarta.
Mungkin bagi banyak remaja, masa-masa remaja adalah masa yang paling
menyenangkan. Tapi tidak bagi ku……..
“ihh
… serem mah!!” seru andi yang langsung berlindung di balik punggung ibu nya.
“kamu kenapa sayang?” “itu mahh , kakak itu wajah nya mengerikan, “
“Ih!!!
Lana kenapa kamu nangis??? Kamu cengeng banget sih na !! kamu gak boleh nangis
terus.. kamu harus tetep kuat !! okeh?? “
“Lana
!!” seru Fita. “hah? Iya? Kenapa fit?” “ngapain tadi kamu ngomong sendirian?
Awas tar kesambet , baru tau rasa ! eh eh kok mata kamu merah?” “ah enggak kok
, tadi kelilipan hehe” “Yaudah masuk yuk ! “ “oh iya iya”.
“eh
eh tau gak? Lana anak 8-a??” “tau tau kenapa dia?” “ih gila jerawat udah kayak
peliharaan di muka nya” “oh iya iya betul banget gila jijik banget liat nya”
“eh eh tuh orang nya !” “idihh gilaa hari gini jerwatan … sorry ya !”
“hahahahahaha” “ihh kabur! Hahaha pengecut dia hahaha” “bagus ! udah sono pergi
aja.. urusin tuh jerawat ! hahahaha “
“hhh
hhh kenapa ya alloh? Kenapa? Kenapa harus aku ya alloh yang mengalami ini? Apa
salahku ya alloh? Hhhhhh hiks hiks ARRGHHH ! hiks hiks”
“Allah
telah memilih kamu untuk mendapat cobaan itu, allah saying sama kamu. Dia mau
agar kamu jadi orang yang tegar dan kuat”
“tapi
nek… Lana selalu di ejek-ejek , Lana selalu di rendahin sama orang-orang nek…
Lana capek nek Lana capek…hhhh”
“dari
situlah kamu harus mengambil hikmah nya , dari semua ejekkan cacian itulah kamu
tumbuh jadi orang yang kuat…. Ingat pesan dari nenek kamu harus tekek budeg”
“tekek
budeg? Apaan tuh nek?”
“kamu
jangan pernah peduli dengan kata-kata orang yang selalu mencela kekuranganmu,
bangkit dan buktikanlah pada mereka bahwa kamu gak cuma punya kekurangan tapi
kamu mempunyai sebuah kelebihan yang dapat sedikit menutupi tapi tidak
menghilangkan kekuranganmu”
“tapi
nek.. apa kelebihanku?” “semangat dan senyum itu kelebihan kamu”
“hahaha
nenek bisa aja.. aku jadi semangat lagi nek.. makasih nenekku ter-cintaaa”
“huh!
Giliran di puji aja baru bilang nenek ter-cinta” “hahahahaha”
“SEMANGAT!!”
“ “SEMANGAT!! Nek tapi jangan lupa senyum nya dong !”
“hahaha
iya iya SEMANGAT dan ter SENYUM! Hahaha”
Kadang
aku sering lupa , di antara sekian banyak orang yang menghinaku, masi ada
orang-orang yang tulus menyayangiku apa adanya… terima kasih ya alloh kau telah
memberikanku cobaan agar aku menjadi orang yang kuat. Terima kasih juga karena
engkau mengirimku malaikat-malaikat ini untuk menemaniku dan menghiburku dan
selalu mengingatkan ku untuk terus semangat dan tersenyum… Terima kasih ya
alloh….
Di
warnet
“heum
cara ngilangin jerawat…cara ngilangin jerawat..nahh ini diaa” “gunakan masker
putih telur secara rutin ke wajah anda” “hemm boleh juga tuh”
Di
rumah
“Lana
! Lanaaa ! Lanaaa !” “iya nek?” “Lana .. muka kamu kenapa ?” “hehe
masker putih telor ini nek nama nya ! biar ngilangin jerawat-jerawat” “ckckck
ada-ada aja sih kamu” “tunggu nek….. PERIIH PERIIH nenek !!!” “Lanaa Lanaa
..gimana nenek juga bingung harus apa???” “AIR nek AIR !!” “ck ck ck Lana
Lana!”
“Lana
!! muka kamu di kasi apa lagi???” “oh.. ini masker tomat nek !” “heh! Kok malah
makin merah jerawat-jerawat nya??” “HAH??! Iya nek??? , waduhh gawat !” “ckckck
ada-ada aja kamu “
Di
sekolah
“Heh
miss J !!” seru Rika “hahahahahahaha” “gak malu apa, muka lo tuh udah kayak
bulan … banyak kawah nya !! hahahaha mana ada cowo yang mau ama lo ! hahaha”
“bisa
diem gak sih tu mulut???” akhir nya aku angkat bicara “kalo sirik bilang ! gak
usah pake acara ngata-ngatin orang !” “lo mau jerawat ?? neh gue kasih gratis
!!” “mentang-mentang muka lo mulus kayak jalan tol, tapi gak usah sombong
dong!!” “inget Rik .. kecantikan seseorang gak akan bertahan lama ! dan orang
jelek pun gak selamanya jelek terus, ngerti???!!”
Akhirnya
Rika dkk. Ngacir terbirit-birit hahahaha . Emang orang cantik aja yang boleh
bahagia?? Bahagia sama sukses juga milik orang yang muka nya kayak aku kali….
Aku
dapet banyak banget hikmah dari semua ini . Pertama, kita harus tetep sabar
sama cobaan yang di berikan sama Allah. Karena dengan cobaan itu kita jadi
kuat. Kedua , jangan pernah dengerin ejekkan dari orang-orang di sekitarmu,
enjoy and have fun aja dalem hidup dan yang terpenting kamu gak kayak mereka
yang kurang kerjaan banget ngejek kekurangan orang lain. Ketiga meski banyak
orang yang menghina mu percayalah walaupun hanya sedikit masi ada orang yang
mau menyayangimu apa adanya, butalah mereka bahagia sebagai tanda terima kasih
darimu atas kasih saying yang tulus kepada mu. Dan yang terakhir…… yakinlah
kamu bisa melewati cobaan itu, karena gak selamanya orang akan hidup dalam
kesusahan dan penderitaan , suatu hari nanti, pasti keajaiban dan kebahagiaan
akan datang padamu…. Teruslah percaya dan menungu kawan ……..
3
bulan kemudian…
“Lana????”
“Oh
iya? ada apa?”
“Kamu
Lana?? Beda banget???”
Selesai

Sungguh
senangnya dan bahagianya hidup kita jika kita mempunyai sahabat, ya aku
mempunyai sahabat yang sannggaatt baik dan perhatian dan juga selalu ada di
saat aku membutuhkannya..
Nama sahabatku
adalah Alfia Reza Komala, sungguh aku sangat beruntung mempunyai sahabat
seperti Alfia….
Tetapi
kejadian itu telah mengubah semuanya menjadi sangat buruk….
Semua itu
berawal dari…
“hay,
Alfiaa..!!! “
“hay, juga
Sarah.. !!!
“ oh ya, kita
jalan jalan yuk.. bosen bangett nihh aku abis ulangan matematika hadduuh susah
banget dehh… L
“
“ ohh ya udah
sabar aja cantikk.. J
daripada ngedumel mendingan langsung aja yuk kita ke taman biasa kita bertukar
cerita.. jangan lupa juga bawa si apple.. oke ??”
“siipp beress
udah ada nih di tas aku..”
Kami pun
berjalan selama 10 menit dari sekolah menuju Friendship garden. Sebenarnya nama
taman itu bukan Friendship Garden tetapi Taman bunga, Friendship Garden adalah
sebutan dari kita, karena di taman itulah kita bertemu dan memulai
persahabatan. Hal yang biasa kita lakukan di Friendship Garden adalah bertukar
cerita dan menulis apa yang kita rasakan hari ini di apple. Apple adalah sebutan
untuk buku diary kita bersama. Aku selalu ingin tertawa mendengar istilah
istilah yang kita berikan untuk sesuatu yang sangat berkesan.
Setelah kita
bermain sepuasnya dan berbagi cerita sepuasnya kita pun pulang ke rumah masing
masing, rumahku dan rumah Alfia hanya beda komplek saja. Kita pun sering
berangkat sekolah dan pulang sekolah bareng. Jadi tak heran kalau kita
terlambat pun bareng. Hahaha.. kocaknya persahabatan ku ini.. sungguh aku ingin
kejadian ini terulang kembali..
“wahh ternyata
si apple tinggal 1 halaman lagi, harus beli ini .. ya sudahlah besok aku akan
membelinya ke toko buku bareng Alfia.. “ gumamku dalam hati
Besoknya…
“ Alfia..!!
kita harus beli apple yang baru nih.. “
“memangnya
kenapa Sarah ?? “
“ si apple
tinggal 1x curhat lagi nih.. “
“ ohh, ya
sudah nanti kita beli pas pulang sekolah ya.. oke ? “
“oke deh.. “
Sepulang
sekolah….
Aku dan Alfia
pergi ke sebuah toko buku dekat sekolah, sebenarnya sih gak dekat dekat banget,
kita harus naik angkutan umum sekali.. hehe..
Ini ketiga
kalinya kita beli si apple, persahabatan kita baru 2 tahun lamanya.. tapi
serunya dan asiknya kayak yang udah 5 tahun sahabatan.. hohoho.. lebaynya
saya..
Sesampainya di
toko buku…
“ Sarah..!!
mau yang mana nih ?? bagus bagus semua.. bingung jadinya.. “
“ iya nih aku
juga bingung, Al !!“
Akhirnya
setelah 10 menit kita mempertimbangkan dan memilih milih. Kita pun memilih
apple yang berwarna biru muda campur ungu gitu deh.. lucuuu bangeet
pokoknya.. J
“Al, aku masih
mau nyari buku lagi..”
“ya sudah cari
saja.. aku tungguin.. “
“beneran nih
gak apa apa ?? “
“ gak, sok
aja, Sar “
Selagi aku
memilih milih..
“Sar, aku mau
keluar dulu ya.. ada kucing lucu aku mau temenin dia dulu ya.. oke ? “
“hahaha dasar
Alfia, kalau kucing cepet banget deh responnya…ya udah temenin tuh kucingnya..”
“oke deh,
makasih ya Sar, aku keluar dulu..”
“sama sama”
Setelah
mendapatkan buku yang aku cari, aku pun membayarnya ke kasir.
Waktu aku
sedang mengantri di kasir, terlihat oleh ku banyak orang yang sedang
mengerumuni sesuatu.
Aku pun
langsung mendekati kerumunan itu, dan aku sangat terkejut ternyata..
“alfiaaa..!!!!!!”
teriakku histeris sambil menangis dan mendekati tubuhnya yang penuh darah
Segera
ambulance datang dan menuju rumah sakit..
Langsung saja
Alfia dibawa ke ruang UGD.. aku langsung menelfon orang tua Alfia.
10 menit
kemudia orang tua Alfia pun datang….
“ apa yang
terjadi Sarah ? “ Tanya mamah Alfia penuh cemas
“ tadi itu.. “
“jadi gini
tante, tadi Arya melihat Alfia sedang bermain bersama kucing, tiba tiba saja
kucing itu lari, Alfia langsung ngjar, tetapi Alfia tidak sadar kalau ada mobil
yang sedang melaju kencang. Dan saat itu juga, Alfiaa… langsung tertabrak.. “
jelas Arya yang melihat kejadian itu.
Langsung saja
diriku dan orang tua Alfia terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit..
Aku sangat
cemas dengan keadaan Alfia.. aku takut terjadi apa apa sama diri Alfia. Aku
belum sanggup kalau harus kehilangan sahabat.
Tiba-tiba
dokter keluar..
“dok, gimana
kabar anak saya dok ? “ Tanya mamah Alfia
“ Alfiaa..
eee… Alfiaaa… “
“ apa dok ?
kenapa dengan Alfia ? “
“ Alfia
terkena.. “ ucap dokter dengan ragu
“ apa dok ??
cepat katakan!! “
“ Alfia
terkena amnesia parah bu, akibat benturan di kepala yang cukup hebat. “ ucap
dokter
“ apa ?
amnesia parah dok ?? “ aku terkaget
Aku kaget
sangat kaget, aku takut dia lupa akan semuanya, lupa tentang dirinya, lupa
tentang kehidupannya. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap semuanya akan
baik baik saja.
Kemudian, aku
pamit kepada orang tua Alfia untuk kembali ke rumah.
Besok pasti
aku akan menjenguk Alfia lagi sepulang sekolah.
Besoknya
setelah pulang sekolah…
Aku menjenguk
Alfia dan membawa semuabarang barang yang bisa membantu Alfia untuk bisa
mengingat sedikit sedikit kehidupannya kembali. Aku berharap ini semua bisa
membantu. Aminn.. J
Sesampainya di
rumah sakit aku langsung menuju kamar dimana Alfia dirawat.
“Alfiaa….!!!!
“
“ siapa ya
? “
“ ini aku
Sarah.. sahabat kamu.. J
“
“ Sarah ?
sahabat ? kapan ? saya gak kenal kamu ! “
“ iya, kamu
itu gak kenal aku karena kamu terkena amnesia, Al “
“ tapi aku gak
kenal kamu..!!! “
“ kamu ingat
apple ? ingat garden friendship ? “
“hahaha nama
yang aneh “ ucap Alfia melecehkan
“ kamu kok
gitu sih ? itu kan kita bersama yang buat nama itu..! “ucapku penuh kesal
“apa kata kamu
? bersama ? kenal kamu aja gak..!! “
“Alfiaa kamu …
“
“apa ?? aku
kenapa ? hahaha sudah sana keluar..!! mengganggu.!! “
“ya sudah aku
tinggalkan apple disini.. biar kamu ingat semuanya “ ucapku sedih campur marah
“gakk.!! Buku
lusuh kayak gitu mau dikasih ke aku ? miskin..!! “ bentak Alfia
“Alfiaa..!!
aku gak nyangka ya kamu kayak gini..” ucapku kesal
“ hahaha.. “
Aku pun keluar
dengan membawa kembali apple. Perasaanku sungguh sakit. Aku gak nyangka Alfia
kayak gitu.. mungkin emang harus butuh proses. Aku harus sabar. J
Hari
berikutnya dan berikutnya aku terus mencoba dan mencoba lagi. Tapi hasilnya
nihil yang ada aku hanya dibentak dan dimarahi, dan aku bertekad cukup sampai
hari ini saja aku datang.
Aku pun
memberanikan diri untuk masuk ke kamar Alfia.
Alhasil dia
marah marah lagi..
Ya sudah
niatku hanya ingin memberikan apple ke dia..
Aku sudah
menamatkan 1 lembar yang hampir habis itu dan sekarang sudah habis..
Dan Alfia pun
menerimanya…
“Sarah..
tunggu.. aku ingin membaca ini semua…”
“iya silahkan
saja..” kataku lemas
Alfia pun
mulai membaca..
Dan ternyata
dia …..
“hahaha kata
kata murahan..!!! “ sambil membanting si apple
“maksud kamu
apa sih, Al ?
“iya.. bahasa
lo rendahan !!! “ tertawa
Aku pun
meninggalkan Alfia, dengan hati yang sungguh amat sangat benci..
“jangan pernah
ya lo datang ke sini lagi !! “
“iya.. karena gue gak bakalan mau liat muka lo
lagi..!! bentak ku
“ hahaha..
emang gue mau apa ? “
Aku pun
membanting pintu kamar rawat Alfia..
Aku pun
langsung berlari sambil menangis menuju friendsip garden.
Aku duduk
termenung dan membaca kembali apple dan membuangnya.
Aku sudah
ingin melupakan persahabatan yang sangat amat menyakitkan….
Karya : Ayu Rizka Pratiwi
IX
Maryam
Sahabat
Siti
Utami
“Bangun-Bangun ayo cepetan-cepetan ke masjid solat
subuh,nanti kamu telat loh”,salah satu temanku membangunkanku dari mimpi.Ketika
kuingat-ingat hari ini aku kesiangan lagi,selalu seperti ini sih setiap hari
senin seingatku aku selalu bangun setelah azan subuh padahal malam sebelumnya
aku sudah berniat untuk bangun sebelum
shubuh,banyak yang mau kulakukan shaum senin kamis misalnya atau untuk
qiamiullail,jadi hari ini aku ga sempat untuk melakukan keduanya.Pagi ini aku sudah
merasa lemas rasanya kecewa gitu ga bisa bangun pagi-pagi di hari
senin.Buru-buru aku pergi masjid berharap aku ga telat soalnya,kalau sampai aku
telat hukuman untuk jadi penulis akan menungguku ,kalau dah kayak gitu males
deh rasanya (Menulis satu halaman al-qurankan lumayan)
Selesai solat aku
langsung pergi ke bangsal untuk mandi, harus langsung soalnya kalau tidak bisa
gawat selain telat ,bisa-bisa nanti aku kehabisan air.sehabis mandi aku
langsung bersiap-siap memakai seragam menyiapkan buku merapikan kamar dan
jangan lupa untuk piket setelah semuanya selesai baru bisa beranjak ke
sekolah.Agenda hari senin itu padat banget, cape yang pasti nyasih bikin males
banget.Agenda ini di awali dengan tahfiz pagi baru setelah itu aku belajar di
sekolah sampai nanti siang jam setengah dua.Di sekolah rasanya ga ada yang
menarik berjalan begitu saja hingga bel yang di tunggu-tunggu berbunyi
TET..TET..TET...akhirnya pulang juga.Semua orang langsung berhamburan ke luar
dari kelas masing-masing berjalan menuju asrama.
Hari ini panas
sekali meskipun sudah jam setengah dua siang, matahari hari ini sangat terik
ingin rasanya langsung sampai di kamar,walaupun jarak dari sekolah ke asrama
tidak terlalu jauh.Aku jalan bertiga denagn kedua sahabatku, Noni dan
Moni,”ngomong-ngomong pesiar ini kalian pergi kemana?” tanya Moni kepadaku dan
Noni.”kalau gue sih ga tau bingung ga mau banyak berharap soalnya gue juga
belum ada yang jemput”jawabku lalu Noni juga berkomentar”iya nih gue juga bingung harus ke mana soalnya ortu gue
mah pasti ga bakalan jemput kalau cuman pesiar katanya ngabisin waktu di jalan
emang sih rumahnya di bekasi di jalan aja dah ngabisin waktu 4 jam sedangkan
pesiar cuman satu hari bikin cape aja”.”aha aku punya ide gimana kalau pesiar
ini kita main bareng ke rumah kamu” Moni menunjuk ke arahku,sadar aku di tunjuk
akupun spontan berkata”hah...ke rumah aku? Mmm gimana ya soalnya rumah aku mah
kecil lagian ga tau jugakan ada yang jemput atau engga? “ sponta Noni dan Moni
menjawab”enggak ko gamasalah mau rumah kau gede kek atau kecil kek itu mah ga
masalah”.aku berpikir kalau di pikir-pikir sih seru juga”ya udah deh nanti aku
tanya dulu”.horeeee.. mereka pun bersorak gembira.
Sore harinya di
atas kasur Noni kita ngobrol-ngobrol seperti biasa, karena sudah terlanjur
semangat sama rencana pesiar, kita ngomonging kegiatan yang bakalan kita
lakukan nanti ketika kita pesiar bareng,sekian lama mengobrol akhirnya semua
sudah di rencanakan dari mulai tempat-tempat yang akan kita kunjungi sampai
kostum yang bakalan kita pake semua perpect padahal pasti atau engaknya kita
pesiar bareng aja belum pasti. Moni...Moni..
Tiba-tiba Moni di panggil oleh salah satu teman nya keluar kamar , katanya sih
ada urusan penting banget,akhirnya aku dan Noni di tinggal berdua dan Moni
pergi entah kemana bersama temannya.
Ketika malam harinya aku pergi ke kamar
Noni, ternyata disana sudah ada Moni ia sedang mengobrol bersama aku pun
bergabung,terlihat oleh ku wajah Moni yang sembab dan lagi BT mungkin ada
sesuatu yang terjadi pada saat ia tadi pergi bersama temannya.tapi aku tidak
mengambil pusing menunggu Moni yang cerita kepadaku dahulu.
Di
tengah acara ngobrol kami,aku ingat aku belum belajar untuk ulangan harian
bahasa indonesia besok,aku memutuskan untuk belajar di kamar Noni supaya ada
yang menemani gitu,, karena aku berbeda kelas dengan mereka berdua aku pun
belajar sendiri di temani mereka yang mengobrol.beberapa waktu kemudian aku
mendengar Noni bertanya kepada Moni”tadi sore kamu ke mana?”lalu Moni
menjawab”enggak ga pergi kemana-mana”sepertinya Noni sangat penasaran maklum,
Noni sama Moni memang sangat dekat setiap rahasia Moni Noni pasti tau jadi
kalau ada satu hal yang dia ga tau penasarannya bukan main“Emang ngapain sih
kayaknya rahasia banget?” ujar Noni sekali lagi dengan nada yang sedikit memaksa,”ga
kok ga ada apa-apa lagian kalu ada sesuatu aku juga ga bisa kasih tau kamu”Noni
jadi makin penasaran ada apa sih”kalo ada sesuatu kasih tau dong!” “Moniku ini
menyangkut rahasia temen aku juga lagian nanti juga kamu bakal tau apa
masalahnya,masalah ini ga mungkin aku sembunyiin sama kamu jadi sabar aja pasti
aku kasih tau”nada bicara Moni juga sudah mulai kesal,”ya udah sekarang
waktunya udah tepat kok,,, kasih tau dong ayo kasih tau please? ya?ya?”Noni
maksa lagi ,hari ini emang kayaknya Moni lagi BT tiba-tiba iya membentak
Noni”GA BISA NONI SABAR DONG!!!!!” terlihat wajah Noni kaget ia langsung
merespon perkataan Moni denagn bentakan yang ga kalah dahsyat”Dasar lo?
Meskipun gue maksa jangan bentak-bentak dong!”Noni emang paling ga bisa di
bentak.”benci gue di bentak-bentak”lanjutnya lagi.Moni yang sedang BT itupun
membalas lagi”OK kalo lo benci gue,emang gue ga kesel sama lo?!”Moni pergi
keluar kamar .
Aku
yang sedari tadi belajar masih cuek sama pertengkaran mereka,mereka emang
sering berantem paling besok pagi mereka baikan lagi. Aku lanjutkan belajarku
malam itu.
Ternyata prediksi aku salah mereka belum
baikan sejak pertengkaran itu,hampir dua hari mereka bertengkar dan
saudara-saudara tahu kah anda karena Noni sedang bertengkar bersama Moni,
akulah yang menjadi korban kejahilan Noni ,Noni itu jahilnya emang ga
ketulungan, tapikan kalau biasanya,kejahilan Noni di bagi dua buat aku sama
buat Moni sekarang karena Noni lagi marahan sama Moni jadinya semua kejahilan
itu murni buat aku semua Hiks..hiks.. . Aku di ganggu habis-habisan dia jadi
sering banget main ke kamar aku padahal biasanya yang sering main itu aku ,ke
kamar Noni .tapi di balik semua itu aku bisa melihat wajah Noni emang rada
kesepian maklum yang paling sering berkunjung ke kamar Noni itu ya Moni,Karena
kasian sama Noni, aku sebagai sahabat yang baik menerima nasibku menjadi
pelampiasannya.
Hari
ini tanggal 15 November ada seorang sahabat Moni yang ulang tahun .Ketika sore
hari tiba aku melihat anak kamar Moni mempersiapkan sebuah kejutan untuk teman
kamarnya yang sedang ulang tahun itu. Aku melihat mereka membawa seember air
yang sudah di masukan berbagai bahan dari mulai tanah sabun,sampo sampai susu
basi ( menjijikan) ke tengah lapangan,setelah
beberapa waktu akhirnya kejutan itu sukses di jalankan aku melihat temanku yang
sedang ulang tahun itu di siram oleh air ramuan itu. Alhasil mereka jadi siram
-siraman semua anak kamar Moni basah kuyup.
Azan
magrib berkumandang anak kamar Moni itu pergi ke bangsal,begitupun dengan aku,aku
dan Noni pergi ke bangsal untuk berwudhu.Di bangsal ketika aku berjalan bersama
Noni aku di peluk oleh Moni yang saat itu sedang berada di bangsal “aku sayang
kamu” katanya kepadaku aku terheran-heran baru aku sadar ternyata Moni kan
basah kalau aku di peluk olehnya berarti nanti aku bisa basah juga spontan aku
berkata “ihh Moni jangan peluk - peluk jijik tau ,peluk juga dong Noni “ucapku
sekalian berusaha untuk mengakurkan mereka .Ternyata benar Moni mengikuti
perintahku mungkin ia juga tidak enak berlama-lama memusuhi Noni Moni
menghampiri Noni yang sedang berjalan Meninggalkan ku karena tadi aku sedang
mengobrol dengannya “aku juga sayanggg banget sama Noni maafin aku ya ? Waktu
itu aku Lagi emosi”katanya dengan nada merajuk manja. Noni berkata “iya-iya aku
tau tapi ga usah peluk-peluk juga kali aku tau waktu itu aku emang salah maafin
aku ya ,kita pelukannya nanti aja ya kalau kamu dah mandi aku harus solat
“Sambil senyum-senyum Noni meninggalkan Moni di bangsal untuk solat
magrib.Akhirnya berbaikanlah mereka coba dari dulu ada salah satu dari mereka
yang meminta maaf aku yakin mereka sudah berbaikan dari dulu mereka kayaknya
cuman termakan gengsi untuk meminta maaf.
Esok harinya semua
kembali normal Noni dan Moni sudah berbaikan . Hari itu aku teringat rencana
kami semua untuk pesiar bersama .Malam harinya ku menelepon orang tuaku untuk
meminta izin , bisakah orang tua ku untuk menjemput ku hari minggu nanti.aku pergi
ke kamar bunda untuk menelponku
~bu
tlpn aku ya cptn penting bgt~
Your lovely
daughter
Itu pesan ku supaya cepet gitu di teleponnya,dua menit
kemudian ibu meneponku”ada apa sih kayaknya penting bgt?”tanyanya dengan nada
sedikit khawatir “hehe gini bu aku sama temen aku mau pesiar tuh nah temen-
temn aku mau main ke rumah boleh ga bu”kataku langsung ke topik pembicaraan
“boleh tapi kamu mau ke sini sama siapa emang ada yang jemput kamu apa?”kata
ibuku”yah.... ibu baik deh tanya ayah dulu deh ayah bisa ga jemput aku,kalo
ayah pasti bisa jemput”kataku sedikit memaksa.”iya deh tunggu sebentar,ibu
tanya dulu ayah”ibu mengalah,beberapa menit kemudian “hei.. kata ayah bisa aja
sih tapi ayah paling suruh supir kantor untuk jemput kamu ga apa-apakan lagian
kamu juga sama temen kamu ya udah kalo gitu nanti berarti ibu harus masak apa
kalau ada temen kamu?”aku berpikir sejenak “apa aja deh bu asal harus enak ya
udah kalo gitu makasih ya bu assalamualaikum....”ibu menjawab “waalaikumsalam”.
Akhir hari itu
berakhir bahagia esok aku akn memberi kabar gembira untuk moni dan Noni.Pagi
pagi sekali ketika solat subuh berakhir aku pergi menemui moni”Mon aku bisa di
jemput loh sama ortu ku minggu ini .gomana asik kan??” tanya ku semangat .tapi
pernyataanku itu malah membuat ekspresi muka moni ber ubah drastis deg.. aku
jadi herang apa aku salah ngomong ya harusnya ini kan jadi berita bagus buat
Moni “mmm.. gima bukannya aku ga seneng sih tapi ada hal yang aku sembunyiin
yang kamu ga tau “ aku malah tambah bimgung yang mana masalah pa sih, “masalah
apa sih? Lalu Moni menjawab “ ini berkaitan sama masalah aku yang waktu itu loh
masalah yang buat aku berantem sam Noni” oh iya aku baru sadar ,lalau maoni
berkata lagi”Nanti aja deh aku kasih tau kamu di sekolah ya sekalian kasih tau
si Noni” ia pergi meniggalkan aku yang masih penasaran masalah apa sih ,mana
dia juga belum kasih tau aku jadi ga dia ke rumah ku maksud aku awalnya kan
untuk bertanya soal itu.
Di sekolah saat istirahat di pojok kelas Moni aku ,Noni dan
Moni sedang berkumpul .semuanya masih diam dan moni membuka pembicaraan
kita,”mmm.. gini aku mau minta maaf sama kalian sebelumnya gini aku kayaknya
harus langsung ke titik pembicaraan kita aku itu kena sebuah kasus sebenernya
kasus ini dah lama banget tapi entah kenpa baru sekarang ni kasus di bahas
belum pasti juga sih apa hukuman nya paling baru nanti sore aku harus menggadap
komdis buat nentuin apa hukuman nya mudah-mudahan sih ga di SP”Noni terlihat
kaget iya langsung berkata”emang masalah tentang apa sih ? siapa aja
orang-orang yang kena?” Moni menjawab “ga cuman aku paling ada sekitar sepuluh
orang yang di panggil tapi ga semuanya masalahnya sam ada yang beda jdi gini ceritanya.......”berceritalah Moni
tentang masalahnya hinga Bel tanda istirahat berakhir berbunyi tet.. tet....
tet..”yah mudah- mudahan hukumannya ga berat dan aku masih boleh ke kuar asrama
“di akhirilah penbicaraan itu dengan sebuah harapan kita bisa pesiar bareng.
Setelah solat
magrib aku pergi ke kamar Noni aku sempat mengobrol sedikit dengannya tiba-tiba
Moni datang dan langsung memeluk Noni yang sedang berada di atas kasur aku dan
Noni kaget apa hukuman untuk kasus Moni berat? T,terdenagr suara isak Moni di
pelukan Noni,Kita berusaha menenangkannya setelah beberapa saat ia mulai
berbicara”aku ga kena Sp kok tenang aja “ia berkata seolah dia tau apa yang aku
sedang pikirkan “aku ken hukuman ga boleh keluar asrama sampai semester ini
berakrir aku juga harus membersihkan asarama ini selama 1 minggu denagn baik
kalo ga hukuman ini bisa di tambah “,”ya udah ambil sisi baiknya aja untung
kamu ga kena SP “aku berkata untuk menenangkan Moni “ia langsung berkata”tapi
rencanakita buat pesiar bareng gagal dong aku ga bisa ikut” Noni menjawab “ga
masalah kok kita batalin aj rencana tu kita temenn kamu disi “ Moni langsung
menjawab” ga apa-ap kok kalian ga boleh batalin rencana kalian harus tetap
pergi semua udah siapkan aku ga apa-apa kok di sini ga masalah “katanya.”ya
udah kita tetep pergi nanti aku beliin kamu oleh-oleh deh”kata Noni “iya” kata
Moni sambil tersenyum.
Akhirnya hari itu
tiba hari sabtu ini aku dan Noni akan pesiar tanpa Moni masih sedih rasanaya
tapi mau gimana lagi semua udah siap udah di erncanakan jauh-jauh hari.Hampir
semua orang pergi dari asrama maklum jadwal pesiar tidak boleh du sia-siakan
sehabis zduhur asrrama sudah sepi mungkin para orang tua sudah tidak sabar untuk bertemu
anak-anaknya,kasian Moni sam teman-teman yang lagi di hukum ga bisa pulang atau
main.
Jam 1 siang ini aku
sudah di jemput sebelumnya kami sudah sia-siap jadi begitu aku di jemput aku
langsung memberi tau Noni sebelum berangkat tidak lupa aku berpamitan dengan
Moni .”sabar ya Mon kita pasti bawa oleh –oleh buat kamu” kata Noni tapi Moni
hanya tertawa “santai aja kalinikmatin tuh pesiarnya” Moni mengantar kita ke
pintu mobil “dahh ....”seru aku dan Moni sampe ketemu besok.
Banyak yang kami
lakukan di rumah ku yang pasti harus happy hari minggu itu sebelum pulang kami
tidak lupa untuk membeli oleh-oleh buat Moni ,kami mampir dulu di mal damn
akhirnya setelah memilih-milih aku dan Noni memutuskan untuk membeli sebuah
kaos pendek yan lucu pastinay untuk Moni.”Midah-muadahan Moni suka “ ujarku dam
Noni bersamaan.Sore hari setelah berjalan-jaln kami pulang ke asrama sekitar
pukul7 malam kita sampai di asrama.
Ternyata di balkon
ada Moni sedang mengobrol bersama teman nya “hei.. kalian akhirnya pulang juga
kok baru sampe malm . Mana nih oleh-olehnya ?”iya langsung membanjiri kami
dengan peranyaan-pertanyaannya “ “ia iya sabar kita beli kok buat kamu gimana
kalau kamu liatnya di kamar Noni aja”.
Dikamar Noni, Noni
langsung membongkar barang bawaan soalnya Moni sudah tidak sabar.ia memberikan
baju itu ketangan Moni “Nih oleh-olehnya suka ga?” begitu melihat Moni
tersenyum “kalin baik deh kalin emang sahabat akusebenernya tanpa di kasih
oleh-olehpun aku dah seneng ngeliat kalisn seneng”Terharu mendenagr perkataan
Moni, Noni pun langsung memeluk Moni aku pun tidak mau ketinggalan aku ikut
memeluk Noni dam Moni dan acara peluk-pelukan itu berlangsung agak
lama.ternyata semua ujian itu memang ada hikmahnya membuat kita sadar kalau
sahabat itu harus saling mengerti satu sam lain .persahabatan kita semakin ERAT.
~the end~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar