Ajarkan Kejujuran Melalui Jujur
UN 100%
Oleh Aan Kartini, S.Pd
Ujian Nasional (UN) merupakan topik yang menarik
dibicarakan kalangan dunia pendidikan
maupun di kalangan masyarakat. Walaupun
kata tersebut mengandung pro dan kontra, pada kenyataannya UN tetap saja
dilaksanakan. Seharusnya pemerintah
lebih membuka diri dengan turun ke bawah (turba) melihat langsung pelaksanaan
UN. Jangan sampai UN yang dilaksanakan
hanya sia-sia belaka, dikarenakan nilai UN bukan mutlak nilai murni karena
kerja keras peserta didik tapi kerja keras ‘tim sukses UN.’
Saya percaya pemerintah mempunyai tujuan yang bagus
dengan tetap dilaksanakannya UN, namun sayang masih banyak sekolah yang
mengotori kesucian dunia pendidikan dengan hal-hal yang negatif. Membantu
peserta didik dengan memberikan jawaban UN, misalnya. Walaupun hal tersebut
dilakukan oleh guru untuk menolong dan menyelamatkan peserta didik serta
membawa citra baik sekolah. Namun, yang
patut dipertanyakan adalah apakah itu merupakan hanya satu-satunya cara? Masih
banyak cara lain yang dapat guru lakukan untuk menolong peserta didiknya. Misalnya dengan memberikan tambahan belajar
baik itu dalam bentuk bimbingan belajar (bimbel), pemantapan, dll.
Guru digugu dan ditiru. Peribahasa Indonesia menyatakan
guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Artinya, apapun yang dilakukan
guru akan dicontoh oleh peserta didiknya, baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Terus yang menjadi
permasalahan di sini, ketika seorang guru menodai UN dengan memberikan
‘contekan’ kepada peserta didik, kira-kira apa yang akan dilakukan peserta
didik kita? Mungkin saja di jenjang pendidikan berikutnya anak didik kita akan
meniru apa yang pernah kita lakukan. Misalnya ketika di SMP, guru memberikan
contekan jawaban, secara tidak langsung anak didik akan berpikir, “oh berarti
boleh ya ketika ulangan saya memberikan jawaban kepada teman yang kemampuannya
di bawah saya. Kalau begitu ketika ulangan membuka buku juga boleh.”
Secara langsung atau tidak langsung ketika guru melakukan
hal itu, sama saja dengan mendidik siswa untuk berlaku tidak jujur dan tidak
percaya diri. Lantas bagaimana dengan pendidikan nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Dari tujuan pendidikan nasional di atas yang saya garis bawahi di sini adalah agar peserta
didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak
mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri. Lantas, ketika diberi bocoran soal dan jawaban, apakan tujuan
pendidikan nasional akan tercapai? Jawabannya sudah jelas pasti tidak. Walaupun
tidak menutup kemungkinan, hal tersebut dilakukan guru karena terpaksa agar
peserta didiknya lulus 100%. Jangan salah, ketika melakukan hal tersebut,
berarti guru tidak percaya kemampuan peserta didiknya. Satu catatan penting,
berarti guru menanamkan sikap dusta, tidak percaya diri (PD) dan bergantung
pada orang lain atau tidak mandiri.
Membentuk siswa yang beriman dan bertakwa kepada Allah
swt. merupakan tugas mulia seorang pendidik. Di mana pendidik harus mampu
merealisasikan defenisi takwa yaitu mengerjakan semua perintah Allah dan
menjauhi segala larangan Allah. Allah swt. memerintahkan kepada umatnya agar
berbuat jujur. Firman Allah dalam Al Qur’an surat At-Taubah: 119.
$pkr'¯»t úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#qà)®?$# ©!$# (#qçRqä.ur yìtB úüÏ%Ï»¢Á9$# ÇÊÊÒÈ’’
Hai orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Membentuk siswa yang berakhlak mulia bukan pekerjaan yang
mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja ekstra dari
seorang pendidik. Karena yang perlu ditekankan di sini adalah tugas seorang
guru tidak hanya mengajar dengan mentransfer pengetahuan, tetapi harus disertai
dengan mendidik peserta didik dengan akhlak mulia. Untuk mengajarkan ilmu, pendidik tinggal baca
berbagai sumber, kemudian ditransfer kepada peserta didik. Hasilnya peserta
didik cerdas karena memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Namun untuk mendidik,
peserta didik perlu figur panutan, contoh yang riil, teladan dari pendidik itu
sendiri untuk kemudian mereka tiru. Ketika guru memberikan contoh
ketidakjujuran, jangan heran ketika setiap hari banyak peserta didik yang
berbohong, mencari-cari alasan karena mencontek, tidak mengerjakan pekerjaan
rumah, dan sebagainya.
Saya yakin setiap guru pasti mengajarkan kejujuran dalam
keseharian kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun yang sangat disayangkan
pendidikan kejujuran yang pendidik terapkan selama tiga tahun, seolah-oleh
lenyap hanya karena perbuatan tidak jujur seorang pendidik selama empat hari
UN. Lantas, apa hasil dari pendidikan kejujuran yang pendidik terapkan dengan
susah payah selama bertahun-tahun? Sangat disayangkan jerih payah yang kita
lakukan untuk menanamkan sifat jujur kepada peserta didik akan sirna selama
empat hari.
Untuk itu, sebagai pendidik, marilah kita perkuat iman
dan takwa kita dengan mendidik para peserta didik dengan akhlak mulia berupa
kejujuran mulai dari kita sebagai pendidik yang dijadikan contoh atau teladan
bagi peserta didiknya. Tidak ada kata terlambat, UN 2010 harus jujur 100%.
Insya Allah dengan usaha dan doa kita semua, para anak didik kita akan lulus UN
100% tanpa campur tangan pendidik saat proses UN. Berikan keteladanan sifat
Rasul dengan sifat sidik (benar/jujur), niscaya anak didik kita akan berbuat
jujur. Katakan kebenaran itu walaupun
pahit. Sebagai pendidik yang beriman, kita tentu mempunyai target anak didik
kita lulus 100% dengan hasil memuaskan tanpa bantuan pendidik saat UN
berlangsung. Mari kita didik anak didik
kita! Masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.
*Penulis, guru SMPIT As-Syifa
Boarding School Subang
Terima Kasih, sudah Mengajarkan
Kami Kejujuran
Oleh Aan Kartini, S.Pd.
Mendengar singkatan UN, membuat peserta didik stres.
Apalagi ketika pelaksanaan UN tinggal menunggu hitungan hari, jam, bahkan
detik. Ketika UN tinggal satu hari lagi apa yang dirasakan peserta didik?
Sebagian besar dari mereka pasti mengatakan jantung serasa berdebar lebih
kencang. Kita tidak bisa menafikan kondisi tersebut, karena walaupun mendiknas menyatakan UN bukan satu-satunya tolok ukur kelulusan
siswa, kata UN membuat siswa ‘takut’. Apalagi
bagi siswa yang mau melanjutkan sekolah ke sekolah negeri yang mematok nilai UN
rata-rata 8,00. Kontan, kondisi tersebut membuat siswa semakin tertekan. Kondisi
seperti ini sudah saya rasakan selama lima tahun berturut-turut sejak saya
menjadi guru mata pelajarna yang di UN-kan dari tahun 2005.
Saya bisa melihat perubahan wajah anak didik saya sebelum
UN dan setelah UN. Hasilnya sebagian besar, sebelum UN mukanya kusut, jerawat
bermunculan di sana sini karena stres, keceriaannya berkurang. Namun ada sikap
positif dari sana kedewasaan mereka bertambah. Setelah UN muka mereka cerah,
ceria, berseri. Apalagi ketika ada surat kelulusan.
Tahun ini merupakan tahun kedua sekolah kami mengikuti
UN. Sekolah kami terbilang baru berusia 4 tahun saat ini. Bisa diibaratkan
sebagai sekolah yang masih berumur balita.
Ada yang mengharukan ketika UN pertama di sekolah kami dilaksanakan.
Perjuangan para guru dan pihak sekolah begitu gencar memberikan bimbingan
kepada anak didik kami. Rasa lelah guru-guru seolah-olah hilang begitu saja
ketika melihat anak didik kami begitu semangat dan serius mengikuti program pemantapan.
Rasa bosan terhadap soal dilawan kuat-kuat oleh para anak didik kami.
Rasa lelah itu seolah terbayar ketika pengumuman
kelulusan, ternyata anak didik kami lulus 98%. Mungkin dari sekolah lain ada
yang berpikir, segitu saja bangga, padahal ada 2% yang belum lulus. Kami patut
bersyukur kepada Allah swt., yang telah memberikan kesehatan kepada kami dan
mempermudah anak didik kami dalam menjawab soal. Prestasi yang melejit karena
98% itu hasil anak didik kami 100%, tanpa bantuan ‘tim sukses’ saat proses UN.
Saya akui mereka memang mempunyai potensi kecerdasan yang bagus disamping
mereka mempunyai hafalan Qur’an yang banyak.
Pengalaman yang mengharu biru pun datang. Malam itu ada
acara perpisahan siswa kelas IX yang menamakan diri dengan Angkatan Satu (Angkasa). Air mata tak dapat dibendung,
haru dan bahagia menyelimuti kalbu ketika ada perwakilan siswa kelas IX
membacakan sebuah puisi yang intinya “terima
kasih, sudah mengajarkan kami kejujuran.” Serasa ada butiran bening yang menetes ke hati
menyejukkan kalbu. Purna sudah tugas kami sebagai pendidik selama tiga tahun
yang ditutup dengan pelajaran akhlak. Pendidik dan anak didik dalam waktu yang
sama yaitu ketika UN mempraktikkan sikap jujur.
Hasilnya, terbukti ternyata anak didik kita akan jauh lebih bahagia
ketika UN dilaksanakan dengan jujur.
Satu catatan penting
menanamkan akhlak harus dengan contoh, bukan dengan teori. Teori tanpa praktik
sama saja nol. Ilmu tanpa amal sama dengan nol. Ibarat pohon yang tidak
berbuah. Rindang daunnya, menarik rupanya, namun tidak menghasilkan buah. Sama
halnya dengan orang yang berilmu, pintar orangnya, tapi ilmu yang banyak itu
tidak dipraktikkan.
Idealnya sebagai pendidik kita mau anak didik kita lulus
100% dan jujur 100%. Dan itu memang harus. Namun ketika dalam situasi yang
harus memilih lebih baik anak didik kita ada yang tidak lulus tapi jujur
dibanding lulus 100% tapi tidak jujur. Janganlah kita nodai jerih payah kita
menanamkan akhlak berupa kejujuran
selama tiga tahun dengan perbuatan oknum
pendidik dalam waktu yang singkat selama empat hari.
Mari kita sukseskan UN
dengan jujur 100%. Niscaya akan membentuk generasi muda yang sesuai harpan
pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Nb: Pesan untuk anak-anak bunda, mantan ‘Angkasa,’ gapailah cita-citamu
setinggi langit. Pertahankan sikap jujur itu di manapun kita berada!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar